
Setiap persalinan selalu memiliki cerita. Itulah yang sedang dibahas Sara dan Marsha sekarang ini. Walau Sara sudah pernah melahirkan tiga kali, dan Marsha melahirkan dua kali, tetap saja setiap anak memiliki kisahnya masing-masing. Sehingga para Papa muda pun juga setuju bahwa persalinan setiap anak juga memiliki kisahnya tersendiri.
"Itu benar ... aku walau sudah tiga kali mendampingi Ibu Negara bersalin, tetap saja rasanya istimewa. Kepanikannya, kesedihannya, bahkan kebahagiaannya. Rasa tak kuasa melihat Sara kesakitan ketika melahirkan Evan. Juga, kepanikan saat menjelang persalinan Caesar sewaktu melahirkan Elkan. Kemudian kesiapan Sara saat melahirkan Eiffel. Semuanya punya kisah sendiri-sendiri," cerita Belva kepada Marsha dan Abraham.
"Sama Bos ... saya juga. Waktu Mira itu luar biasa, saya lihat sendiri kepala bayinya keluar dari jalan lahir. Di antara semua darah dan air yang keluar, ada satu yang putih dan itu adalah bayiku, Mira. Itu sampai merinding dan tidak bisa dilupakan. Sementara di persalinan Marvel kemarin, mendengar bunyi peralatan medis itu yang bikin serem. Luar biasa," cerita Abraham.
"Sama Bram ... aku yang Evan juga begitu. Cuma, anak pertama sangat berkesan. Aku menanti begitu lama untuk bisa mendapatkan Evan, sampai Sara lah yang bisa mewujudkannya. Melihat langsung persalinan normal yang membuatku gak bisa berkata-kata, sesakit itu. Aku yang melihatnya saja kesakitan. Apa lagi yang merasakannya," balas Belva.
Sara pun tersenyum di sana, "Emang masih ingat Mas?" tanyanya.
"Masih Sayang ... dan akan selalu ingat. Tidak mungkin tidak ingat," balasnya.
"Makanya jangan selingkuh. Awas kalau berani selingkuh. Tidak punya anak, mintanya anak ... ketika istrinya sudah tidak menarik, cari di luar. Awas yah, pisau di rumah menganggur itu," balas Sara dengan terlihat judes.
Marsha yang mendengarkannya pun tertawa, "Ihh, Bu Sara serem juga," balasnya.
"Harus, Sha ... jangan lemah. Kalau mau macem-macem, aku bisa lakukan suntik vasektomi ke kamu, kalau bisa yang lebih lagi."
"Ya ampun, Sayang ... gak akan lah. Apa perlu aku kerja dari rumah saja ya Yang ... biar lihat dan ketemu kamu terus. Wah, istriku setelah beranak tiga jadi galak," balas Belva.
"Kamu jangan galak-galak ya Shayang ... aku takut," balas Abraham kepada istrinya kemudian.
Marsha pun tersenyum di sana, "Aku sih sealiran sama Mama Diah. Kalau kamu nakal di luar sana, dikhitanin aja," balasnya.
__ADS_1
Abraham dan Belva kemudian sama-sama menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. "Para Nyonya kita, jadi serem ya Bram. Kalau sudah menampakkan taringnya, rasanya para suami sudah deh ngeram aja di rumah," balas Belva dengan tertawa.
"Cuma, kalau saya gak ada deh Bos ... sudah bucin maksimal sama Marsha," balas Abraham kemudian.
Pernyataan Abraham rupanya membuat Marsha terkekeh pelan di sana, dan menatap suaminya itu. "Ah, kamu ini ada-ada aja sih Mas ... malu tahu," balasnya.
"Tidak apa-apa, Sha ... memang harusnya bucin kok. Kan cinta," balas Sara.
Marsha kemudian tampak menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya Bu Sara ... cinta. Makanya melihat para suami yang mau menemani istrinya melahirkan itu, luar biasa ... bukti cinta yang besar dari suami kepada istrinya. Mereka mau menemani dan melihat sakitnya istri," balas Marsha.
"Setuju, Sha ... tidak hanya andil untuk menanam benih ya, tapi ketika melahirkan buah hati harus menemani. Menjadi seorang wanita itu tidak mudah," balas Sara.
"Aku tiga kali persalinan selalu menemani kamu kok Sayang. Itu artinya aku tanggung jawab penuh dan juga selalu mensupport kamu. Dalam sakitmu, aku juga kesakitan. Dalam perjuanganmu, aku juga turut berjuang. Begitu kan Bram?" balas Belva.
"Cuma aku berterima kasih banyak Mas ... kamu sudah mendampingi aku sampai sejauh ini. Sampai di titik ini, jadi ya terima kasih. Di kisah Mira, dan juga Marvel. Ada tangan kamu yang selalu menggenggam tanganku," balas Marsha.
"Sama-sama Sayang," balas Abraham.
"Aku juga ngucapin terima kasih kepada Mamas Belva ... terima kasih juga sudah membersamaiku untuk berjuang melahirkan ketiga anak-anak kita. Evan dengan persalinan normal yang luar biasa sakit, Elkan dengan paniknya aku ketika bersalin, dan Eiffel yang aku lebih matang dan siap dalam menghadapi persalinan. Terima kasih Mamas Belva," ucap Sara.
Belva pun tersenyum di sana, "Sama-sama Sayang," balas Belva.
Mama Diah yang samar-samar mendengar obrolan dua pasangan itu pun tertawa, "Yang akur yah ... semoga menjadi sahabat sampai tua nanti," imbuh Mama Diah.
__ADS_1
Kemudian Belva tampak berdehem di sana, "Ehem, Eyang ... kalau saya melamar Mira untuk Elkan, Eyang Diah memperbolehkan tidak?" tanyanya dengan sopan.
Mama Diah pun justru tertawa, "Ya, kalau saat besar nanti anaknya sama-sama sayang, Eyangnya sih merestui saja. Tidak masalah," balas Mama Diah.
"Saya lamar Mira untuk Elkan ya Eyang ... mohon direstui. Hanya rembugan orang tua saja Eyang ... selanjutnya, saat mereka dewasa biar cinta yang menyatukan keduanya," ucap Belva yang merasa perlu meminta restu kepada Eyang Diah juga.
"Kalau Marsha dan Abraham merestui itu yang lebih baku, saya cuma Eyangnya. Cuma, melihat Elkan yang sayang sama Mira ya semoga saja ya Pak Belva," balas Eyang Diah.
"Iya Eyang ... cuma tidak usah dipublikasikan. Biar mereka tumbuh alamiah tanpa ada beban bahwa mereka sudah mendapatkan jodohnya," balas Belva lagi.
"Kamu setuju enggak Bram?" tanya Mama Diah kemudian.
Tampak Abraham menganggukkan kepalanya, "Setuju sih Ma, kan perjodohan ini tidak mengikat dan tidak mengharuskan mereka bersama saat dewasa nanti. Jika memang nanti mereka berjodoh, semoga saja mereka bisa bersatu," balas Abraham.
"Benar ... Mama juga setuju biar mereka tumbuh alamiah, menikmati masa anak-anak mereka. Biarkan mereka bahagia dan tumbuh bersama. Lagian rasa sayang bisa tumbuh dengan sendirinya," balas Mama Diah.
Sara kemudian menatap Mama Diah, "Terima kasih Eyang ... terima kasih sudah menganggap Evan, Elkan, dan Eiffel seperti cucu sendiri. Kelak saat dewasa semoga Elkan bisa menjadi cucu menantunya Eyang yah," ucapnya.
"Iya Sara ... terima kasih banyak. Hati kamu baik, pasti Mira senang nanti punya Mama mertua rasa Mama kandung," balas Mama Diah.
"Seperti Marsha ya Ma," balas Marsha.
Lantas Abraham pun berdehem di sana, "Hem, kalau kamu memang anak kandungnya Mama, Sayang ... sementara aku anak pungutnya."
__ADS_1
Semua yang ada di sana pun tertawa mendengar celotehan dari Abraham. Merasa sangat terhibur dengan candaan Abraham yang merasa hanya sebagai anak pungut untuk Mamanya sendiri.