Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Conjugal Visit


__ADS_3

Melihat Lista yang menangis sungguh membuat hati Melvin cukup sedih. Sepenuhnya Melvin tahu bahwa ada kalanya para wanita membutuhkan kepastian dan pengakuan. Hanya saja, Melvin merasa masih belum bisa untuk kembali terikat dalam kehidupan rumah tangga.


Apalagi setelah perceraiannya dengan Marsha, yang pada akhirnya membuatnya harus vakum dari dunia keartisan, dan mendekam di jeruji besi. Tidak ingin terjerat pernikahan hingga akhirnya membuatnya mengulangi masa yang pahit dan pelik ini. Lagipula, untuk kebutuhan Lista, Melvin bisa mencukupinya. Jadi, cukup menunjang kehidupan Lista saja dan semuanya akan menjadi beres.


"Jangan menangis, Lista ... semua orang dan petugas bisa melihatmu," ucap Melvin dengan lirih.


Akan tetapi, Lista nyatanya masih berusaha menahan tangisannya dengan isakan yang tertahan. Sesekali bahu wanita itu bergetar dan air mata yang memenuhi wajahnya.


Melihat Lista yang terlihat emosional. dan ada petugas yang melihat Lista yang sedang menangis. Maka Melvin berdiri, kali ini dengan terpaksa Melvin meminta izin kepada petugas lembaga permasyarakatan untuk menyewa sebuah ruangan yang biasanya digunakan untuk Conjugal Visit.


Conjugal visir adalah ruangan khusus yang biasanya disediakan oleh rumah tahanan atau lembaga permasyarakatan untuk narapidana secara khusus. Di ruangan ini, mereka yang tengah dikunjungi bisa berbicara dengan lebih intens tanpa harus malu ditatap oleh petugas atau para narapidana yang lain. Misalnya, seorang anak bisa mengunjungi orang tuanya yang tengah ditahan untuk melepaskan rasa rindu. Pun demikian dengan istri yang mengunjungi suaminya yang tengah ditahan.


"Ayo, ikut aku sebentar," ajak Melvin kepada Lista untuk mengikutinya.


Keduanya berjalan mengikuti petugas Lembaga Permasyarakatan yang berjalan terlebih dahulu di depannya, berjalan menuju arah belakang lapas. Hingga akhirnya memasuki salah satu ruangan yang berukuran cukup sempit. Ya, ruangan itu luasnya hanya 2 x 3 meter saja.


"Silakan Mas Melvin," ucap petugas lembaga permasyarakatan itu. Setelah Melvin dan Lista memasuki ruangan ini, petugas pun segera mengunci ruangan itu dari luar.


Lista mengedarkan matanya, melihat ruangan yang sempit dengan kamar mandi dalam di dalamnya dan juga dengan kipas angin yang menempel di tembok.

__ADS_1


"Kita mau ngapain?" tanya Lista dengan was-was. "Kenapa kita dikunciin?"


Melvin pun menganggukkan kepalanya, "Iya, aku menyewanya satu jam, ini namanya bilik HSI (Hubungan Suami Istri)," jawabnya dengan tenang.


Setelahnya, Melvin mengikis jaraknya dengan Lista, pria itu menyeka sisa-sisa air mata di sudut mata Lista.


"Jangan menangis ... aku bersalah. Aku memang belum bisa memberikan hubungan sah kepadamu. Hanya saja, aku butuh waktu untuk menyelesaikan semuanya. Setelah rumah tanggaku hancur, rasanya aku butuh waktu untuk kembali berkomitmen dengan seorang wanita," jelas Melvin kepada Lista.


"Sampai kapan?" tanya Lista.


Melvin menggelengkan kepalanya, tidak bisa memberikan jawaban kepada Lista. Melihat gelengan kepala Melvin, tangisan Lista benar-benar pecah. Entah sampai kapan dirinya bisa bertahan menjalani semuanya. Harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Harapannya bisa menjadi Nyonya Melvin Andrian menggantikan Marsha, tetapi Melvin nyatanya tidak bisa berkomitmen dengan wanita dalam waktu dekat.


Tidak bisa dibendung lagi, kali ini Lista benar-benar menangis di dalam pelukan Melvin. Tidak mengira, di bilik yang begitu sempit ini, Lista bisa memeluk Melvin. Memeluk pria tampan partner ranjangnya itu tanpa harus malu diperhatikan oleh orang lain atau petugas lembaga pemasyarakatan.


Tangan Melvin bergerak dan memberikan usapan di punggung Lista. Apalagi usai melihat foto Marsha yang hamil, rasanya justru kian kuat Melvin tidak ingin mengakhiri masa dudanya dengan segera.


"Aku kangen kamu," pengakuan itu meluncur begitu saja dari bibir Lista.


Mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Lista, Melvin pun menangkup wajah Lista dengan kedua tangannya, pria itu sedikit menunduk dan mengecupi bibir Lista. Berusaha menyampaikan hasrat terpendamnya yang dia tahan dan simpan selama ini. Hingga akhirnya, pria itu pun berbicara lirih kepada Lista, “Boleh?”

__ADS_1


Sebuah pertanyaan sederhana yang akan menuju ke kegiatan yang rumit dan sama sekali tidak sederhana.


Lista belum menjawab, wanita itu mengamati pada bilik berukuran 2x3 meter itu. “Di sini?” tanyanya.


Melvin kemudian mengangguk, “Iya … inilah bilik hubungan suami istri atau bilik asmara itu,” jawabnya.


“Apakah aman?” tanya Lista lagi.


Melvin mengangguk lagi, “Petugas lapas saja menguncinya dari luar. Pasti aman, aku sudah menyewanya,” jawabnya lagi.


“Kamu yakin?” seolah Lista tidak yakin jika berada di dalam bilik itu akan benar-benar aman.


Melvin pun mengangguk, “Iya, 15 menit lagi tidak apa-apa. Bagaimana?”


Untuk waktu menyewa bilik asmara selama satu jam, agaknya bisa dimanfaatkan Melvin dengan kilat untuk bermain sejenak dengan Lista. Lagipula dalam sepuluh bulan, uang bulanan untuk Lista tetap diatur oleh managernya, jadi Melvin bisa berpikir untuk menuntaskan hasratnya untuk sekilat mungkin.


"Tempat ini tidak layak Melvin," balas Lista.


Sungguh, baginya yang terbiasa menikmati kegiatan panas bersama Melvin di hotel berbintang atau di apartemennya, dan sekarang diajak untuk melakukan kegiatan panas hanya di sebuah bilik, tentu saja Lista menolaknya. Tidak mungkin dirinya bercinta dengan Melvin hanya di sebuah single bed yang digelar begitu saja di atas lantai, keamanan di sini pun tidak meyakinkan. Rasanya kali ini, Lista enggan mengikuti kemauan Melvin.

__ADS_1


__ADS_2