Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Martabak Spesial


__ADS_3

Sore itu menjadi sore yang spesial untuk Marsha dan Abraham. Sekadar duduk di kafe yang berada di tepi jalan raya yang memang sedang hits. Mengamati gaya fashion anak-anak kekinian dan juga ada kalanya, mereka saling menggenggam tangan dan membangun obrolan yang hangat, sore itu terasa begitu istimewa. Sampai senja menyapa, terlihat rona jingga kekuning-kuningan di angkasa, tetapi area di Dukuh Atas itu masih saja ramai. Malam justru membuat anak-anak yang berlenggak-lenggok di zebra cross kian ramai saja.


"Habis ini pulang ya Mas ... sudah kangen sama unitnya kamu. Pengen rebahan," ucap Marsha.


"Iya, sudah seharian juga kamu keluar. Belum rebahan kan? Jadi pasti pinggang kamu sakit kan?" tanya Abraham.


Terlihat Marsha yang menggelengkan kepalanya, "Enggak ... pinggang aku biasa saja sih, cuma kangen sama kamar kita. Aneh ya Mas ... aku rasanya betah banget tinggal di unit kamu itu," aku Marsha dengan jujur.


Abraham pun juga terkekeh geli karenanya, "Unit aku itu, unit kamu juga, Shayang ... apa yang aku miliki juga adalah milikmu. Jadi, aku justru senang jika kamu merasa betah tinggal di sana. Hanya saja, aku sedang memikirkan untuk membeli rumah nanti, Sha ... untuk anak kita. Rumah dengan ruang terbuka hijau akan sangat bagus untuk perkembangan motoriknya. Semoga saja, aku bisa segera mewujudkan itu untukmu dan anak kita," balas Abraham.


Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Abraham membuat Marsha pun mengangguk setuju. "Iya Mas ... semoga saja bisa terwujud. Di mana pun itu, asalkan aku hidup bersamamu, aku bahagia kok. Sebab, aku tahu yang bisa membahagiakan aku bukan materi, tetapi kasih sayang dan perhatian darimu yang membuatku sangat bahagia," balas Marsha.


"Syukurlah Shayang ... semoga pelan-pelan aku bisa mewujudkan semuanya untukmu," balas Abraham.


Rona senja yang semuala membias di angkasa, akhirnya digantikan oleh petang. Marsha tampak segera menghabiskan minumannya dan kemudian mengajak Abraham untuk segera pulang.


"Pulang sekarang ya Mas ... cuma mampir ke satu tempat dulu yah?" Ajak Marsha kepada suaminya.


"Mau mampir ke mana lagi Shayang?" tanya Abraham.

__ADS_1


"Ke Martabak dulu, Mas ... mau beliin oleh-oleh buat Mama, bisa jadi teman untuk minum Teh hangat," balas Marsha.


Mendengar bahwa Marsha berinisiatif untuk membelikan oleh-oleh buat Mamanya, Abraham lagi-lagi tersenyum. Dulu, Marsha begitu takut dengan Mama Diah. Mungkin juga ada rasa kecewa. Hanya saja, Abraham merasa senang karena hubungan Marsha dan Mamanya justru menjadi begitu baik dan erat.


"Emangnya kamu tahu, rasa kesukaan Mama?" tanya Abraham.


"Cokelat dan keju enggak Mas?" tanya Marsha.


Itu adalah tebakan rasional saja. Sebab, biasanya kebanyakan orang menyukai martabak manis rasa cokelat dan juga keju. Martabak dengan rasa klasik yang cocok dijadikan teman untuk minum Teh.


"Benar ... Martabak Telor, Mama juga suka. Jadi, beli dua aja yah. Biar nanti aku yang belikan saja," balas Abraham.


“Ya sudah, Mama saja yang beli yah untuk Eyang. Cuma nanti turunnya aku temenin,” balas Abraham.


Pria itu segera mengemudikan mobilnya dan menembus jalanan Ibukota. Tidak langsung menuju ke unit apartemen mereka, tetapi Abraham menghentikan mobilnya di salah satu penjual martabak yang legendaris di Ibukota. Keduanya pun sama-sama turun dari mobil. Memesan martabak manis rasa cokelat dan keju, dan memesan martabak telor spesial.


"Kamu nunggu di dalam mobil saja," pinta Abraham kepada Marsha.


"Di sini saja, sama kamu," balas Marsha. Wanita itu justru nyengir, menampaknya deretan giginya yang putih dan rapi.

__ADS_1


Abraham sampai geleng kepala sendiri melihat istrinya itu. Marsha justru menggemaskan saja di matanya.


"Kamu bisa saja ... awas jangan dekat-dekat dengan kompornya. Itu minyaknya panas banget," ucap Abraham dengan menunjuk kompor yang digunakan untuk membuat martabak telor.


Lebih dari 15 menit, keduanya mengantri. Hingga sampai pada akhirnya, martabak pesanan mereka telah tiba. Sehingga Abraham dan Marsha sekarang bisa segera pulang ke rumah. Menempuh lagi perjalanan, hingga sampai pada akhirnya mereka tiba di unit mereka.


"Malam Mama," sapa Marsha begitu memasuki unit apartemennya.


"Iya, kalian sudah pulang?" tanya Mama Diah yang masih melihat televisi di ruang tamu.


"Maaf, kemalaman ya Ma?" tanya Marsha. Jujur saja, Marsha merasa tidak enak karena ada Mama Diah. Jika saja, tidak ada Mama Diah, tentu tidak masalah untuk pulang agak malam.


"Tidak ... kalian sudah dewasa, tidak apa-apa. Jangan merasa terganggu hanya karena Mama di sini. Santai saja, Sha ... toh, nanti kalau sudah punya bayi, wanita itu akan sulit kemana-mana. Harus menunggu badan benar-benar pulih, banyak pertimbangannya untuk keluar," jawab Mama Diah.


"Makasih Ma ... Mama baik banget. Ini Marsha bawakan Martabak special untuk Mama," ucap Marsha dengan memberikan kantong plastik berwarna putih berisikan martabak manis dan martabak telor itu untuk mertuanya.


Mama Diah pun menerima martabak dari Marsha, "Kamu dari mana kalau Mama suka martabak? Baru tadi Mama kepikiran mau beli martabak di depan mini market itu loh. Malahan kamu sudah membelikannya. Makasih ya ... yuk, kita makan bersama. Mama sudah membuat Teh hangat nih," ajak Mama Diah.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Boleh Ma ... tapi, Marsha cuci muka dan ganti baju dulu ya Ma. Sebentar, lima menit saja," balasnya.

__ADS_1


Untuk sang Mama mertua, Marsha rela menunda waktu untuk rebahan. Sebab, berlaku baik kepada mertua tentu akan bisa memberikan kebahagiaan untuk Mama mertuanya.


__ADS_2