Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Percikan Perasaan Terlarang


__ADS_3

Dengan hati yang masih berdebar-debar Marsha memasuki kamarnya. Begitu sampai di dalam kamarnya, Marsha memilih mengguyur badannya di bawah air shower dingin. Ya, kali ini Marsha memilih untuk mandi air dingin. Berharap dinginnya air yang mengalir dari shower itu bisa menenangkan perasaannya yang berkecamuk.


Di bawah pancuran shower itu, Marsha mengusap-usapi rambutnya yang basah dengan kedua telapak tangannya. Bahkan kini wanita itu menyentuh bibirnya. Bibir yang baru saja menerima ciuman, cumbuan, dan pagutan dari Abraham.


"Ciuman dan cumbuanmu membangkitkan hasrat terlarang dalam diriku, Bram. Hatiku bisa merasakan ciumannya yang penuh perasaan. Pagutanmu yang lembut, dan usapan lidahnya yang membangkitkan ribuan saraf sensorik di tubuhku. Hanya saja hasrat ini tidak benar, Bram. Hasrat ini benar-benar membuat perasaanku bergejolak," ucap Marsha sendirian di dalam kamar mandi itu.


Seakan-akan, Marsha kehilangan kewarasannya lantaran sekarang dirinya tengah berbicara sendiri.


Marsha memejamkan matanya dan kemudian wanita itu terisak. Dadanya terasa sesak. Hasrat terlarang semenyesakkan ini.


"Aku harus bagaimana Bram? Tidak dipungkiri lagi, aku turut tersulut. Percikan api yang kamu nyalakan, menyulutku, membuatku terbakar, membuatku bergelora. Akan tetapi, aku harus mengakhirinya. Aku harus menahan diriku dan melupakan semua yang telah terjadi."


Lebih dari setengahnya Marsha mengguyur badannya di bawah air shower. Wanita itu keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih meneteskan buliran air yang membuat bahunya basah. Marsha lantas merebahkan dirinya di atas ranjang, wanita itu memejamkan matanya dan meraba sendiri bibirnya.


Bibir yang baru saja menerima ciuman terlarang dari pria yang bukan suaminya. Bahkan kini, sekadar melupakan sensasi ciuman terlarang itu saja begitu sukar rasanya bagi Marsha.


Air mata Marsha kembali jatuh, "Kenapa kamu menciumku Bram? Kenapa justru kamu yang membangkitkan hasrat terlarang ini?" kata Marsha dengan terisak.


Percikan hasrat terlarang yang membuat dada Marsha terasa begitu sesak. Rasanya dirinya sedang bermain api di belakang suaminya. Sebab, hari ini dirinya gagal membentengi dirinya. Hatinya goyah untuk kali pertama. Lebih menyakitkan karena hatinya goyah dengan pria yang datang dari masa lalunya.

__ADS_1


Sementara di dalam kamar hotelnya, Abraham pun tengah merebahkan badannya. Pria itu memejamkan mata dengan satu tangan yang menutupi matanya. Saat ini pun Abraham tengah membayangkan bagaimana bibirnya beradu dengan bibir Marsha. Degupan yang begitu kencang di dadanya, sikap Marsha yang defensif dan penuh ketegangan, dan ciuman demi ciuman yang terjadi begitu saja benar-benar membangkitkan hasrat dalam dirinya.


“Perasaan ini gila, Marsha. Aku akui aku khilaf. Hanya saja, aku tidak menyesali saat bibirku menyentuh bibirmu. Saat bibirmu merasai hangat dan kenyalnya permukaan bibirmu. Perasaan ini gila, tetapi bagaimana lagi dorongan ini sangat kuat dan tak bisa lagi kutahan. Aku masih cinta kamu, Marsha. Aku ingin memilikimu kembali. Hanya saja, kamu sudah menjadi milik Melvin,” gumam Abraham dengan lirih.


Perasaan terlarang yang seakan menyulut Abraham untuk memberanikan diri mencumbu bibir Marsha. Hasrat terlarang yang seakan menggerakkan tangan Abraham untuk menahan tengkuk Marsha, memberikan belaian di sisi wajah, dan menelusup di kaos yang Marsha kenakan.


“Jika aku bertindak lebih dari ini, mungkinkah kamu bisa menjadi milikku sekali lagi, Marsha? Mungkinkah jalinan cinta kita akan kembali terajut?”


Hingga akhirnya, Abraham memilih bangkit. Pria itu merapikan barang-barangnya. Daripada kalut dengan perasaan terlarangnya sendiri, Abraham memilih untuk meninggalkan kota Jogjakarta terlebih dahulu. Bukannya dia tidak ingin kembali bersama Marsha, hanya saja dorongan hatinya mengatakan bahwa dia harus pulang ke Jakarta lebih dulu.


***


Saat sarapan tiba, Nania menyapa Marsha yang kali ini memilih turun ke restoran yang berada di lantai tiga.


“Non, sehat kan? Kenapa wajah kamu sembab gitu? Kurang yah, liburannya di Jogja,” tanya Nania kepada Marsha.


“Enggak … malahan kecapekan. Pengen balik ke Jakarta,” sahut Marsha dengan meminum kopi hitam di cangkir keramik berwarna putih yang saat ini digenggamnya.


“Nanti sore kan kita sudah balik ke Jakarta. Eh, tapi si Fotografer sudah balik duluan,” ucap Nania.

__ADS_1


Tentu saja mendengar ucapan Nania membuat Marsha begitu terkejut. Bukankah seharusnya mereka bertiga akan kembali ke Jakarta dengan pesawat udara sore ini. Tentu kepulangan Abraham yang lebih cepat menimbulkan tanda tanya besar bagi Marsha.


“Kenapa dia pulang duluan?” tanya Marsha.


Nania tampak mengedikkan bahunya, “Entahlah … ada keperluan pribadi katanya. Ya sudah, kamu habis ini istirahat saja, Sha. Jangan lupa hubungi suami kamu kalau malam ini kita sudah sampai di Jakarta. Jangan sampai dia panik,” ucap Nania.


Marsha hanya bisa tersenyum kecut dan menundukkan wajahnya, “Tidak mungkin dia panik. Tiga hari aku berada di Jogja saja, pesan yang dia kirimkan saja bisa dihitung dengan jari. Entahlah dia sungguh-sungguh syuting stripping di sana atau memang dirinya tengah bersenang-senang dengan wanita yang dia anggap sebagai sepupunya itu.”


Perasaan Marsha menjadi gamang. Dia sampai melupakan untuk mencari tahu sosok wanita bernama Lista yang digosipkan dengan Melvin Andrian.


“Kenapa sih kok malahan bengong?” tanya Nania lagi. Di mata Nania saat ini seakan begitu banyak hal yang disembunyikan oleh Marsha.


“Eh, enggak apa-apa kok. Ya sudah, abis ini aku istirahat saja deh. Kayaknya aku kurang tidur,” balas Marsha.


“Iya. Jangan lupa yah, beres-beres juga. Nanti sore kita flight ke Jakarta,” balas Nania.


Marsha menganggukkan kepalanya, wanita itu tengah banyak memikirkan sesuatu di kepalanya. Bukan hanya perkara Melvin dan Lista, tetapi juga tentang perasaan terlarangnya kepada Abraham.


Usai sarapan, Marsha memilih kembali ke dalam kamarnya. Wanita itu membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam koper. Setelah semua bersih, Marsha memilih memejamkan matanya sejenak. Berharap dengan sedikit tidur, perasaannya akan mulai membaik, benang kusut yang memenuhi pikirannya bisa sedikit terurai.

__ADS_1


__ADS_2