Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Menenangkan Diri


__ADS_3

Usai sarapan yang sebenarnya hanya sekian menit, tetapi terasa begitu lama itu. Marsha menyusul Melvin ke kamarnya. Setidaknya Marsha ingin mengatakan mengapa Melvin ada inisiatif untuk membelanya. Bukankah para suaminya seharusnya membela istrinya di saat terpojok. Akan tetapi, Melvin justru abai dan justru asyik menikmati Scramble Egg miliknya.


"Yang, boleh aku bicara?" tanya Marsha sebelum mengeluarkan semua unek-uneknya. Setidaknya Melvin adalah suaminya, sudah selayaknya Marsha mengeluarkan keluh kesahnya kepada pria yang sudah dua tahun menikahinya itu.


"Apa? Cuma jangan terlalu lama, aku mau ke lokasi," balas Melvin.


Marsha menghela nafas sepenuh dada, apakah memang sekadar memberi sedikit waktu untuk mendengar keluh kesahnya tidak bisa? Wanita itu akhirnya memilih segera berbicara.Tidak akan menunda-nunda lagi sebelum Melvin akan berangkat ke lokasi syuting.


"Kamu tidak risih mendengar Mama yang berkali-kali memojokkan aku?" tanya Marsha.


Setidaknya itu adalah sebuah pertanyaan umpan, supaya Melvin bisa mengatakan pandangannya tanpa harus menyudutkan Mama mertuanya terlebih dahulu. Sekaligus, Marsha bisa meminta kepada Melvin untuk mengatakan dari sudut pandangnya.


"Memojokkan gimana Yang? Menurutku itu wajar kok," balas Melvin. Bahkan saat ini pria itu menunjukkan reaksi yang biasa saja.


Hati Marsha rasanya seperti dicubit saat Melvin mengatakan bahwa perkataan Mamanya itu adalah hal wajar. Sedikit sakit hati karena Melvin tidak memandang masalah tadi dari kacamatanya. Bahkan ucapan demi ucapan yang dikatakan Mama Saraswati terdengar biasa saja di telinga Melvin.


"Bahkan menuduhku mandul itu juga wajar?" tanya Marsha.


Wanita itu kini terlihat berkaca-kaca. Saat seorang mertua dengan terang-terangan mengatakan bahwa menantunya mandul itu adalah pukulan terbesar bagi seorang wanita. Merasa tidak sempurna, merasa sakit, dan juga penyesalan dengan vonis mandul. Ketika Dokter belum mendiagnosis apa-apa, tetapi ada Mama Saraswati yang terlebih dahulu memvonisnya mandul. Padahal dirinya merasa baik, tidak ada kendala dengan menstruasi. Walaupun ada masa di mana Marsha merasa bingung, karena dalam dua tahun memang sama sekali dirinya tidak ada tanda-tanda kehamilan. Biasanya saja, tidak pernah ada keanehan dalam tubuhnya.

__ADS_1


"Sudahlah Yang, gak perlu dimasukkan hati. Lagipula kan nanti kita cek kesuburan bersama. Sudah, jangan apa-apa dimasukkan hati. Mama baru sehari di sini dan kamu udah uring-uringan kayak gini," balas Melvin.


Mungkin maksud Melvin baik, supaya Marsha tidak uring-uringan, terlebih baru satu hari Mamanya berada di sini. Melvin berharap Marsha bisa lebih bersabar menyingkapi semuanya. Sebab, Marsha pasti akan bisa bersabar. Itu keyakinan Melvin.


Dengan dada yang bergemuruh, Marsha memilih menekan perasaannya. Sekali lagi bukan hal semacam ini yang Marsha inginkan dari Melvin. Dia membutuhkan sosok suami sebagai seorang pengayom dan bisa menjembatani antara dirinya dan orang tuanya. Memang bisa saja Marsha bukan sosok yang sempurna, banyak kekurangan dalam dirinya. Akan tetapi, Melvin bersikap terlalu menggampangkan segala sesuatu. Menyadari semua itu, Marsha memilih diam. Mungkin dia tidak perlu berbagi keluh kesahnya bersama Melvin.


"Udah yah, jangan dimasukkan hati." Melvin berbicara, kali ini pria itu mengambil beberapa langkah ke depan dan mulai memeluk tubuh Marsha. Membawa tubuh istrinya itu dalam dekapannya untuk sesaat. Hanya sesaat, sebab setelahnya Melvin segera melepaskan tubuh yang rapuh dan membutuhkan tempat bersandar itu.


"Hati-hati di rumahnya, jangan kecapekan. Sabar," ucapnya.


Usai itu Melvin meninggalkan Marsha begitu saja. Pria itu berlalu dan hendak menuju lokasi syuting untuk bekerja. Melvin pergi begitu saja, bahkan menoleh ke belakang pun tidak. Sementara, Marsha terduduk dengan lesu di sudut sofa.


Di saat seperti ini, agaknya Marsha ingin keluar sebentar dari rumah. Sedikit mencari angin segar, dan memenangkan dirinya sendiri.


"Ma, Marsha pamit mau keluar sebentar," pamitnya dengan perkataan yang masih sopan kepada Mama mertuanya itu.


"Mau ke mana Sha?" tanya Mama Saraswati yang tampak ingin tahu ke mana Marsha pergi.


"Bertemu dengan teman sebentar, Ma," sahutnya.

__ADS_1


Sebenarnya Marsha hanya pergi seorang diri dan tidak bertemu dengan siapa pun. Namun, Marsha mengatakan akan bertemu dengan temannya supaya Mama Saraswati tidak curiga. Jika, mengatakan akan pergi sendirian, sudah pasti Mama Saraswati bisa saja menuduhnya bahwa dia berniat menghindari mertua yang sedang berada di rumah.


Perlahan wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya, "Ya sudah, hati-hati," sahutnya.


Merasa sudah mengantongi izin dari Mama Saraswati, Marsha segera melajukan mobilnya. Tempat yang ingin dia tuju sekarang ini adalah taman kota yang berada di dekat Coffee Shop bernama Coffee Bay. Pikirnya saat dirinya sudah penat, Marsha tinggal menuju ke Coffee Bay itu dan membeli Es Americano kesukaannya.


Berkendara sendirian di dalam mobil, Marsha memilih fokus mengemudi, sama sekali tidak memutar musik yang bisa menemaninya berkendara. Pikirannya terlalu kalut, hatinya terlalu penat. Baru sehari, tetapi Marsha sudah merasa begitu tertekan.


Sampai akhirnya Marsha telah tiba di Taman Kota. Sama seperti biasa, Marsha mengenakan masker untuk menutupi hidung hingga mulutnya, kemudian mengenakan kacamata. Mungkin dengan seperti ini, dirinya tidak akan dikenali sebagai istri seorang aktor papan atas.


Bangku taman yang berada di dekat kolam air kecil menjadi tempat yang dituju Marsha sekarang. Wanita itu duduk termenung di sana, menikmati kesendiriannya. Tak masalah hanya berteman sepi, merasakan hembusan angin semilir, menatap gumpalan awan putih di langit atas, dan melihat dedaunan yang melambai-lambai. Rasanya semua ini sudah cukup untuk Marsha.


Agar tidak terlihat menyedihkan, bahkan Marsha membawa sebuah buku tulisan Kahlil Gibran, yang berjudul Sang Nabi. Membaca halaman demi halaman kisah Al Mustafa dan meresapi setiap kata-kata dalam buku itu yang begitu indah dan bermakna dalam.


Terkutip dalam buku itu, "Jika cinta memberi isyarat kepadamu, menyerahlah …."


Seakan Marsha terbersit untuk menyerah saat ini. Rumah tangga yang awalnya bahagia, tetapi justru suam pada akhirnya. Terbersit oleh Marsha untuk meminta usai, tetapi dirinya tidak memiliki alasan yang kuat.


Bukan hanya dengan Melvin, tetapi juga dengan mertuanya yang walaupun sikapnya baik, tetapi perkataannya terdengar menyakiti. Dengan semua itu, membuat Marsha tak ingin bertahan. Ingin rasanya Marsha mencari dan mendapatkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Ingin rasanya Marsha mendapatkan tempat bersandar yang menerima dirinya. Hidupnya memang penuh kemewahan, tetapi kurang kasih sayang dan perhatian.

__ADS_1


Tidak mendapat perhatian dari suami, tidak mendapat kasih sayang dari mertua, dan juga belum ada buah hati yang membuat kehidupan rumah tangganya tidak hangat. Membayangkan semua itu, Marsha menghela nafas. Wanita itu seakan terpaku pada kalimat yang menggoreskan makna begitu dalam di hatinya.


Arti menyerah seperti apa yang harus dia ambil. Menyerah melambaikan bendera putih atau menyerah dengan semua situasi pelik ini? Marsha harus meyakinkan hatinya dan membuat keputusan dengan apa yang terjadi kali ini. Lanjut atau terus.


__ADS_2