
Ketika bulan madu berakhir, maka sekarang Abraham mengajak Marsha untuk check out dari hotel dan yang dituju mereka sekarang tentu adalah rumah Mama Diah, masih di kota Semarang. Sebagaimana tradisi masyarakat Jawa pada umumnya bahwa seorang istri yang sudah menikah akan mengikuti suaminya. Oleh karena itu, Marsha pun mengikuti Abraham untuk pulang ke rumah mertuanya.
“Siang Ma,” sapa Abraham kepada Mamanya.
“Siang … masuk. Wah, pengantin baru sudah selesai bulan madunya?” goda Mama Diah kepada Abraham dan Marsha.
Jika Abraham tersenyum dan menunjukkan wajahnya yang cerah, sementara Marsha menunduk malu. Bulan madu adalah hal privasi, dan saat digoda seperti ini rasanya benar-benar malu.
“Sudah makan siang?” tanya Mama Diah lagi.
“Belum Ma,” jawab Marsha yang memang memilih segera cek out, dan bisa pulang ke rumah. Sebab, tidak enak berlama-lama di hotel.
“Ya sudah, sana makan … Mama juga sudah masak kok. Yuk, makan siang dulu,” ajak Mama Diah kepada Abraham dan juga Marsha.
Mereka kemudian menuju meja makan untuk mengisi perut mereka terlebih dahulu. Sayur bening, dengan tahu bacem, dan tempe goreng. Masakan yang sederhana, tetapi begitu enak dan lezat.
“Setelah menikah ini kalian bagaimana?” tanya Mama Diah menanyakan perihal rencana yang akan diputuskan oleh Abraham dan juga Marsha.
“Kami akan di Jakarta, Ma … karena pekerjaan Abraham di Jakarta,” balasnya dengan yakin.
Abraham sendiri tidak bisa serta merta meninggalkan Jakarta, karena studio fotonya ada di Jakarta. Selain itu, sudah ada beberapa projek fotografi yang harus dia kerjakan untuk beberapa bulan ke depan.
“Kamu sendiri bagaimana Marsha?” tanya Mama Diah.
__ADS_1
“Marsha ikut Mas Bram ya Ma … hamil ini babynya mau nempel Papanya terus,” jawab Marsha.
Memang Marsha merasakan sesuatu yang aneh. Dulu, sebelum bertemu Abraham saja, dirinya merasa baik-baik saja, dan kini setelah memiliki Abraham rasanya justru Marsha tidak ingin pisah dari suaminya.
“Ya sudah, penting kalian sehat … dijaga kandungannya baik-baik, Sha. Kalau bisa nanti Mama akan ke Jakarta saat kamu menjelang persalinan. Dijaga baik-baik yah,” pesan Mama Diah kepada menantunya itu.
Begitu lega juga rasanya karena mereka mengomunikasikan apa yang menjadi rencana masa depannya kepada Mama Diah. Marsha pikir diskusi akan berjalan alot, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Mama Diah justru tidak mempermasalahkan dan juga mendukung keputusan Marsha dan Abraham.
“Paling kami hanya dua hari di sini Ma … Bram, tidak bisa berlama-lama karena harus bekerja. Terlebih sekarang ada anak dan istri yang sekarang harus Bram nafkahi,” ucap Abraham dengan yakin.
Sepenuhnya Abraham tahu dan yakin bahwa secara finansial, dia memang tidak sekaya Melvin yang adalah bintang sinetron papan atas. Namun, Abraham berjanji bahwa dia tetap akan menafkahi Marsha dengan kemampuannya. Tidak akan membiarkan istri dan anaknya kekurangan.
“Iya Bram … Mama tahu. Tidak apa-apa. Kalian di sini dulu saja dua hari, nanti Mama yang antar kalian ke Bandara. Ke stasiun saja Bunda, Bram ingin naik kereta sama Marsha untuk kembali ke Jakarta,” balas Abraham.
Sungguh Marsha merasa senang, Mama Diah benar-benar telah berubah dan menerimanya dengan sangat baik. Setidaknya Marsha yakin bahwa restu yang diberikan mama Diah benar-benar tulus.
***
Malam harinya ….
Sebenarnya, kali ini bukan musim penghujan, tetapi curah hujan di kota Semarang cukup tinggi akhir-akhir ini. Seperti malam ini di mana hujan kembali turun. Suasana di area perumahan itu pun terasa sepi. Hari masih menunjukkan jam 20.00, tetapi lantaran hujan dan juga udara dingin, rasanya malam sudah berjalan begitu lama.
“Hujan-hujan, lebih baik tidur saja … Mama mau tidur cepat aja deh kayaknya,” ucap Mama Diah yang sudah beberapa kali menguap.
__ADS_1
“Mama biasanya tidur jam berapa?” tanya Marsha kemudian.
“Jam 22.00 biasanya, cuma kamu jangan ngikutin Mama … Ibu hamil harus membutuhkan istirahat yang cukup,” ucap Mama Diah.
“Ya sudah, Mama mau tidur … kalian kalau mau tidur, tidur saja. Hujannya tambah deras,” ucap Mama Diah.
Abraham dan Marsha pun menganggukkan kepalanya. “Bobok yuk Shayang,” ajak Abraham kali ini.
Marsha pun menganggukkan kepala, mengikuti Abraham yang menggandeng tangannya menuju lantai dua, memasuki kamarnya. Baru saja menutup pintu kamar, Abraham sudah mendekap tubuh Marsha dan melabuhkan kecupan demi kecupan di leher hingga tengkuk Marsha.
“Kangen kamu Shayang,” ucap Abraham dengan masih mengecupi leher dan tengkuk Marsha hingga menyulut berdirinya bulu roma di tubuh Marsha.
“Puasa dulu ya Mas … takut aku di rumah kamu, takut Mama tahu,” ucap Marsha dengan setengah berbisik dan menahan supaya de-sahannya tidak muncul.
“Ya sudah, puasa lagi tidak apa-apa Shayang … cuma aku mau bilang kangen saja sama kamu kok,” balasnya dengan mendekap tubuh Marsha dengan begitu eratnya.
“Gak boleh marah loh yah,” ucap Marsha kini.
Sebagai wanita yang pernah gagal, tentu Marsha tahu biasanya pria akan marah jika tidak terpuaskan ladang batinnya. Untuk itu, Marsha pun mengatakan demikian, dan berharap bahwa Abraham tidak akan marah.
Abraham menggelengkan kepalanya, “Enggak … enggak marah. Waktu kita masih banyak kan? Kalau tidak hari ini, bisa besok, atau lusa. Yang penting kamu dan baby kita sehat,” balas Abraham dengan sungguh-sungguh.
Marsha pun tersenyum, lega rasanya. Dulu saat masih menikah dengan Melvin, acapkali Melvin memaksanya, bahkan di saat dirinya tertidur pun Melvin juga memaksanya, dan dalam kondisi dia tidak siap pun, Melvin juga memaksanya. Tentu ada trauma psikologis yang Marsha alami. Pernah Marsha merasa bahwa hubungan suami istri hanya meninggalkan luka dan trauma saja. Kini, Marsha benar-benar lega saat kini menolak Abraham, nyatanya suaminya itu tidak marah dan justru masih terlihat begitu menyayanginya. Bagi Marsha, kehidupan pernikahan bukan sekadar kehangatan di atas ranjang, tetapi menyangkut berbagai aspek. Semoga saja Abraham tetap menjadi pria yang baik dan bisa selalu menyayanginya seperti ini.
__ADS_1