Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Penghakiman Publik


__ADS_3

‘Wah, istrinya Melvin gak bener nih!’


‘Suaminya Aktor terkenal tajir melintir aja diselingkuhin!’


‘Mending cerai aja, Melvin. Masih banyak cewek lain di luar sana.’


‘Calon Duren Sawit! (Duda Keren Sarang Duwit)’


‘Istrinya murahan banget.’


Begitu banyak komentar komentar dengan men-tag nama Marsha di sana. Bahkan selingkuhnya Marsha menjadi trending di Twitter dengan ribuan tweet di sana.


Ya Tuhan, penghakiman publik dengan berbagai komentar negatifnya sangat menyesakkan hati Marsha. Tak jarang banyak orang atau publik figur yang menjadi depresi karena banyak komentar negatif yang mereka terima dari publik.


“Marsha, bolehkah aku meminta handphone kamu untuk satu hari ini saja?” pinta Abraham kali ini kepada Marsha.


Seakan Abraham begitu peduli dengan kesehatan mental Marsha. Abraham sangat tahu bahwa Marsha adalah wanita yang mudah rapuh, wanita yang mudah larut dalam kesedihannya. Terlebih dengan masalah yang baru saja Marsha hadapi, sudah pasti Marsha akan tertekan secara mental.


“Tidak apa-apa, Bram … mereka hanya tahu dari satu pihak. Mereka tidak tahu hal yang sebenarnya,” balas Marsha.


Sebenarnya, Marsha merindukan pagi yang tenang. Terlebih setelah hari yang begitu berat yang sudah dia alami kemarin. Namun, nyatanya ketenangan itu tak jua datang. Sebab, sekarang sudah berapa ratus notifikasi yang masuk ke dalam handphonenya.


“Baiklah … kalau begitu mandilah terlebih dahulu, dan segarkan dirimu. Aku sudah membelikan sarapan untukmu,” ucap Abraham.


“Bram, boleh aku minta tolong?” pinta Marsha pada akhirnya.


“Hmm, apa? Kalau aku bisa menolong, pasti aku akan menolongmu,” balas Abraham.


“Ada sebuah koper besar di bagasi mobilku. Apa aku bisa minta tolong mengambilkannya?” pinta Marsha kali ini.


Untung saja ada sebuah koper besar yang selalu Marsha siapkan di bagasi mobilnya, sehingga jika mendadak dia harus pergi untuk melakoni pemotretan, Marsha sudah siap sedia. Di saat genting seperti ini, untung saja ada pakaian ganti yang Marsha simpan di koper yang dia taruh di dalam bagasi.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan mengambilkannya,” balas Abraham.


Sebelum Abraham beranjak, rupanya Marsha kembali memanggil nama pria itu.


“Bram,” panggil Marsha.


Merasa dipanggil namanya, Abraham pun segera menoleh dan melihat Marsha.


“Ya, ada apa?” tanyanya lagi.


“Makasih banyak,” ucap Marsha pada akhirnya.


Pria itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, setelah itu Abraham segera keluar dari unit apartemennya dan mengambil bagasi yang ada di mobil Marsha. Akan tetapi, sebelumnya Abraham menggunakan masker untuk menutupi wajahnya terlebih dahulu. Hanya sekadar untuk berjaga-jaga saja sebenarnya. Mengingat begitu trendingnya masalah Melvin dan Marsha membuat Abraham lebih baik untuk berjaga-jaga.


***


Sementara itu di kediaman Melvin …


“Ma, Mama yakin dengan semuanya itu?” tanya Melvin kepada Mamanya pagi itu.


“Kamu tenang saja, Vin … kita bisa memanfaatkan masalah rumah tanggamu untuk kian mendongkrak popularitasmu,” jawab Mama Saraswati dengan penuh percaya diri.


“Bagaimana dengan Marsha, Ma?” tanya Melvin lagi.


Memang Melvin juga bersalah dalam hal ini. Hanya saja saat publik menyudutkan Marsha, ada setitik rasa tidak rela di dalam hatinya. Masih ada bentuk kepedulian dari Melvin kepada Marsha.


“Kamu masih memikirkannya? Wanita tak setia itu tidak perlu kamu pikirkan lagi, Vin … tidak ada untungnya,” sahut Mama Saraswati dengan ketus.


“Melvin hanya kasihan Ma … bagaimana pun Marsha juga istri Melvin, dan semalam dia pergi dengan keadaan terluka. Melvin juga bersalah.”


Melvin bisa mengakui kesalahannya di hadapan Mamanya. Hanya saja mengapa pria itu tidak bisa berpikir jernih saat bersama dengan Marsha. Emosi semalam begitu meluap-luap, hingga dia mengangkat tangan dan melukai Marsha.

__ADS_1


“Tenang saja … Marsha tidak akan bersuara, Vin. Kamu akan berada di atas angin. Popularitas kamu akan kian naik, kamu akan mendapatkan hati publik,” balas Mama Saraswati.


Melvin kali ini memilih diam. Dari beberapa segi mungkin saja apa yang baru saja dikatakan Mama Saraswati benar bahwa popularitasnya bisa semakin naik. Hanya saja, Melvin tetap kasihan karena seolah-olah mengkambinghitamkan Marsha dalam masalah ini. Hati nuraninya berkata bahwa Melvin turut bersalah dalam perkara ini.


“Sekarang lihat saja, Vin … publik sudah menghakimi Marsha. Jari-jari mereka sudah bergerak dengan sendirinya. Untuk sekarang, sembunyilah dahulu biar publik yang terus berspekulasi. Setelah itu, keluarlah dan buatlah pengakuan secara ekslusif. Percaya saja, bahkan sinetron dan mini series yang kamu bintangi akan meledak,” ucap Mama Saraswati sekarang ini.


Seolah memang ide dan strategi yang diberikan oleh Mama Saraswati terlihat begitu brilian dan tepat sasaran. Tidak diragukan lagi, karena memang Mama Saraswati dan Papa Wisesa adalah pemilik salah satu rumah produksi yang cukup terkenal di negeri ini. Menggarap ratusan Film Televisi (FTV) adalah bidang digeluti oleh rumah produksi milik Mama Saraswati dan Papa Wisesa.


“Baiklah Ma … hanya saja jangan terlalu memojokkan Marsha, kasihan,” ucap Melvin sekarang.


Secara terus-terang, Melvin mengatakan bahwa kasihan Marsha. Semoga saja, masalah pelik ini tidak terlalu menyudutkan Marsha. Walau netizen sudah menggerakkan jari-jarinya dan berspekulasi dengan liar, tetapi ini bukan waktu yang tepat bagi Melvin untuk keluar dan menjelaskan semuanya. Dia akan menunggu pada waktu yang tepat, membiarkan publik berspekulasi, nanti barulah Melvin akan keluar.


***


Sementara itu di apartemen Abraham …


Marsha sudah mandi dan membersihkan dirinya. Tentu saja dalam hatinya, sedikit banyak Marsha terpengaruh dengan pemberitaan media yang begitu santer hari ini.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Abraham kali ini.


“Iya, tidak apa-apa,” sahut Marsha.


“Yakin?” tanya Abraham lagi.


“Iya, sudah tidak apa-apa. Hanya saja aku menyayangkan kenapa dia bermain victim dan membuat seolah-olah aku pihak yang paling bersalah di sini,” balas Marsha.


Abraham menatap wajah Marsha yang terlihat begitu sayu. “Marsha, jika pemberitaan ini menyudutkanmu … please, berikan handphonemu padaku. Menjauhlah sesaat dari handphonemu. Juga, aku tidak mengizinkanmu melihat siaran televisi. Tenangkan dirimu dahulu, Marsha. Jangan terpengaruh dengan netizen yang menghakimimu dan bersepekulasi liar. Bagaimana pun masalah sebenarnya hanya kamu dan Melvin yang tahu,” ucap Abraham.


“Iya Bram … maaf, justru harus menyeretmu dalam masalah ini,” balas Marsha.


“Tidak masalah, Sha … sekarang prioritasku yang utama adalah kamu. Take your time and be happy Marsha. Please, jangan terpengaruh dengan semua pemberitaan ini. Fokus pada dirimu sendiri terlebih dahulu,” pinta Abraham.

__ADS_1


Memang masalah ini begitu pelik, terlebih dengan media yang melakukan blow-up secara besar-besaran tentu saja kian memperkeruh masalah ini. Hanya saja Abraham berharap bahwa Marsha tidak akan terpengaruh.


__ADS_2