Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Memergoki Sendiri


__ADS_3

Melvin melajukan mobilnya menembus lalu lintas di Ibukota. Begitu keluar dari rumah, pria itu tampak bahagia. Seolah tidak ada lagi beban pikiran yang memberatkan kepalanya. Bahkan di dalam mobilnya, Melvin bisa bersiul-siul ria. Setiap ada lagu yang diputar di radio di dalam mobilnya, sesekali Melvin bisa bersiul. Sesekali juga Melvin juga bernyanyi. Seakan-akan, Melvin menunjuk gelagat yang berbeda seperti saat di rumah tadi.


Dengan mengenakan satu earphone bluetooth di telinganya, Melvin kini tampak menghubungi seseorang dengan telepon yang terkoneksi dengan mobil miliknya itu. Sehingga cukup menyalakan bluetooth, dan video player yang ada di mobil bisa melakukan panggilan.


“Halo,” sapa Melvin dengan masih mengemudikan mobilnya.


“Hmm, halo … ada apa Vin?” jawab seseorang yang sekarang tengah Melvin hubungi.


“Bisa ketemuan sekarang gak?” tanya Melvin sekarang ini.


“Bisa, ke mana? Cuma aku malas untuk keluar. Jam segini pasti baru macet-macetnya,” balas seseorang yang rupanya berjenis kelamin wanita itu saat menjawab telepon dari Melvin.


“Aku yang ke tempatmu saja,” balas Melvin.


“Oke, boleh kok … ke apart aku aja yah.” balas wanita itu lagi.


“Oke, aku ke sana. Lima belas menit lagi, aku sampai. Sambut aku yah.” balas Melvin dan kemudian mematikan sambungan teleponnya itu.


Usai menelpon, Melvin kembali bersiul. Semua masalah, semua pikiran yang semula dia tunjukkan saat di rumah, nyatanya sekarang bisa benar-benar musnah sudah. Yang ada hanyalah Melvin yang kini terlihat begitu semangat, bahagia, dan memiliki mood yang baik.


Berkendara selama hampir 20 menit, barulah Melvin tiba di salah satu apartemen di bilangan Jakarta Timur itu. Kemudian Melvin pun buru-buru memberikan pesan kepada wanita yang semula dihubungi.


[To: Miss L]


[Aku sudah di lift sekarang.]


[Ingat, sambut aku.]

__ADS_1


[Jangan sampai aku mengetuk pintu.]


[Namun, bukakan pintu untukku.]


Melvin mengirimkan pesan-pesan itu dengan tersenyum. Saat ini pria itu mengenakan kacamata hitam dan sebuah topi yang tentu untuk menyamarkan penampilannya. Bagaimana pun, Melvin tak ingin publik tahu siapa dia yang sebenarnya.


Pria itu menekan angka 14 di lift yang sekarang dia naiki. Dalam hatinya, Melvin memang berharap akan ada yang menyambutnya, tanpa dia harus mengetuk pintu terlebih dahulu.


Menjejakkan kaki di lantai 14, rupanya seorang wanita cantik sudah berdiri di depan pintu. Wanita dengan rambut berwarna hitam kecokelatan sebahu kini berdiri dan menyandarkan punggungnya di depan pintu. Seolah tengah menunggu seseorang di sana.


Di saat yang bersamaan, Marsha juga tengah keluar dan hendak membeli makanan dari restoran yang ada di bawah apartemen itu. Marsha memilih pergi menggunakan masker untuk menutupi wajahnya, tetapi secara samar Marsha melirik ke wanita cantik yang tengah berdiri di depan pintu itu. Hingga di depan lift, Marsha melihat Melvin yang keluar dari lift dan membuka kedua tangannya ke arah wanita cantik yang menunggunya di depan pintu itu.


Jantung Marsha rasanya berdebar-debar. Dia tahu bahwa pria itu adalah Melvin karena dari topi berwarna hitam yang dipakai Melvin dengan bordiran huruf M yang adalah pemberiannya. Juga aroma parfum kombinasi Sandalwood dan Peppermint yang sangat familiar di indera penciuman Marsha. Selain itu, Melvin mengenak kemeja kotak-kotak yang juga Marsha belikan untuk pria itu. Di dalam lift, Marsha pun bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi antara Melvin dan wanita yang tinggal berdampingan dengan unit apartemennya itu.


Berusaha tenang, dan tidak terpengaruh. Nyatanya Marsha tetap saja panik dan ada rasa takut jika sampai Melvin akan menemukannya di apartemen itu. Namun, jika melihat bahwa pria itu terlihat bahagia bersama wanita cantik itu, mungkinkah tanpa sepengetahuannya Melvin juga berselingkuh?


Meninggalkan Marsha dengan semua pikirannya. Di unit apartemen milik wanita cantik itu, masih di depan pintu, Melvin pun memeluk wanita cantik.


“You are very busy,” balas wanita itu sembari mengepalkan tangannya dan memukul dada Melvin.


“Give me a hug (beri aku sebuah pelukan),” ucap Melvin yang sudah membuka kedua tangannya dan meminta wanita cantik itu untuk segera masuk ke dalam pelukannya.


Tanpa menunggu lama, wanita cantik itu tersenyum dan segera memeluk Melvin di sana. Tidak peduli bahwa mereka masih berada di koridor apartemen, karena memang keduanya belum memasuki unit apartemen milik wanita itu.


“Tumben kamu mau menemuiku di sini,” ucap wanita itu yang masih saja membenamkan kepalanya di dada bidang Melvin.


“Should we playing together? (Mungkinkah kita bisa ‘bermain’ bersama?)” tanya Melvin yang kali ini menyibak untaian rambut wanita itu yang tergerai dan juga mendaratkan sebuah gigitan di kuping wanita itu.

__ADS_1


Tentu saja gigitan itu bukan hanya sekadar gigitan, tetapi mengisyaratkan untuk menghantarkan partikel-partikel atom yang bisa dengan mudahnya menyulut gelenyar asing pada diri wanita itu.


“Tentu bisa,” sahut wanita itu sembari sedikit berjinjit, dan berbicara tepat di depan bibir Melvin.


Bibir yang mengenakan pemulas berwarna pink cherry itu kian mendekat, hingga mengecup lembut permukaan bibir Melvin. Itu semua sudah cukup menjadi bukti bahwa keduanya akan beradu di atas ranjang. Saling memuaskan hasrat masing-masing.


Tanpa menunggu waktu lama, wanita cantik itu menarik kerah kemeja Melvin, dan segera memagut bibir Melvin terlebih dahulu. Bermain-main dengan bibir pria itu. Sedikit bergerak dan kini keduanya sudah masuk ke dalam unit apartemen milik wanita cantik itu. Kendati demikian, pintu unit itu belum sepenuhnya tertutup dengan sempurna. Ada celah yang tersisa, sehingga memungkin orang yang lewat di koridor itu bisa saja mendengar suara-suara dan lenguhan yang berasal dari kamar itu.


Tanpa menunggu waktu lama, rupanya di sofa yang ada di ruang tamu, Melvin membawa tubuh wanita itu dalam pangkuannya, dengan tubuh yang sudah begitu polos. Tangan Melvin meriap di atas tubuh wanita itu, menyusuri setiap lekuk-lekuk feminitas di sana, dengan alat vital yang saling bertaut satu sama lain. Di sebuah sofa, dengan mendudukkan wanita itu dalam pangkuannya membuat Melvin dengan leluasa mendaratkan cumbuan demi cumbuan, gigitan demi gigitan, dan juga remasan demi remasan di area dada wanita cantik itu.


“Ah, Babe,” lenguhan pun keluar juga dari bibir wanita itu sangat Melvin menggerakkan pinggul wanita itu untuk bergerak dan mengikuti instingnya.


“Ah, astaga,” racau wanita itu yang benar-benar diterpa badai kenikmatan dalam pangkuan Melvin.


Berapa lama mereka bermain bersama, sampai tidak menyadari ada sosok yang perlahan berjalan, dan mendengarkan suara-suara erotis dari unit itu. Kian penasaran, sampai sosok itu yang tak lain adalah Marsha mengintip dari celah pintu unit di sebelahnya yang memang tidak seberapa itu.


Retina mata Marsha membesar saat dia pada akhirnya mendapati suaminya yang tengah bermain dengan wanita cantik yang tadi dia temui. Rasanya jantung Marsha berdegup dengan begitu kencangnya, keringat dingin mengucur begitu saja dari kening hingga badannya, dan air mata yang tanpa permisi berlinangan begitu saja dari sudut matanya. Marsha masih mematung di depan pintu itu. Menangis dalam diam, terisak tanpa suara, hatinya terlalu sakit, bagai disentil dengan begitu kerasnya sampai akhirnya Marsha memejamkan matanya dengan dramatis. Di luar sepengetahuannya rupanya suaminya sendiri juga bermain hati bahwa sudah ‘kuda-kudaan’ dengan wanita lain.


Marsha kira, selama ini Melvin hanya sibuk untuk syuting stripping. Rupanya sekarang barulah Marsha mengetahui sebuah fakta bahwa suaminya itu ternyata bisa meluangkan waktu dan bermain-main dengan wanita cantik itu. Kian hancur hati Marsha.


Berarti bukan hanya dirinya yang berkhianat dan bermain api, Melvin pun sudah melakukan hal yang sama dan melebihi dari apa yang dia lakukan bersama Abraham.


“Oh, luar biasa sekali, Lista,” geram Melvin kali ini.


Sementara di luar pintu unit apartemen itu Marsha masih berdiri mematung. Hatinya rasanya kian dihantam sebuah batu besar saat Melvin menyebut nama wanita itu.


“Lista, Lista, Oh … astaga,” racauan Melvin kian menjadi-jadi di dalam sana.

__ADS_1


Di satu sisi Marsha memilih pergi dan segera masuk ke dalam unit apartemennya.


“Lista, kamu bilang Lista, Vin? Berarti sudah pasti dia bukan sepupu kamu. Mana mungkin sepupuan melakukan permainan gila bersama,” gumam Marsha dengan lirih sembari memegangi dadanya yang terasa sesak.


__ADS_2