
Berada di kota Semarang membuat Marsha sekaligus berniat untuk bisa menemui Mama dan Papanya. Memang ini adalah waktu yang lama, sangat lama malahan sejak Marsha dan Abraham menikah, tak pernah lagi bertemu dengan Mama dan Papanya. Dulu, ketika Abraham mengajak Marsha untuk liburan ke Semarang, orang tuanya berada di luar kota dan tidak bisa ditemui. Sekarang, mumpung Marsha berada di Semarang, dia ingin menemui Mama dan Papanya terlebih dahulu.
Sebenarnya, Marsha ingin mengajak Mira ikut serta dan memperkenalkan sosok Mira kepada Eyangnya. Akan tetapi, saran dari Abraham yang mengatakan Mira lebih baik bersama Eyang Diah, akhirnya Marsha kali ini pergi hanya dengan suaminya saja.
"Padahal aku pengen mengajak Mira, Mama dan Papaku kan belum mengenal Mira," ucap Marsha dengan mende-sah dan sedikit kecewa sebenarnya.
Akan tetapi, saran yang diberikan Abraham pun tepat. Sehingga memang lebih baik Mira berada di rumah saja bersama Eyang Diah. Untuk mengantisipasi kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Nanti lain kali juga pasti bisa kenalan sama Eyangnya. Sekarang menjaga Mira menjadi prioritas utama, Yang," balas Abraham.
Marsha pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Benar Mas ... daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ironis yah, seorang anak mencari keberadaan orang tuanya. Kapan ya Mas ... Mama dan Papa akan mencariku?" tanya Marsha dengan wajah yang sudah terlihat sendu.
"Sabar Shayang ... sabar. Mau bagaimana lagi. Kita menuju rumah kamu dulu yah," balas Pandu dengan melajukan mobilnya menyisiri jalanan di kota Semarang. Sebenarnya Pandu tahu bagaimana perasaan Marsha, tetapi juga tidak bisa berkomentar banyak.
Kurang lebih dua puluh menit, Abraham melajukan mobilnya dan sekarang mereka sudah sampai di area perumahan tempat tinggal Mamanya Marsha. Untuk sekadar turun dari mobil saja, Marsha terlihat enggan. Akan tetapi, Abraham mendorong istrinya itu untuk bisa turun.
"Ayo," ajak Abraham.
"Aku kok ragu ya Mas," balas Marsha.
"Sudah di depan rumah ... ada mobilnya kok Shayang. Itu mobil Mama kamu bukan?" tanya Abraham dengan menunjuk mobil merah yang terparkir di depan rumah Mamanya Marsha.
"Kelihatannya itu bukan mobilnya Mama deh, Mas ... mobilnya Mama itu warna putih kok. Tidak pernah memakai mobil merah kayak gitu," balas Marsha dengan mengamati mobil merah yang terparkir di depan rumah Marsha.
Abraham kemudian menatap istrinya itu. "Ya sudah ... yuk, sudah di depan rumah, masak tidak turun sih," balas Abraham.
__ADS_1
Kembali mengikuti saran dari suaminya, kali ini Marsha turun dari mobilnya, dan Abraham segera menggandeng tangan Marsha, kedua memasuki rumah kediaman Mama Ria, Mamanya Marsha.
"Aneh ... kenapa tidak ada rasa rindu di hatiku pada rumah ini," gumam Marsha dengan lirih.
Genggaman tangan Abraham di tangan Marsha kian menguat dan dia menganggukkan kepalanya secara samar, "Sabar Shayang," ucapnya.
Sepenuhnya Abraham tahu, bahwa rasanya tidak ada kedekatan di dalam hati Marsha dengan rumah ini. Padahal ini adalah rumah yang sudah dia tempati cukup lama, dan juga tidak ada kedekatan dengan Mama kandungnya sendiri. Hingga Marsha perlahan-lahan membuka gerbang teralis itu, dan melihat pintu rumahnya yang tidak sepenuhnya tertutup. Lantas, Marsha bertanya lirih kepada Abraham.
"Tumben, pintunya enggak ditutup?"
"Entahlah, Sayang … panggil Mama Ria saja," balas Abraham.
Akhirnya tangan Marsha bergerak dan membuka pintu kayu itu, mendorongnya perlahan dan kemudian kepalanya menengok ke dalam mungkin saja di ruang tamu. Akan tetapi, nihil karena tidak ada yang duduk di ruang tamu.
"Kok aneh ya Mas … tidak biasanya pintu dibiarkan tidak tertutup dan di bawah kosong," balas Marsha dengan perasaan kian menelisik.
Sejujurnya Abraham tahu saat ini sangat mungkin bagi Marsha untuk berpikiran negatif dan menerka kemana-mana. Akan tetapi, Abraham tidak ingin membuat Marsha semakin bertambah pikirannya. Oleh karena itu, Abraham mengalihkan kepada hal-hal yang lain.
"Mama, Marsha datang, Ma," ucap Marsha memanggil nama Mamanya.
Ketika Marsha bersuara, Abraham menganggukkan kepalanya. Setuju dengan istrinya yang memanggil-manggil Mamanya. Namun, beberapa saat berlalu dan seolah tak ada jawaban. Kian Marsha menelisik, kian negatif pikirannya sekarang ini.
"Aku coba lihat ke dapur ya Mas," ucap Marsha meminta pertimbangan dari suaminya.
"Iya Shayang, coba lihat dulu," jawab Abraham.
__ADS_1
Marsha pun berjalan perlahan dari ruang tamu menuju ke dapur. Akan tetapi, di dapur pun kosong. Namun, terlihat di meja makan ada sayuran dan lauk, itu tandanya memang ada Mamanya di rumah.
"Kok gak ada yah. Ke mana sih Mama ini?"
Dari dapur Marsha mencoba melihat ke bagian ruangan yang lain, tetapi juga tidak ada sosok Mamanya. Pikiran Marsha kian kalut, dan bertanya-tanya di mana Mamanya sebenarnya.
"Perlu aku lihat ke kamar atas kali ya Mas?"
Terbersit dalam pikiran Marsha untuk menengok kamar atas. Abraham pun menganggukkan kepalanya perlahan, dan dia mengekori Marsha menapaki satu per satu anak tangga hingga sampailah mereka di lantai dua rumah itu. Terlihat sepi, tetapi sekilas sayup-sayup terdengar suara di sana.
"Mama, Marsha pulang Ma …."
Marsha masih berusaha memanggil sang Mama, tetapi tetap tak ada sahutan suara. Hingga sekarang arah pandangan Marsha tertuju pada satu kamar yang pintunya tidak sepenuhnya tertutup rapat.
Perlahan kaki Marsha menapaki lantai itu, dan perlahan-lahan menengok ke kamar yang pintunya tak tertutup itu. Tangan Marsha bergerak meraih daun pintu dan mendorongnya.
"Mama," sapanya.
Namun, apa yang Marsha lihat sekarang benar-benar di luar praduganya. Benar Mamanya ada di sana, tapi bukan dalam kondisi yang Marsha harapkan.
"Mama."
"Mar… Marsha," sahut sang Mama dengan gelagapan.
Kedatangan putrinya dalam timing yang tidak tepat. Marsha terperanjat, dan Mama Ria pun juga sama terkejutnya. Marsha segera menutup daun pintu itu dan menyandarkan punggungnya di tembok dengan menghela nafas berat.
__ADS_1
"Kita pulang saja, Mas," ajak Marsha kali ini.
Sungguh, sekarang jantung Marsha berdetak begitu kencangnya, keringat dingin pun mulai dia rasanya, dan dada yang begitu sesak. Apa sesungguhnya yang Marsha lihat? Sampai Marsha menunjukkan reaksi sedemikian rupa.