
Rasanya Abraham tak ingin melepas Marsha dari pelukannya. Bahkan usai percintaan yang begitu menggelora, kini Abraham masih setia untuk memeluk dan mengecupi kening istrinya itu. Bukan sekadar misi ingin menambah momongan, tetapi juga karena Abraham ingin kian dekat dan hangat dengan Marsha. Hubungan suami istri yang tentu akan kian mempererat hubungan keduanya.
"Capek Shayang?" tanya Abraham yang masih duduk di belakang Marsha dan mengusapi rambut istrinya itu.
"Iya, tadi powerfull banget. Astaga," balas Marsha dengan mengingat semua kejadian yang dia nikmati bersama dengan Abraham. Bahkan mungkin baru kali ini dalam satu kali bercinta dan mereka bereksperimen dengan beberapa posisi.
Tentu peraduan malam kali ini begitu menggelora untuk Marsha dan juga Abraham. Bisa Marsha ingat bahwa nafas keduanya yang terengah-engah, dan bibir yang sama-sama saling mengucapkan namanya masing-masing.
"Enak ya Shayang? Mantap jiwa," balas Abraham dengan mendekap erat tubuh Marsha.
"Bisa saja sih Mas ... tumben sih Mas tadi itu," balas Marsha dengan menggigit bibirnya sendiri.
Abraham pun tertawa kecil, "Coba-coba Shayang ... luar biasa yah. Aku gelap mata tadi," balas Abraham lagi.
Marsha pun memanyunkan bibirnya, menatap suaminya itu, "Kamu terlalu bersemangat deh Mas," balasnya.
"Biar si baby segera on the way, Shayang. Siapa tahu kan zigotnya berenang-renang lebih cepat," balas Abraham.
Marsha beringsut, dan kemudian dia seolah berbaring dan juga memeluk Abraham di sana. "Tadi luar biasa banget. Aku jadi malu mengingat-ingatnya," balas Marsha.
"Tidak usah diingat-ingat, dirasakan saja Shayang, tapi jujur, aku seneng banget barusan. Mungkin tadi semacam erupsi gunung berapi," balas Abraham dengan terkekeh geli.
__ADS_1
Di antara pasangan yang sudah menikah, membahas hal semacam ini bukan hal yang tabu. Justru bisa menjadi tolok ukur kepuasan pasangan terhadapan hubungan suami istri yang baru saja terjadi. Pun demikian, kadar kepuasan seorang pria dan wanita itu berbeda. Bahkan tak jarang penelitian mengatakan kepuasan seorang wanita hanya kepura-puraan semata. Untuk itu, usai pertarungan malam yang menggelora, Abraham dan Marsha berbicara bersama.
"Kamu itu benar-benar puas kan Shayang? Tidak pura-pura kan?" tanya Abraham kepada Marsha.
"Menurut kamu?" tanya Marsha. Seakan Marsha memberikan kesempatan kepada Abraham untuk memberikan penilaiannya.
"Hmm, gimana ... aku tidak tahu," balas Abraham.
"Puas lah Mas ... kamu perkasa gitu," balas Marsha dengan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya itu.
Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Marsha membuat Abraham pun tertawa. Tidak mengira bahwa istrinya itu bisa berkata demikian.
"Mungkin karena aku minum pasak bumi dan madu hutan," celetuk Abraham.
“Aduh, jadi terengah-engah dan sekarang terpingkal-pingkal. Kamu pengen paling bisa deh, Mas … bounding time sama kamu. Bisa merasakan aneka emosi dan perasaan di dalam hatiku. Seneng, nikmat, dan berbagai emosi lainnya. Makasih Mas Abraham,” balas Marsha.
“Sama-sama Shayangku … kita hidup dan akan menikmati hari-hari yang panjang. Sering-sering bounding time seperti ini. Biar kita makin harmonis.”
Abraham mengungkapkan bahwa memang di dalam kehidupan yang begitu panjang, dia berharap akan bisa menikmati hari-hari yang panjang dengan Marsha. Suka mau pun duka, sehat mau pun sakit, susah atau pun senang, semuanya dilakukan bersama-sama. Menjalin kedekatan dengan pasangan, supaya bisa terkoneksi secara hati.
“Ya sudah, mau pakai baju ya Mas … aku bisa masuk angin nanti kalau seperti ini,” ucap Marsha yang menciba untuk beringsut dan menahan selimut di dadanya supaya tidak jatuh.
__ADS_1
Akan tetapi, Abraham dengan cepat menarik kedua bahu Marsha sehingga mau tidak mau, membuat punggung Marsha kembali menempel di dada Abraham, “Gini saja, Shayang … sudah lama tidak seperti ini,” balas Abraham.
"Nanti kalau Mira kebangun bahaya loh Mas," balas Marsha yang merasak takut dan tidak nyaman jika saja Mira terbangun dan bisa mencarinya. Sudah pasti dirinya akan bingung dan gugup. Di saat tidak ada sehelai benang pun yang membelai tubuhnya.
"Tidak apa-apa. Aku masih kangen," balas Abraham.
Tidak ingin mendapat penolakan, Abraham mendekat tubuh Marsha dengan begitu eratnya. Bibir pria itu kini sudah mengecupi bahu Marsha. Setiap kali bibir yang hangat dan basah itu mengecup bahu Marsha, sudah pasti membuat Marsha memejamkan mata dan menahan nafas di sana. Sekadar sentuhan bibir di permukaan epidermisnya saja sudah membuatnya begitu meremang.
Abraham lantas menelisipkan untaian rambut Marsha dan berbisik lirih di sisi telinga istrinya itu.
"Sekali lagi ya Shayang," ucapnya dengan tangan nakalnya yang sudah menyentuh lekuk-lekuk feminitas di tubuh Marsha.
"Astaga Mas ... belum setengah jam," balas Marsha.
"Ya, mau?"
"Kalau aku capek?" tanya Marsha dengan berusaha menahan pergerakan tangan suaminya di area dadanya.
"Aku pijitin. Nambah ya Shayang," pinta Abraham dengan menggigit kecil telinga Marsha.
Sekadar sulutan kecil yang pada akhirnya benar-benar membakar keduanya. Untuk keduanya, keduanya kembali terjatuh dalam pusara cinta. Keduanya berenang-renang dan menyelami indahnya pusara yang berisikan cinta. Arusnya yang deras kian menarik keduanya untuk larut dan hanyut hingga hampir satu jam berlalu, barulah keduanya menyelesaikan penyelaman mereka dengan peluh yang begitu liat dan basah, dengan kenikmatan yang sampai tidak bisa mereka ucapkan.
__ADS_1
Telapak tangan Abraham pun menyentuh perut istrinya itu dengan lembut, "Semoga ada baby di dalam sini untuk kita dan Mira. Semoga tidak lama lagi," balas Abraham.
Marsha yang begitu letih hanya bisa memeluk tubuh suaminya itu. Seluruh badannya remuk redam, tetapi kenikmatan yang mereka rasakan benar-benar membawa keduanya menyelami samudra yang indah. Marsha memejamkan matanya, dan masuk dalam pelukan suaminya. Begitu luar biasanya malam itu, dan dalam hatinya Marsha juga berharap bahwa akan ada benih-benih cinta yang bersemi di dalam rahimnya.