Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Efek Hujan


__ADS_3

Baru saja, keduanya berbicara dan kembali mendengarkan detak jantung babynya melalui  handphonenya, tidak terasa hujan pun tiba-tiba turun dengan begitu deras. Marsha pun beranjak dari atas tempat tidur, melihat hujan yang turun dari balik kaca jendela apartemennya.


Jalanan yang sudah basah, sementara mobil masih berlalu-lalang di jalan raya. Sementara curah hujan turun dengan begitu derasnya.


“Hujan Mas,” ucapnya sembari mengamati hujan malam itu.


“Enak dong Shayang … hujan-hujan. Abis nafkah lahir, enaknya nafkah batin,” celetuk Abraham dengan tiba-tiba.


Marsha yang mendengarkan ucapan dari suaminya, wanita itu tersenyum. Menoleh ke arah suaminya, “Kamu bisa aja deh,” ucap Marsha.


Abraham berdiri, tidak memerlukan izin, dia berdiri di belakang Marsha, dan mendekap erat tubuh istrinya itu. Dengan mata yang sama-sama mengamati panorama malam dengan rinai hujan yang begitu derasnya. Ada kalanya, Marsha ingin keluar dan merasakan setiap tetesan hujan itu serasa langsung. Akan tetapi, mengingat dirinya hamil, sudah tentu dia harus lebih menjaga kesehatannya.


“Hujan gini romantis ya Shayang … kayak usai bulan madu di Semarang dulu, malahan hujan terus. Seakan hujan berbaik hati untuk pengantin baru kayak kita ini,” ucap Abraham dengan tiba-tiba.


“Hmm, maksudnya gimana Mas?” tanyanya.


Abraham terkekeh geli, kemudian pria itu menundukkan wajahnya, hingga dagunya berada di puncak bahu Marsha, “Supaya pengantin baru bisa mencari kehangatannya sendiri,” balas Abraham.


Ah, agaknya kali ini Marsha tahu apa yang tengah dibicarakan suaminya itu. Kemudian Marsha pun tersenyum, tangannya mengusapi tangan suaminya yang melingkari perut hingga bawah dadanya itu.


“Kamu paling pinter deh,” ucap Marsha.


Abraham terkekeh geli, pria itu kemudian menyibak helaian rambut Marsha, dengan sengaja dia meniupkan nafasnya di tengkuk Marsha, dan mengecupinya perlahan. Tidak perlu menunggu waktu lama, seketika itu juga Marsha menghela nafas dan menggigit bibir bagian dalamnya. Hanya sekadar ditiup tengkuknya saja, Marsha sudah merasakan gelenyar asing hingga seluruh bulu romanya berdiri.

__ADS_1


Abraham kian menggoda, kali ini bukan hanya tiupan, melainkan kecupan yang Abraham berikan mulai dari tengkuk, hingga sisi garis leher Marsha, kian turun hingga ke tulang selangkanya. Sedikit menarik kaos yang Marsha kenakan di bahunya, dan memberikan kecupan yang hangat dan basah di sana. Keduanya sama-sama diam, tetapi Abraham yakin bahwa Marsha akan tersulut dengan tindakannya. Tangan Abraham yang semula hanya melingkari tubuh Marsha, perlahan bergerak dan memberikan usapan yang lembut, dan sedikit remasan di dua buah persiknya.


Oh, Tuhan, Marsha agaknya tak mampu bertahan dengan godaan yang dia berikan. Sekuat mungkin dia menahan nafas dan menggigit bibir bagian dalamnya sendiri, justru kian meledak dirinya dari setiap kecupan, rabaan, dan remasan yang Abraham berikan. Kali pertama Marsha merasakan sensasi seperti ini. Memberikan stimulasi dari kecupan di tengkuk hingga rabaan seperti ini. Dirinya melayang, dirinya gelisah, tetapi enggan untuk berhenti.


Kian nakal stimulasi yang Abraham berikan, sampai tangan itu menyelinap di kaos yang Marsha kenakan, memberikan rabaan di perut Marsha yang sedikit membuncit, dan memberikan remasan di buah persik Marsha.


“Hh, Mas,” de-sah Marsha. Tak bisa lagi menahan untuk tidak mende-sah merasakan terpaan gelombang yang menyapanya.


Sedikit membawa satu tangannya keluar, Abraham mengambil remote untuk menutup tirai yang ada di dalam kamarnya. Supaya terasa lebih privasi, walau Abraham yakin bahwa kegiatannya dengan Marsha juga tak akan terlihat dari luar. Merasa bahwa suasana sudah aman, Abraham menyingkap kaos yang Marsha kenakan ke atas, hingga buah persik miliknya tersembul dengan sempurna. Abraham menarik pengait yang ada di punggung Marsha, kemudian mengeluarkan kedua buah persik yang begitu menggoda itu dari wadahnya. Tangannya kini bukan hanya sekadar meraba dan menyisir permukaan kulit Marsha, tetapi juga memberikan remasan dengan sedikit tekanan, memberikan cubitan demi cubitan, dan bahkan memilin puncak buah persiknya.


Kedua mata Marsha kian terpejam. Sungguh, ini sensasi yang benar-benar gila. Sangat gila, sampai Marsha merapatkan kedua kakinya, wajahnya menengadah, sampai bersandar di dada Abraham.


“Mas, hh … Mas,” ucap Marsha saat jari-jari Abraham dengan lincahnya memilin puncak buah persiknya.


Dalam kondisi limbung seperti ini, bisa-bisanya Abraham masih bertanya apakah rasanya enak. Sungguh, dari wajah Marsha yang memerah, dari helaan nafasnya, hingga dari de-sahannya bukankah itu sudah menjadi bukti bahwa semua ini lebih dari sekadar kata ‘enak’.


Tak mendapat jawaban, Abraham membalikkan tubuh Marsha hingga kini keduanya bisa berhadap-hadapan. Abraham tersenyum melihat wajah Marsha yang sudah memerah di sana. Abraham kemudian menunduk, dan dia dengan segera menenggelamkan satu buah persik milik Marsha ke dalam rongga mulutnya yang hangat. Menggoda dengan usapan lidahnya, menghisapnya, dan bahkan memberikan gigitan demi gigitan di puncaknya. Sementara tangan yang satunya masih memberikan remasan dan pilinan di sana. Kian Marsha mende-sah, kian Abraham terpacu untuk bisa memuja istrinya itu dengan caranya.


Hingga tangan Marsha terulur dan memberikan remasan di rambut Abraham. Rasanya, Marsha benar-benar ingin menggelamkan Abraham di dadanya. Membiarkan pria itu bermain-main dengan miliknya.


Tangan Abraham kembali menyisiri tubuh Marsha, dan kini tangannya dengan sengaja menyusup di celana yang kenakan Marsha, jari telunjuknya memberikan godaan di sana. Kian limbunglah Marsha. Suaminya benar-benar melakukan semuanya dengan lembut dan memabukkan. Abraham seolah tak ragu untuk menabur bubuk candu.


Tak mampu bertahan, Marsha mengurai tangan Abraham, kemudian Marsha membawa tangannya untuk meraba dan menggerakkan pusaka suaminya yang sepenuhnya sudah mengeras. Bahkan Marsha tak ragu untuk sedikit berjongkok dan menenggelamkan milik suaminya itu dalam rongga mulutnya.

__ADS_1


Abraham menghela nafas, pria itu meracau dengan mata yang terpejam sempurna. “Huh, enak Shayang … nikmat Shayang,” ucapnya dengan memegangi kepala Marsha.


Namun, Abraham tak membiarkan Marsha berlama-lama di sana. Abraham dengan segera melepaskan kaosnya. Pria itu tampil polos mutlak di hadapan Marsha, kemudian dengan perlahan membawa Marsha untuk rebah di atas ranjang. Bak gelap mata, Abraham membuka kedua paha Marsha, pria itu memegangi pinggangnya, dan mulai menghujamkan pusakanya di cawan surgawi milik Marsha.


Marsha menghentikan gerakannya, memberi waktu bagi keduanya untuk sama-sama menyesuaikan diri. Kesan hangat dan basah, serta cengkeraman di bawah sana sudah menyambut Abraham. Beberapa kali Abraham sampai menghela nafas, dan kemudian perlahan menghujam pusakanya kembali. Keluar dan masuk, menghujam dan menusuk, gerakan seduktif yang semula pelan dengan ritme yang senada, perlahan pun kian bertambah kecepatannya.


Pegangan tangan Marsha di tubuh Abraham kian kuat, sangat Abraham terus-menerus memberikan hujaman.


“Mas … Mas, aku ….”


Nafas Marsha yang terengah-engah, menjadi isyarat nyata bahwa dirinya hendak mengalami pelepasan entah untuk yang keberapa kali.


“Ya Shayang … aku sebentar lagi,” balas Abraham dengan menyatukan tubuhnya dengan Marsha.


Abraham kini mencium bibir Marsha dengan nafas yang memburu. Berusaha bertahan sebelum dirinya benar-benar nyaris meledak. Ringikan dan de-sahan dari Marsha untuk membuat Abraham kian memacu untuk menggerakkan pinggulnya.


Abraham menggeram, pria itu mulai merasa tubuhnya bergetar. Kali ini Abraham benar-benar meledak. Cengkeraman cawan surgawi yang kian erat dan hangat, hingga membuat miliknya terperangkap di bawah sana.


“Ahh, Shayang,” geram Abraham saat pria itu kini benar-benar meledak.


Tubuhnya bergetar hebat, Abraham rubuh di atas tubuh Marsha dengan peluh yang begitu banyak, dan juga dengan nafas yang memburu hebat.


Efek hujan bagi pasangan pengantin memang luar biasa. Seolah rinai hujan yang turun justru menyulut hasrat bagi keduanya untuk bercinta dan mereguk nektar cinta yang berbalut kenikmatan itu.

__ADS_1


__ADS_2