
Selang dua hari berlalu, kali ini di dalam unit apartemennya, Marsha mulai melakukan packing. Mengemas semua barang-barangnya, tempat yang akan Marsha tuju kali ini tentu adalah tempat asalnya yaitu kota Semarang.
Usai berkemas, Marsha tanpa berpamitan dengan Abraham segera bertolak ke stasiun dan wanita itu memilih pergi ke Semarang melalui jalur darat. Bahkan kala ke stasiun pun Marsha juga tidak memberitahu Abraham, wanita itu memilih mengirimkan mobilnya dengan menggunakan ekspedisi pengiriman ke Semarang. Sementara itu, pagi-pagi buta Marsha sudah tiba di Stasiun Gambir. Sebuah kereta eksekutif yaitu Argo Bromo Anggrek akan mengantarkan Marsha kembali ke kota asalnya.
Dengan keyakinan yang teguh, Marsha akan meninggalkan Ibukota dan segala kenangan. Bahkan, jikalau boleh meminta, Marsha tak ingin kembali bersua dengan Abraham, karena Marsha sepenuhnya tahu bahwa dia sudah banyak memberikan luka kepada pria itu. Di saat Abraham kembali merasakan cinta dan mengungkapkan isi hatinya untuk meminang Marsha. Akan tetapi, kali ini Marsha harus kembali pergi. Meninggalkan Abraham untuk kali yang kedua.
Di dalam kereta eksekutif itu, begitu kereta mulai berjalan, terlihat Monas dan jalanan ibu pusat Ibukota yang begitu padat. Marsha menatap pemandangan itu dengan hati yang pilu.
“Selamat tinggal Jakarta … selamat tinggal, selama ini sudah memberikanku begitu banyak kenangan. Asam dan manisnya kehidupan, sudah ku kecap selama tinggal di sini. Good bye, Dear Abraham Narawangsa … maafkan aku, kali ini aku akan kembali meninggalkanmu. Sepenuhnya bukan keinginanku, tetapi apalah daya jika Mamamu kembali memintaku pergi dari sisimu,” gumam Marsha dalam hati.
Tanpa dia sadari, air matanya tetes begitu saja. Untunglah, tidak penumpang yang duduk di sampingnya, sehingga Marsha tidak perlu malu karena dia menangis sekarang ini. Kereta yang bergerak kian menjauh dari pusat Ibukota justru kian menambah sesak di dada Marsha.
“Aku pergi lagi, Bram … maafkan aku,” ucapnya dalam hati sembari memejamkan matanya secara dramatis.
Hidup yang begitu pilu harus Marsha rasakan sekarang ini. Waktu bersama Abraham yang begitu singkat, tetapi dalam waktu yang singkat itu Marsha bisa merasakan cinta dan kepedulian yang Abraham berikan kepadanya. Jika, sebelumnya rumah tangganya hancur, Marsha menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, dan kini di saat perasaannya untuk Abraham mulai tumbuh nyatanya Marsha harus kembali meninggalkan Abraham. Kepiluan yang terasa begitu berat.
***
Sementara itu di apartemen, Abraham tengah menikmati sarapannya sebelum akan berangkat ke Studio Foto miliknya. Pria itu mengambil handphone yang berada di atas nakas, kemudian mulai mengirimkan pesan untuk Marsha, mengajaknya sarapan bersama.
[To: Marsha]
[Sha … Yang, kamu sudah bangun apa belum?]
[Kita sarapan bersama yuk.]
__ADS_1
[Aku sudah buatkan Nasi Goreng Ikan Asin kesukaanmu.]
[Turun ke unitku yah, aku tunggu dalam 15 menit.]
[I Love U, Sha … Yang!]
Abraham segera menekan dan mengirimkan pesan-pesan itu. Berharapa bahwa Marsha akan segera membaca pesannya. Namun, Abraham mengernyitkan keningnya saat melihat pesan-pesan itu hanya centang satu, itu berarti pesannya sama sekali tidak terkirim. Abraham merasa gusar, karena tak pernah Marsha menon-aktifkan handphonenya. Biasanya pesan-pesan yang dia kirimkan selalu terkirim dan segera dibaca oleh Marsha.
Kali ini, tidak hanya mengirimkan pesan, tetapi Abraham pun berusaha menghubungi nomor handphone Marsha. Sayangnya, hanya suara operator saja yang terdengar di telinganya.
“Nomor yang Anda hubungi sedang berada di luar jangkauan!”
Abraham mengusap wajahnya dengan kasar, pria itu berdiri dan mencoba menghubungi nomor Marsha berkali-kali. Sayangnya, sebanyak apa pun dia mencoba, sebanyak itu juga suara operator yang menyahutnya.
Begitu kepikiran dengan Marsha, kali ini Abraham berlari dan tujuannya adalah ke unit yang disewa Marsha di lantai 14. Abraham sungguh berharap bahwa kali ini, dia mendapati Marsha di sana. Semoga saja Marsha hanya menon-aktifkan handphonenya saja. Masih ada asa yang tersisa di dalam dada Abraham.
“Marsha … Marsha!” Abraham memanggil nama Marsha dan berharap bahwa Marsha akan segera membukakan pintu dan menyambutnya.
Sungguh, hati Abraham berkecamuk saat ini. Di mana Marsha berada? Apakah mungkin Marsha kembali pergi meninggalkannya? Rupanya Abraham yang masih mengetuk pintu apartemen itu dipanggil oleh seorang petugas dari apartemen itu.
“Permisi Pak … yang menyewa unit ini, sudah pergi tadi pagi,” ucapnya.
Luruh seketika tangan Abraham yang berusaha mengetuk pintu apartemen itu. Bayang-bayang buruk kembali melingkupi Marsha sekarang. Pria itu menganggukkan kepalanya dan berjalan gontai kembali ke unitnya.
Kenapa kamu pergi Sha?
__ADS_1
Kenapa kamu meninggalkanku lagi kali ini?
Apa yang sebenarnya ada di pikiran kamu, Sha?
Berkali-kali aku memintamu bertahan di sisiku … nyatanya berkali-kali juga kamu meninggalkanku.
Aku pun terluka, Sha … aku kecewa.
Tidak bisakah kali ini, kamu percaya padaku bahwa aku akan berjuang untukmu. Aku percaya dengan kekuatan cintaku, Sha.
Sekalipun di depanku jalan buntu, aku akan membuat jalan lain, bahkan aku bisa membuat jembatan untukmu, Sha ….
Sekarang, kemana kamu pergi Sha?
Kali ini, Abraham tak ingin menyerah. Dia bahkan kini berjalan ke lobby dan bertanya kepada resepsionis di sana. Sapa tahu mereka tahu kemana Marsha pergi. Akan tetapi, yang mereka lihat Marsha pergi menggunakan taksi online saja, dan tidak tahu-menahu kemana Marsha pergi. Di depan lift, Abraham mengusap kasar wajahnya. Di saat itu juga, Abraham bertemu lagi dengan Mamanya.
“Bram, kamu dari mana?” tanya Mama Diah.
Abraham yang kesal memiliki menaiki lift dan diam. Mama Diah pun melihat putranya itu.
“Bram, kamu dari mana?” tanya Mama Diah lagi.
Lagi-lagi Abraham hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Mamanya itu. Begitu tiba di lantai 12, Mama Diah tampak menghentikan Abraham dengan menepuk bahu putranya itu.
“Bram, kamu tidak mendengarkan Mama?” tanya Mama Diah.
__ADS_1
Abraham hanya bisa memejamkan matanya. Hatinya terlampau perih dan gusar. Hanya Marsha yang Abraham pikirkan sekarang ini. Begitu kalut rasanya mengetahui bahwa Marsha pergi dengan tiba-tiba.