Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Mencari Properti


__ADS_3

Kembali pulang ke unit apartemennya, tentu Marsha dan Abraham sama-sama bingung. Akan tetapi, di hadapan Mama Diah keduanya berusaha untuk baik-baik saja. Ya, Marsha yang memilih memandikan Mira dan memberikan ASI untuk bayi kecilnya itu, sementara Abraham memilih untuk mandi dan bersiap ke studio foto.


Sementara pepes Ikan Mas, juga sudah dimasak tadi oleh Marsha dengan bantuan Mama Diah. Sebelum keluar dari kamarnya, rupanya Abraham berbicara sebentar dengan Marsha yang masih meng-ASI-hi baby Mira.


“Shayang, hari ini mungkin saja aku akan pulang terlambat yah,” pamitnya.


"Mau kemana emangnya Mas?" tanya Marsha.


"Aku mau menemui Pak Belva dulu, Shayang ... siapa tahu ada perumahan dengan harga yang cocok di kantong. Sebab, kita harus bergerak cepat," balas Abraham.


Marsha pun merespons ucapan Abraham dengan menganggukkan kepalanya, "Baiklah Mas ... yang penting hati-hati ya Mas. Kalau bisa sih jangan pulang terlalu malam, soalnya aku dan Mira bakalan kangen," balas Marsha.


Dengan cepat Abraham pun duduk di samping Marsha dan merangkul bahu istrinya itu, "Iya ... kalau sudah selesai, aku juga bakalan cepat pulang. Siapa tahu kan sama Bosnya properti bisa dapat harga miring, tanpa melewati harga marketing yang jauh lebih mahal," balas Abraham.


"Benar Mas ... maaf ya Mas, jadi merepotkan kamu," balas Marsha.


"Tidak merepotkan Sayang ... namanya rumah tangga ya seperti ini. Ada kalanya cobaan dan masalah itu datang, yang penting kita berdua bisa bergandengan tangan dan mengatasi semuanya bersama-sama," balas Abraham.


Apa yang Abraham katakan sepenuhnya benar, bahwa inilah rumah tangga dengan berbagai cerita, kasih sayang, bahkan masalah yang datang menyapa. Hanya saja, seberat apa pun masalah yang datang bisa dihadapi bersama jika memang kedua tangan saling bertaut, kedua hati saling menyatu, dan kedua iman kian kuat untuk menghadapi setiap aral dan rintangan yang datang.


"Makasih banget Mas ... terima kasih Papa," balas Marsha.


Abraham pun menghela nafas dan kemudian tersenyum kepada Marsha dan juga Mira, "Sama-sama. Kamu jangan berpikiran aneh-aneh, nanti kalau kamu berpikiran berat, justru berefek ke ASI kamu. Ingat, Busui harus selalu bahagia, jangan sampai berpikir berat dan nanti kasihan Mira kalau sampai ASI kamu tidak keluar," ucap Abraham yang memperingatkan Marsha.


"Iya-iya, aku gak akan berpikiran yang aneh-aneh. Cuma kabari aku ya Mas ... aku selalu tunggu kabar dari kamu," balas Marsha.

__ADS_1


"Tentu Shayang ... ya sudah, keluar yuk. Kelamaan di dalam nanti Mama malahan curiga," balas Abraham yang mengajak Marsha untuk keluar dari kamar.


Pagi itu pun suasana di meja makan terasa biasa saja. Baik Marsha dan Abraham bisa menjaga raut wajah dan sikap mereka, sehingga Mama Diah tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pagi tadi. Sampai Abraham pun berangkat bekerja dan berpamitan kepada Mamanya dan juga Marsha.


***


Siang harinya ...


Setelah terlebih dahulu menghubungi nomor telepon Pak Belva, rupanya siang ini Abraham diminta langsung menuju ke perusahaan CEO itu yang berada di pusat Ibukota. Tidak membuang-buang kesempatan, Abraham pun segera meluncur dan segera menemui Belva Agastya di perusahaan miliknya. Pria itu menemui resepsionis yang berada di lobby dan mengatakan bahwa dia ada perlu dan janji dengan sang CEO. Untung saja, tidak menunggu lama, Abraham segera dipersilakan masuk ke ruangan CEO yang ada di lantai tertinggi bangunan bertingkat 12 itu.


Seorang sekretaris Pak Belva pun menyambut Abraham, dan mempersilakannya untuk masuk ke dalam ruangannya. "Bos, tamunya sudah datang nih," ucap Ridwan yang adalah sekretaris pribadi Pak Belva.


"Ya, masuk Bram," balas Pak Belva.


Abraham pun segera masuk dan duduk di sebuah sofa yang berada di dalam ruangan CEO itu. Tampak malu sebenarnya, tetapi mumpung Abraham memiliki kenalan pengusaha properti, sehingga Abraham lebih baik bertanya kepada Pak Belva sekalian.


"Begini Bos ... sebenarnya saya butuh bantuan dari Bos," balas Abraham.


Tampak Belva mengernyitkan keningnya. Selama bertahun-tahun mengenal Abraham, bisa dibilang baru kali saja, Abraham berbicara dengan langsung dan menyatakan membutuhkan bantuannya. Oleh karena Belva merasa sudah mengenal baik Abraham, Belva pun ingin tahu terlebih dahulu bantuan seperti apa yang Abraham harapkan darinya.


"Ada apa? Cerita dulu?" balas Belva yang memberikan waktu kepada Abraham untuk bercerita kepadanya.


"Begini Pak Belva, mungkin ada properti berupa perumahan dengan harga yang tidak terlalu tinggi?" tanya Abraham dengan to the point.


"Ada, perumahan untuk rakyat bersubsidi pun ada kalau mau," balas Belva Agastya.

__ADS_1


"Ya, tidak bersubsidi juga tidak apa-apa sih, Bos ... tetapi yang pas saja di kantong," balas Abraham.


"Untuk siapa?" tanya Pak Belva lagi.


"Untuk saya sih Bos ... rencananya saya ingin menjual unit apartemen saya dan juga menggantikannya dengan membeli perumahan. Mengingat sekarang ada Baby Mira, pasti perumahan dengan sedikit halaman hijau jauh lebih baik dan lebih sehat untuk Mira," balasnya.


Pak Belva pun menganggukkan kepalanya, sebagai seorang pria yang juga sudah memiliki anak, Belva tahu bahwa rumah dengan halaman adalah lebih baik bagi keluarga yang sudah memiliki anak. Sebab, kedua anak Belva pun sangat suka bermain-main, earthing time di taman yang sengaja dia bangun di dekat kolam renang.


"Ah, untuk kamu sendiri? Saya bisa memberikan satu rumah untuk kamu," balas Pak Belva dengan begitu mudahnya.


Akan tetapi, dengan cepat Abraham menggelengkan kepalanya. Merasa tidak enak dengan tawaran yang diberikan oleh Pak Belva kepadanya.


"Jangan Pak Belva ... tujuan saya ke mari karena saya ingin mencari dan membeli perumahan dari Agastya Properti yang dikenal memiliki desain rumah dengan beberapa tipe dan beberapa harga tentunya. Lagipula, untuk anak dan istri saya, saya mau memberikan dari hasil keringat saya," balas Abraham.


"Masalah uang sih gampang Bram ... kamu pindah dulu juga tidak apa-apa. Apa, begini saja ... kamu tempatin dulu, ketika apartemenmu sudah terjual, barulah kamu gunakan uang itu untuk membayar saya, bagaimana?" tawa Pak Belva.


Abraham diam, kali ini dia harus berpikir dengan matang-matang. Dia memang bukan pria kaya raya dengan aset miliayaran rupiah. Hanya saja Abraham tetap memiliki sejumlah tabungan untuk Marsha dan Mira. Tidak mungkin juga Abraham akan mencari sebuah perumahan tanpa ada tabungan sebelumnya.


"Jangan berpikir sungkan dan tidak sungkan, Bram ... bagi saya, kamu itu sudah seperti saudara saya. Kita saling mengenal sudah sejak lama, bahkan sejak mendiang Anin masih ada. Jadi, tidak apa-apa. Saya percaya sama kamu. Kamu pilih dan tempati dulu dan nanti begitu unit apartemenmu terjual, barulah kamu membayar saya," ucap Pak Belva lagi.


Berhadapan dengan orang yang begitu baik hati, justru membuat Abraham merasa tidak enak hati. Dibantu seperti ini justru adalah sebuah berkah yang sangat besar.


"Sebenarnya, ada satu hal lagi yang membuat saya mencari rumah, Bos," ucap Abraham kali ini.


"Saya tahu, Bram ... pasti keluarnya aktor berinisial MA itu kan?" tanya Pak Belva dengan tiba-tiba.

__ADS_1


Dengan cepat Abraham menganggukkan kepalanya, "Benar Bos ... terlebih aktor itu memiliki wanita simpan yang tinggal satu apartemen dengan saya. Rasanya saya harus bergerak cepat untuk melindungi Marsha dan Mira, anak kami. Saya tidak ingin kecolongan dan mengancam keselamatan mereka berdua," aku Abraham dengan jujur.


Belva kemudian menatap Abraham, "Jika aku berada di posisimu, aku juga akan melakukan hal yang sama, Bram. Keselamatan istri dan anak-anak kita adalah yang paling utama," balas Belva.


__ADS_2