Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Hilangnya Kasih Mula-Mula


__ADS_3

Keesokan paginya, Marsha terbangun lebih dahulu. Wanita itu menoleh ke sebelah tempatnya berbaring, rupanya Melvin masih tidur memunggunginya. Marsha beringsut untuk mengubah posisinya dan kemudian menguap, mengucek matanya, dan kemudian menguncir rambutnya dengan asal. Setelah itu, Marsha memilih untuk mandi terlebih dahulu. Memang Marsha memiliki kebiasaan begitu bangun pagi, dirinya akan mandi terlebih dahulu. Membersihkan badan di pagi hari akan membuatnya terasa segar.


Setelah itu, Marsha turun ke dapur. Hendak menyeduh teh hangat beraroma melati yang memang terbiasa dia minum di pagi hari.


“Pagi Non Marsha,” sapa Bibi Tini begitu melihat Marsha.


“Iya, pagi Bi. Tolong bikinkan roti bakar untuk Marsha ya Bi … dengan butter saja,” pinta Sara kepada Bibi Tini.


“Siap Non … biar Bibi buatkan roti bakar untuk Non,” balas Bibi Tini.


Asisten Rumah Tangga itu kemudian dengan cekatan membuatkan roti bakar dengan menggunakan toaster dan memberikan butter saja di roti panggang itu. Sementara Marsha menunggu di meja makan. Wanita itu tengah menikmati Teh Hangat beraroma melati dengan santai.


“Silakan Non, rotinya,” ucap Bibi Tini.


“Makasih Bi,” sahut Marsha.


Setelahnya kemudian Marsha mulai menggigit roti bakar yang masih panas itu. Menikmati roti bakar berpadu dengan butter yang terasa begitu enak. Setidaknya Marsha menyambut pagi hari dengan hal yang membuatnya bahagia.

__ADS_1


Usai sarapan, Marsha kemudian kembali ke kamar dan melihat apakah suaminya itu sudah bangun. Begitu sampai di dalam kamarnya, rupanya Melvin masih tertidur. Dengan perlahan, Marsha kemudian membangunkan suaminya itu.


“Yang, Ayang … bangun dulu yuk. Mau sarapan? Aku bikinkan,” ucap Marsha.


“Ahhh, ganggu orang tidur aja sih,” sahut Melvin.


Pria itu lantas mengambil posisi tengkurap dan kemudian menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Sekali lagi Marsha hanya bisa geleng kepala melihat Melvin yang seperti itu. Niatnya baik untuk bisa membangunkan Melvin dan juga menawarkan sarapan, bahkan Marsha sendiri tidak keberatan untuk membuatkan sarapan dengan tangannya sendiri untuk suaminya itu.


Sampai pada akhirnya, Marsha memilih melihat drama korea. Bukan kegiatan yang baik di pagi hari, tetapi cukup untuk mengisi waktu luang Marsha. Wanita itu cukup terhibur dengan drama bergenre romantis komedi yang mengisahkan seorang sekretaris dan Vice President, menjalani kencan rahasia di dalam perusahaan.


Tidak terasa beberapa jam pun telah berlalu, dan Melvin pun terbangun dengan sendirinya.


“Yang,” sapa Melvin dengan suaranya yang serak khas orang bangun tidur.


“Hmm, apa?” sahut Marsha. Wanita itu menghentikan drama yang masih dia lihat dengan menggunakan remote, dan menoleh ke arah suaminya.

__ADS_1


“Jam berapa ini?” tanya Melvin.


“Jam 10.00 pagi, kenapa?” tanya Marsha.


“Jam 10.00? Dan kamu tidak membangunkan aku?” sahut Melvin dengan suara yang cukup keras.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, “Iya … tadi kan aku sudah berusaha membangunkan kamu dan membuatkan sarapan untukmu, tetapi kamunya yang malahan tidur lagi,” jawab Marsha.


Bukan sekadar membela diri, tetapi pada kenyataannya memang tadi Marsha sudah membangunkan Melvin dan menawarkan sarapan kepada suaminya itu.


“Ahh! Kamu ini, aku bisa kesiangan ke lokasi jika kayak gini,” teriak Melvin.


Marsha yang seakan ingin membela diri pun rasanya tidak bisa karena Melvin sudah menyalahkannya. Padahal beberapa jam yang lalu, Marsha sudah berusaha untuk membangunkan suaminya itu. Bahkan Marsha juga menawarkan sarapan kepada suaminya.


“Pagi-pagi nonton drama korea, kalau miniseries suami sendiri enggak dilihat. Ngebiarin suaminya bangun kesiangan biar terlambat datang ke lokasi,” gumam Melvin. Pria itu benar-benar seperti kumbang yang berdengung mengeluarkan suaranya.


Sekuat apa lagi Marsha harus bertahan dalam kondisi rumah tangga yang seperti ini. Sekuat apa lagi Marsha harus bertahan dengan suami yang terkadang berbicara dan menyakiti perasaannya. Tidak perlu dengan sebilah pisau, tetapi suara yang kasar dan kejam pun cukup membuat hati seorang wanita terluka.

__ADS_1


__ADS_2