Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Rekonsiliasi Dua Wanita


__ADS_3

Memang demikianlah kasus Melvin Andrian. Sebelumnya Majelis Hakim sudah menjatuhkan hukuman lima tahun penjara, walau pihak Melvin sudah meminta pengurangan masa tahanan dan juga rehabilitasi di Rumah Sakit Ketergantungan Obat, tetapi semua itu nihil.


"Rumah besar itu sepi, hanya ada Mama dan beberapa ART di sana," sambung Mama Saraswati lagi.


Marsha yang datang dari dapur pun menyajikan minuman untuk seluruh keluarga. Tidak lupa mempersilakan Mama Saraswati untuk minum terlebih dahulu.


"Silakan diminum, Ma," ucap Marsha mempersilakan Mama Saraswati.


"Makasih, Sha," balasnya.


"Jaga kesehatan selalu, Ma ... jangan bersedih terus. Mama bisa menyibukkan diri dengan pekerjaan supaya tidak terus-menerus bersedih," ucap Marsha.


Marsha menyadari bahwa jika hanya meratapi kesedihan, selamanya akan tinggal di dalam kesedihan itu. Ada beberapa cara untuk melupakan kesedihan salah satunya dengan menyibukkan diri, mengalihkan rasa sakit dan sedih. Fokus manusia bisa dialihkan dan itu bisa mengurangi kesedihan.


"Apa bisa ya Sha?" tanya Mama Saraswati kemudian.


"Bisa Ma ... hadapi kesedihan itu dengan bijak, hibur diri dengan tertawa, lakukan hal-hal yang disenangi, ungkapkan keluh kesah dan jangan dipendam. Pasti bisa Ma," balas Marsha.


Memang begitulah siklus kehidupan, tidak selamanya manusia akan tertawa dengan tawa yang renyah dan nyaring, tetapi juga tidak selamanya juga manusia hidup berkubang dalam lembah air mata. Sehingga, ketika Tuhan mengizinkan kita untuk bersedih, ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengatasi kesedihan itu.

__ADS_1


Mama Saraswati pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Coba ya Sha ... jujur, kadang kesepian melanda. Tidak ada teman untuk berbagi juga," balasnya.


Ketika manusia semakin tua, mereka memiliki hasrat supaya suaranya bisa dengarkan. Akan tetapi, Mama Saraswati justru merasakan dengan bertambahnya usia, keluarganya menjauh. Suami yang telah tiada, dan anak yang mendekam di dalam penjara. Semuanya menjadi pilu tersendiri di dalam hati. Mama Diah yang turut mendengarkannya pun merasa iba. Teringat dengan masa lalunya dulu, tidak ada tempat berbagi, menjalani kehidupan sendirian dan juga membesarkan Abraham yang masih bayi. Ketika ingin mengeluh kepada orang tua, yang ada justru cercaan. Sebisa mungkin Mama Diah bertahan, dia menguatkan hati dan dirinya untuk bertahan bagi Abraham, putranya.


Suasana di dalam ruang tamu itu menjadi hening, hingga akhirnya Mama Saraswati memberanikan diri untuk menatap Mama Diah yang duduk di depannya.


"Mbak Diah," sapanya dengan lirih.


Merasa dipanggil namanya, Mama Diah pun mengalihkan atensinya kepada Mama Saraswati di sana. Menunggu apa yang sebenarnya ingin diucapkan kembali oleh Saraswati di sana.


"Mbak Diah ... di hari yang baik ini juga, aku minta maaf untuk kesalahanku dulu, Mbak ... dulu aku yang merebut suamimu, Mas Wisesa. Aku yang menggodanya terlebih dahulu dan melarangnya untuk menemui kamu dan Abraham. Maafkan aku," ucap Mama Saraswati sekarang ini.


Butuh waktu puluhan tahun, bahkan seolah menunggu sampai Papa Wisesa tiada, barulah Mama Saraswati bisa meminta maaf kepada Mama Diah. Pengakuan bahwa dirinya bersalah, dirinya yang dulu merebut Papa Wisesa dan melarangnya untuk menemui Mama Diah dan juga Abraham. Seakan Mama Saraswati mengulangi kala dia meminta maaf kepada Abraham beberapa waktu yang lalu.


Mama Diah pun menghela nafas di sana, dan kemudian mulai bersuara, "Aku sudah memaafkanmu," ucap Mama Diah.


Apa yang dikatakan oleh Mama Diah membuat semuanya tercengang. Secara khusus Marsha. Di mata Marsha, terlihat jelas bahwa Mama Diah adalah wanita kuat, hebat, dan begitu lapang dada. Tidak mudah untuk memaafkan seseorang yang sudah merebut suaminya. Tidak mudah untuk memaafkan seseorang yang menghalang-halangi suaminya untuk menemui putranya sendiri. Akan tetapi, Mama Diah nyatanya begitu berbesar hati.


Sementara Mama Saraswati yang mendengarkan satu kalimat dari Mama Diah itu pun meneteskan air matanya. Dia tahu bahwa apa yang sudah dia lakukan tidak termaafkan. Dia sudah membuat seorang suami berpaling dari istrinya, dia sudah membuat seorang Ayah hidup menjauh dari anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Makasih Mbak Diah ... walau aku tahu, kesalahanku tidak termaafkan," balas Mama Saraswati dengan suaranya yang bergetar.


Memaafkan seseorang yang pernah menyakiti kita di masa lalu memang tidak mudah. Akan tetapi, hidup dengan terus-menerus menggenggam dendam juga tidak ada gunanya.


"Memaafkan adalah tindakan untuk menemukan kembali jalan kedamaian. Usia kita semakin senja, apa kita akan selamanya membenci satu dengan lain? Sementara takdir kematian itu pasti, tidak baik membawa dendam sampai dibawa mati. Selagi masih bisa bernafas, Tuhan yang akan memberikan kelapangan hati untuk memaafkan orang lain," balas Mama Diah.


Sungguh, Mama Saraswati tertegun mendengarkannya. Memang benar bahwa cara terbaik untuk menemukan jalan kedamaian adalah dengan memaafkan. Terlebih keduanya sudah memasuki usia paruh baya, dendam apa lagi yang harus digenggam, padahal usia manusia tidak ada yang tahu. Menggunakan usia paruh baya menuju usia senja dengan berdamai adalah hal yang terbaik,


Perlahan Mama Saraswati datang dan tampak ingin bersujud di kaki Mama Diah, tetapi Mama Diah segera menolaknya, dia menahan kedua bahu Mama Saraswati di sana.


"Jangan seperti ini," sergah Mama Diah.


"Maaf Mbak Diah ... maaf. Aku tahu kala itu Mas Wisesa sudah beranak istri, tetapi aku tetap menginginkannya. Maaf aku yang menyibukkan Mas Wisesa dengan semua pekerjaan dan hidup mewah bergelimang harta, sampai melupakan keluarganya sendiri yang ada di Semarang. Maaf ...."


Mama Diah pun menganggukkan kepalanya dengan air mata yang juga lolos dari sudut matanya, "Dimaafkan ... aku sudah mengampuni kamu dan semua masa lalu yang pahit dan pelik di antara kita berdua," balas Mama Diah.


Tangisan dan isakan yang tidak bisa dibendung lagi. Akhirnya Mama Saraswati pun memeluk Mama Diah di sana, ada batu yang seolah diangkat dari hati keduanya.


"Terima kasih Mbak Diah ... terima kasih," ucap Mama Saraswati.

__ADS_1


"Sama-sama Saras ... toh, semua yang sudah terjadi tidak bisa diputar lagi. Lantaran semua ini terjadi aku dan Abraham juga akhirnya menemukan kebahagiaan kami sendiri," balasnya.


Marsha yang duduk di sana pun turut meneteskan matanya. Ini adalah momen paling haru yang dia lihat dengan kedua matanya. Di mana dua wanita yang berseteru akhirnya mengakhiri masalah pelik yang terjadi selama ini. Mengakui kesalahan bukan berarti membuat seseorang menjadi rendah, pun demikian dengan si pemberi maaf yang akan membuat seseorang menjadi tinggi. Akan tetapi peminta maaf dan pemberi maaf ada dalam kedudukan yang serupa, kedudukan yang sama, dan hasil yang dicapai tentu adalah kedamaian yang tercipta untuk kedua belah pihak.


__ADS_2