
Tidak ada yang lebih indah ketika bisa melepaskan pengampunan. Masa lalu yang pahit, tetapi dengan saling memberikan maaf bisa memulai satu bentuk hubungan yang baru. Itu juga yang dilakukan Mama Diah dengan Mama Saraswati. Dulu, memang ada luka yang dalam di dalam hati Mama Diah. Suaminya yang digoda dan juga dihalang-halangi untuk tidak bertemu dengan putranya, sekarang justru kedua belah pihak bisa saling memaafkan.
“Makasih ya Mbak Diah, sudah mau memaafkan aku dan semua kesalahanku di masa lalu,” ucap Mama Saraswati dengan masih berlinang air mata.
“Sama-sama Saras … tidak apa-apa. Toh, semua juga sudah berlalu dan tidak bisa ditukar kembali.”
Entah itu suaminya atau masa kecil Abraham, semuanya tidak bisa dikembalikan lagi. Memang dulu Mama Diah begitu marah ketika suaminya justru menikah lagi ketika Abraham masih bayi. Ada rasa dikhianati, ada rasa diduakan, sebagai seorang istri dan seorang Ibu, batin Mama Diah sangat terluka. Akan tetapi, untuk semua waktu yang sudah terlewati, tidak akan bisa terulang kembali.
Lantas Mama Saraswati pun kembali berbicara, “Terima kasih Mbak Diah … butuh waktu yang sangat panjang bagiku untuk meminta maaf. Maafkan aku, dan maafkan Melvin juga.”
“Iya, aku maafkan,” balas Mama Diah dengan menganggukkan kepalanya.
Marsha yang ada di sana pun begitu terharu, terlihat Marsha menitikkan air matanya. Rekonsiliasi yang begitu haru. Sementara Abraham melihat istrinya turun meneteskan air matanya pun mengusapi punggungnya dengan gerakan naik turun yang begitu lembut. “Tidak usah menangis. Mereka yang dulu bertengkar dan tidak akur satu sama lain, akhirnya bisa memaafkan. Tidak perlu menunggu bulan yang Fitri untuk saling bermaaf-maafan. Justru begitu ada salah, lebih baik segera diselesaikan,” ucap Abraham dengan lirih.
Ya, ketika sebagai orang beranggapan bahwa untuk meminta maaf dan kembali ke Fitri harus menunggu saat hari raya Idul Fitri tiba, untuk saling maaf-maafan, sejatinya selama ada kesempatan Tuhan memberikan waktu kepada manusia untuk meminta maaf dan mengakui salah, saling meminta maaf, dan juga memulai kembali semuanya dari awal.
“Iya Mas,” balas Marsha dengan menganggukkan kepalanya.
“Kesibukan kamu sekarang apa Saras?” tanya Mama Diah kepada Mama Saraswati.
__ADS_1
“Di rumah saja, Mbak Diah … tidak ada kegiatan. Hanya sesekali saja menilik ke Rumah Produksi,” balasnya.
Kemudian Mama Saraswati menatap kepada Abraham di sana, “Bram, apa kamu mau membantu Tante untuk menjalani Productions House milik Papa kamu? Jujur, Tante jika melakukannya sendirian tidak bisa. Kamu mampu untuk bisa memimping Productions House itu,” ucap Mama Saraswati.
Abraham tidak langsung menjawab, tetapi dia memilih untuk berpikir sejenak. Tidak ingin mengambil keputusan dengan terburu-buru, kemudian Abraham melirik kepada Marsha yang duduk di sampingnya. Terlihat Marsha pun hanya diam, hingga akhirnya Abraham bersuara.
“Bram terima kasih untuk niat baik dari Tante Saras. Hanya saja, Bram tidak ingin terlibat dengan semua properti yang dimiliki almarhum Papa. Semuanya adalah milik Tante dan Melvin, Bram sudah bahagia hidup bersama keluarga kecil, Bram,” ucapnya.
Bahkan dulu ketika Papa usai tiada dan pengacara mengatakan bahwa Abraham akan menjadi ahli waris bersama Melvin, Abraham menolaknya, Sepeser pun Abraham tak menginginkan untuk mengambil apa yang diwariskan Papanya kepadanya. Bagi Abraham, bukan harta kekayaan dunia yang dia harapkan. Yang dia harapkan dulu adalah waktu dan juga kasih sayang dari Papanya ketika masih hidup.
“Padahal kamu sangat potensial, Bram,” balas Mama Saraswati dengan lesu.
Dengan cepat Abraham tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Maaf Tante … tapi, Abraham tidak bisa. Abraham sedang memikirkan proyek untuk keluarga kecil Abraham, jadi Tante bisa mencari orang lain yang lebih tepat,” balasnya.
“Baiklah Bram … Tante tidak akan memaksa, tetapi jika suatu hari kamu berubah pikiran, tolong bantulah Tante,” balasnya.
“Iya Tante,” balas Abraham.
“Ini sudah menjelang makan, Mama Saras makan di sini yah … tadi Marsha dan Mama Diah kebetulan banget membuat Ayam Betutu dan Sate Lilit. Mama Saras suka masakan khas Bali kan?” tawar Marsha sekarang kepada wanita yang dulu pernah menjadi mertuanya itu.
__ADS_1
Hati Mama Saras rasanya begitu perih. Teringat dengan dulu di mana dia selalu mengatakan bahwa masakan Marsha kurang sedap dan kurang rempah, tetapi wanita yang dulu pernah menikah dengan Melvin itu nyatanya masih ingat bahwa dirinya menyukai masakan khas Bali.
“Tidak usah, Sha … Mama justru merepotkan kamu,” balas Mama Saras.
Kemudian Mama Diah menatap kepada Mama Saraswati di sana, “Ayo Saras … makan dulu. Tidak usah sungkan. Kamu sudah mau ke sini, berarti itu adalah hal baik. Akan jauh lebih baik jika kamu mau makan di sini, kita makan bersama,” balasnya.
“Mbak Diah ….”
Hanya itu jawaban yang bisa diberikan Mama Saras, tidak mengira bahwa memang Mama Diah begitu baik. Rasanya hatinya kembali terpukul karena selama ini dia sudah menyakiti seorang yang sudah begitu baik.
“Ayo,” ajak Mama Diah dan menggandeng wanita paruh baya yang memang masih masih di usianya itu menuju ke meja makan.
Marsha yang melihat interaksi Mama Diah dan Mama Saras pun tersenyum, “Tidak mengira ya Mas … dulu yang saling berseteru, kini bisa saling bergandengan tangan dan juga saling memaafkan. Aku terharu rasanya. Mama Diah memiliki hati selapang samudra, luar biasa banget. Belum tentu jika aku ada di posisi beliau, aku bisa melakukan hal yang sama,” ucap Marsha.
Abraham pun merangkul bahu istrinya itu, “Aku tidak akan menduakanmu, Shayang … jadi, kamu tidak perlu berada di posisi Mamaku. Aku tidak menginginkan harta dan jabatan tinggi, aku hanya menginginkan kebahagiaan bersama keluarga kecilku. Aku menginginkan kamu dan Mira bisa bahagia bersamaku, walau kita tidak kaya raya,” balasnya.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, “Itu yang selalu membuatku bangga kepadamu, kamu tidak silau dengan harta duniawi, pangkat dan jabatan. Terima kasih Mas … aku bahagia karena kamu tidak mengambil kesempatan itu,” balas Marsha.
Jujur, Marsha sebenarnya juga kurang nyaman perihal tawaran dari Mama Saras supaya Abraham membantu di Rumah Produksi. Bagaimana pun hubungan Abraham dan juga Melvin masih belum baik. Oleh karena itu, lebih baik tidak turut campur dengan harta dan aset mereka. Toh, hanya dengan menjalani studio foto saja, Abraham bisa membahagiakan istri dan juga anaknya. Hidup selalu lebih indah jika yang menjalaninya memiliki hati yang senantiasa bersyukur.
__ADS_1