
"Kamu jahat, Vin … berkali-kali kamu melukai aku," ucap Marsha dengan terisak.
Berapa banyak air mata yang Marsha teteskan kali ini, nyatanya masih saja menggoreskan luka yang teramat sangat di dadanya. Ada rasa nyeri yang menyeruak.
Luka dan darah yang terkena remote kontrol televisi rasanya memang perih, tetapi hatinya lebih perih saat ini. Diperlakukan seorang suami dengan sangat buruk membuat Marsha benar-benar tersedu-sedan.
Melihat darah di kening Marsha, Melvin menghela nafas kasar sembari hendak menyeka darah di sana.
"Sorry Yang, aku kelepasan," ucap Melvin.
Pria itu panik dan hendak mencari tissue yang mungkin saja bisa dia gunakan untuk menyeka darah di sana. Akan tetapi, Marsha dengan cepat menolak tindakan Melvin.
"Jangan sentuh aku!"
Marsha berteriak. Tak ingin lagi disentuh oleh Melvin.
Namun, melihat penolakan dari Marsha justru membuat Melvin kian meledak dalam amarah. Seharusnya dia bisa lebih tenang, tetapi kali ini justru Melvin menarik rambut Marsha. Menjambaknya, dan tangannya terangkat menampar wajah Marsha.
Plak!
Bunyi telapak tangan yang mengenai sisi wajah Marsha. Membuat sisi wajah Marsha itu memerah.
"Kamu bilang, supaya aku tidak menyentuhmu? Kamu mau kan aku bersikap seperti ini kan? Bagaimana pun aku suamimu. Aku berhak sepenuhnya atasmu!"
__ADS_1
Melvin berbicara dengan emosi yang menyala-nyala. Pria itu benar-benar berubah laksana bola api yang menggelinding dan tidak terkendali. Di puncak emosi seperti ini, Melvin tidak menyadari bahwa apa yang dia lakukan sangat melukai Marsha.
"Sakit … Vin," isak Marsha dengan memegangi pipinya.
Ya, secara fisik Marsha sangat kesakitan. Untuk semua yang telah terjadi kali ini, Marsha tak ingin lagi bertahan dalam rumah tangga yang sudah menyesakkan. Untuk apa bertahan jika suaminya sendiri dengan begitu teganya menyiksanya sampai sesakit ini. Luka di keningnya saja masih mengeluarkan darah di sana, sekarang sudah bertambah jambakan dan tamparan dari pria itu. Ini adalah luka yang bertubi-tubi. Luka bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental.
Memang benar bahwa suami memiliki hak penuh atas istri. Akan tetapi, bukan berarti menyalahgunakan hak penuh itu. Tidak pernah dibenarkan kekerasan dalam rumah tangga apa pun bentuknya. Suami dan istri selayaknya saling mengasihi satu sama lain. Jika ada permasalahan hendaknya diselesaikan dengan kepala dingin. Kekerasan dalam rumah tangga justru kian memperburuk masalah yang sedang dihadapi kedua pasangan. Juga akan kian menambah masalah baru yang kian runyam.
Wanita selayaknya mendapatkan perlakuan baik dari suaminya, dilindungi, bukan justru menjadi pelampiasan amarah seorang suami. Marsha menangis, benar-benar kesakitan dengan semua perlakuan suaminya. Sakit secara fisik dan sakit secara psikis karena diperlakukan dengan kasar oleh suaminya sendiri.
"Aku akan pergi," ucap Marsha kemudian.
Sebab, untuk menyelamatkan dirinya sendiri, Marsha harus pergi dari rumah Melvin sekarang juga. Sebelum Melvin kian murka dan bisa melukainya kapan pun. Jika bukan Marsha sendiri yang menyelamatkan dirinya siapa lagi? Bertahan di rumah ini dengan kondisi Melvin yang seperti ini sama sekali bukan keputusan yang tepat.
"Berani kamu melangkahkan kaki dari rumah ini, aku bisa berbuat lebih atas kamu!"
"Lakukan saja Vin, lakukan saja! Kamu melakukan semuanya sesuka hatimu, dan aku akan melakukan apa pun sesuka hatiku," balas Marsha.
Marsha berdiri, dan setengah berlari keluar dari kamarnya. Hanya membawa sling bag yang berisikan handphone dan dompet saja. Tidak membawa barang lainnya. Dengan cepat Marsha berlari tanpa mengenakan alas kaki, menuju ke mobilnya dan tujuannya adalah pergi segera dari rumah Melvin. Sebab, semakin lama dia bertahan, semakin menjadi-jadi pula sikap Melvin untuk menganiaya dan menyakitinya.
Melvin bukannya diam saja, pria itu juga berlari dan mengejar Marsha. Akan tetapi, sebelum dia berhasil menggapai Marsha, mobil yang dikemudikan Marsha sudah berhasil keluar dari pintu gerbang rumahnya.
Dengan dada yang kembang kempis usai berlari, Melvin berusaha menenangkan dirinya setelah itu Melvin kembali masuk ke dalam kamar dengan amarah yang masih melingkupi dirinya. Pria itu berteriak sembari menjambak sendiri rambut, benar-benar marah dengan semuanya yang telah terjadi. Pengkhianatan Marsha seolah membuat Melvin hilang akal. Pria itu sama sekali tidak mengira bahwa Marsha benar-benar bermain hati dengan pria lain di luar sana.
__ADS_1
Seharusnya Melvin bisa berpikir dengan tenang, mengurai letak kesalahannya satu per satu. Sebab, tidak mungkin Marsha akan bertindak seperti itu jika tidak ada pemicunya. Sudahkah dia menjadi suami yang selalu ada buat Marsha? Sudahkah dia menjadi suami yang meluangkan waktunya untuk Marsha? Dalam sehari, berapa kali pesan yang dia kirimkan kepada Marsha?
Namun, karena diliputi amarah, Melvin tak bisa memikirkan semua itu. Yang ada di kepalanya adalah pengkhianatan Marsha.
Sementara itu, Marsha melajukan mobilnya tanpa tujuan. Entah, kemana dia bisa pergi lama ini. Dengan luka di kening dan wajahnya, untuk cek in ke hotel juga pasti Marsha akan menjadi tontonan banyak orang. Sementara orang tuanya tinggal di Semarang.
Sampai akhirnya Marsha memarkirkan mobilnya di rest area di dekat jalan raya. Wanita itu terisak di dalam mobilnya, dengan menyandarkan kepalanya di stir kemudi.
"Aku tidak akan kembali kepadamu, Vin … semuanya ini sudah cukup. Kamu jahat, Vin. Kamu melukai aku sampai seperti ini," gumam Marsha dengan terisak.
Di dalam mobil yang hening itu, hanya isakan Marsha sajalah yang terdengar. Marsha terkesiap saat mendengar bunyi dari handphonenya. Wanita itu kemudian mengambil benda pipih yang tersimpan di dalam sling baunya itu. Kian terkesiap setelah melihat siapa yang menghubunginya sekarang ini.
"Abraham?" ucapnya lirih sembari menatap panggilan yang belum dia terima itu.
Marsha menyeka air matanya dan kemudian menerima panggilan seluler itu.
"Halo," ucapnya dengan lirih. Berusaha menetralkan tangisannya supaya tidak terdengar oleh Abraham.
"Halo Marsha, katakan kamu di mana … aku tahu, kamu pergi dari rumah kan? Kamu di mana sekarang Sha?" tanya Abraham.
Marsha mengernyitkan keningnya, dia sama sekali tidak tahu siapa yang sudah memberitahu Abraham sampai Abraham bisa tahu bahwa dia pergi dari rumah.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Marsha penasaran.
__ADS_1
"Ceritanya panjang, Sha … sekarang katakan dulu kamu di mana, aku akan menyusulmu," balas Abraham.
Di tengah kekalutan dalam diri Marsha sekarang ini, agaknya Marsha tidak ingin memberitahu Abraham. Tidak ingin membuat Abraham terseret dalam masalahnya. Namun, dia juga penasaran bagaimana bisa Abraham mengetahui bahwa dirinya kabur dari rumah. Ya Tuhan, semua ini membuat Marsha kian kalut rasanya.