
Pagi yang panas, baru saja direguk oleh Marsha dan Melvin. Akan tetapi, bagi Marsha sendiri kenapa percikan hasrat dan gairah yang dia rasakan tidak lagi sama. Bahkan kali ini Marsha lebih memilih untuk memunggungi suaminya itu. Ada rasa bersalah, karena saat Melvin meminta haknya sebagai seorang suaminya, yang muncul di benaknya justru adalah sosok Abraham. Mungkin dalam bibir, Marsha bisa menyanggahnya. Akan tetapi, di dalam hati nuraninya, Marsha sangat tahu apa saja yang tengah pikirkan saat ini.
Melihat diamnya Marsha dan istrinya itu yang lebih memilih memunggunginya daripada mencerukkan wajah di dadanya, Melvin lantas beringsut. Pria itu menyangga kepalanya dengan tangannya, dan mendekat ke arah Marsha.
“Ayang, kamu ngapain?” tanya Melvin.
Bahkan kini tangan pria itu tengah memberikan sentuhan halus di bahu Marsha yang masih terekspos. Membelainya dengan gerakan naik turun yang begitu lembut. Dari pagi membuka mata, sampai sekarang Melvin masih konsisten mempertahankan untuk bersikap baik kepada Marsha.
“Hmm, tidak apa-apa.”
Wanita itu menyahut dengan kian menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan meremas selimut itu di depan dada. Ingin menyembunyikan semuanya, tetapi di dalam hati ada perasaan gamang yang menyeruak.
“Kenapa, rasanya kamu berbeda?” tanya Melvin kali ini kepada Marsha.
Melvin hanya coba menerka dan melihat setiap reaksi yang ditunjukkan Marsha. Beberapa saat tadi, Melvin seakan terlecuti semangatnya untuk memuaskan Marsha. De-sahan demi de-sahan yang Marsha ucapkan, hingga lenguhan demi lenguhan yang Marsha keluarkan tidak dipungkiri membuat Melvin kian menggebu untuk memberikan hujaman dan memberikan kenikmatan untuk mereka rasakan bersama.
Akan tetapi, usai kegiatan panas itu selesai, yang tersisa adalah sikap diam seorang Marsha. Bisa jadi, ini adalah kali pertama Marsha memunggunginya usai menikmati peraduan yang begitu panas.
Marsha lantas menggelengkan kepalanya secara samar, “Tidak … aku biasa saja,” sanggahnya dengan posisi masih memunggungi Melvin.
Pria itu lantas menarik bahu Marsha, membuat istrinya untuk berhadap-hadapan dengannya. “Hari ini, aku full cuti seharian di rumah untuk kamu. Jadi, hari ini kamu bebas mau melakukan apa pun. Bahkan kalau kamu mau, kita bisa mengulangi kegiatan panas tadi beberapa kali seharian ini. Tidak keluar dari kamar pun tidak masalah,” ucap Melvin.
Namun dalam persepsi Marsha, justru yang diinginkan suaminya hanyalah sekadar kegiatan bercocok tanam, menebar benih yang tidak pernah bersemi. Marsha memilih diam, wanita itu masih mempertahankan selimut yang membungkus dadanya, meremasnya begitu erat.
“Kenapa sih diam lagi?” tanya Melvin kali ini kepada Marsha.
Melihat diamnya Marsha justru membuat Melvin bertanya-tanya. Dia lebih menyukai Marsha yang banyak bicara dan mengaturnya. Sementara melihat Marsha yang diam seperti ini justru membuatnya serba salah.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja, Ayang … mungkin saja hanya sedikit kecapekan,” balas Marsha dengan menunjukkan senyuman samar di wajahnya.
Melvin lantas menatap kedua manik mata Marsha, “Kalau capek, kenapa tadi tidak bilang?” tanya Melvin lagi.
“Memangnya aku boleh menolak?” tanya Marsha. Wanita itu tidak memberikan jawaban, tetapi justru bertanya balik kepada suaminya itu.
“Tidak boleh. Harus mau,” balas Melvin dengan nada yang terlihat posesif. Wajah pria itu berubah menjadi serius.
Namun, tidak berapa lama, Melvin kemudian tersenyum, tangan bergerak dan membelai sisi wajah Marsha di sana.
“Bercanda … kalau capek bilang, jadi ya aku bisa menyesuaikan dengan tubuh kamu,” balas Melvin kali ini.
Kedua bola mata Marsha bergerak-gerak di sana, membaca semua ekspresi dari raut wajah Melvin. Benarkah suaminya itu mengatakan yang sebenarnya bahwa dirinya bisa menyesuaikan diri dengannya?
“Yang, foto-foto yang beredar dengan tajuk Behind The Scenes itu apa?” tanya Marsha perlahan.
Setidaknya kali ini Marsha memposisikan diri sebagai istrinya Melvin. Dia memiliki hak untuk bertanya. Sehingga, Marsha pun bertanya langsung kepada suaminya itu. Sebab, saat bertanya dengan suaminya sudah pasti bahwa Melvin akan memberikan jawaban yang valid kepadanya.
Marsha mendengarkan penjelasan Melvin itu, mencoba untuk memahami kaitan strategi promosi rumah produksi dengan peningkatan rating. Apakah memang harus melakukan hal seperti itu untuk menarik minat penonton?
“Aku kira … kamu ada affair lagi dengan dia,” ucap Marsha dengan lirih.
Tidak dipungkiri bahwa foto dan video Behind The Scenes yang diunggah di media sosial acap kali menunjukkan kemesraan antara Melvin dan Michella. Sehingga Marsha pun mengira bahwa suaminya terlibat affair dengan aktris pendampingnya.
“Enggaklah … kerja di dunia hiburan gitu, Yang. Enggak affair saja dianggap affair. Aku sama Michella murni cuma sebatas pekerjaan profesional saja. Enggak lebih,” balas Melvin.
Seakan pria itu memberikan sanggahan kepada Marsha dan meyakinkan istrinya itu bahwa hubungannya dengan Michella hanya sebatas hubungan profesional saja, dan tidak lebih.
__ADS_1
“Yakin?” tanya Marsha lagi.
“Iya, lagian mana mungkin aku affair di luar, Yang … aku punya istri satu saja cantik kayak gini,” sahut Melvin sembari mengusapi puncak kepala Marsha.
Sayangnya, candaan yang syarat akan gombalan itu tak membuat Marsha bergeming. Marsha memilih diam dan mencerna setiap ucapan Melvin.
“Gombal, lagian kamu kan aktor papan atas, banyak kan wanita di luar sana yang ngefans sama kamu. Bahkan mau untuk seranjang denganmu,” respons Marsha kali ini.
Mengingat nama besar Melvin Andrian, dan paras tampan pria itu memang tidak menutup kemungkinan akan begitu banyak wanita yang bisa dengan sendirinya memberikan dirinya untuk Melvin.
“Tidaklah Yang … aku enggak kayak gitu. Aku tuh cuma full berada di lokasi syuting saja. Kalau kamu tidak percaya, boleh deh kapan-kapan kamu main ke lokasi. Ikut aku sehari juga boleh,” balas Melvin.
Seakan Melvin memberikan kesempatan bagi Marsha untuk bisa mengenal rutinitasnya sepanjang hari dan juga melihat bagaimana sehari-hari dia berada di lokasi syuting. Jika Marsha mau ke lokasi, Melvin pun tidak keberatan.
“Ogah, nanti aku justru ganggu konsentrasi kamu,” jawab Marsha.
“Sesekali mengunjungi aku kan tidak masalah, Yang … hanya jangan sering-sering. Kalau keseringan jadi sungkan sama tim produksi,” balas Melvin.
Marsha mendengarkan semua cerita Melvin itu. Dia tahu bahwa memang tidak sesekali berkunjung tidak masalah. Apakah mungkin sebaiknya dia mencoba untuk mengunjungi Melvin sesekali? Agaknya ide itu tercetus begitu saja di kepala Marsha.
Setelahnya Marsha beringsut, dengan masih mempertahankan selimut yang menutupi area dadanya.
“Mau kemana?” tanya Melvin.
“Mau pakai baju saja kok … enggak mungkin kan seharian aku hanya akan bergelung di dalam selimut,” balas Marsha.
Namun, kini Melvin justru tersenyum, tangannya bergerak dan menarik begitu saja selimut yang mengcover tubuh polos Marsha. Menariknya, hingga area dada Marsha kembali nampak, Melvin menyeringai menatap Marsha.
__ADS_1
“Aku tidak keberatan kok sepanjang hari dalam keadaan polos mutlak bersamamu,” ucap Melvin.
Akan tetapi, Marsha segera meraih selimut yang luruh di atas pahanya itu, kembali menutupi area dadanya. Wanita itu menghela nafas dan kemudian menundukkan wajahnya. Menerka-nerka dalam hati apakah yang sebenarnya Melvin inginkan darinya? Benar-benar cinta yang tulus pasangan suami istri atau hanya sebatas kenikmatan hubungan suami istri? Memikirkan semua itu, Marsha mencoba mengurai rasa di dalam hatinya. Mencari jawaban dari semua perilaku dan ucapan Melvin tunjukkan kepadanya.