
Keesokan harinya pun tiba. Hari ini Marsha akan menemui Melvin setelah lebih dari sepekan berlalu. Jikalau dulu, sebelum pertikaian besar berujung gugatan perceraian, dalam sehari pasti Marsha melihat Melvin. Entah saat dini hari, waktu Melvin baru saja pulang dari syuting. Atau di pagi hari saat Melvin turun ke meja makan untuk sarapan.
Lebih dari sepekan telah berlalu, dan kali ini Marsha akan kembali bertatap muka dengan suaminya itu. Ada rasa ketakutan, ketidaknyamanan, dan juga keengganan untuk bertemu lagi. Namun, Marsha setidaknya akan menemui Melvin satu kali sebelum persidangan perdana di akhir pekan nanti.
Kali ini, Marsha tidak sendirian. Melainkan ada Abraham yang menemani. Abraham yang mengemudikan mobil Marsha tampak begitu tenang. Pria itu kini tidak banyak bicara, hanya saja memang Abraham memberi waktu untuk Marsha memikirkan semuanya matang-matang. Sikap Abraham memang jauh berbeda dengan sikapnya yang biasanya. Namun, sesungguhnya Abraham sendiri cukup khawatir jika Melvin akan kembali menyakiti Marsha.
"Tunggu aku di bawah saja ya Bram, aku tidak akan lama," ucap Marsha begitu dia hendak turun dari mobilnya.
"Kamu yakin?" tanya Abraham kepada Marsha.
"Iya, jika ada apa-apa, aku akan menghubungi kamu," sahut Marsha.
Walau ada rasa takut, tetapi Marsha akan melawan rasa takutnya. Menemui Melvin untuk sesaat saja, setelahnya Marsha akan pergi dan kembali kepada Abraham.
Dengan mengumpulkan seluruh kekuatannya Marsha memasuki apartemen 15 lantai itu. Menaiki lift yang akan membawanya ke lantai sepuluh dari apartemen itu. Dengan jantung yang berdegup dengan begitu kencangnya. Berdebar-debar rasanya saat hendak bertemu dengan Melvin. Begitu telah sampai di lantai 15, tangan Marsha pun mengepal dan mengetuk pintu unit apartemen tersebut.
“Vin,” ucap Marsha dengan lirih sembari mengetuk pintu itu.
Tidak berselang lama, Melvin sendirilah yang membukakan pintu itu, dan mempersilakan Marsha untuk masuk.
“Masuk Ayang,” balas Melvin yang masih memanggil Marsha dengan panggilan kesayangannya yaitu Ayang.
Sungguh mendengar panggilan sayang itu, justru membuat bulu kuduk Marsha berdiri semuanya. Ada rasa getir yang melingkupi hatinya sekarang ini.
__ADS_1
Marsha pun berjalan mengekori Melvin memasuki apartemen itu. Juga dengan berjaga-jaga dalam hati, jika saja ada sesuatu yang buruk terjadi.
“Katakan apa yang ingin kamu sampaikan, Vin,” ucap Marsha kali ini. Seolah-olah memang Marsha sendiri tidak ingin berlama-lama bersama dengan Melvin. Cukup menyampaikan semuanya secara terbuka dan cepat, tidak perlu mengulur-ulur waktu.
“Santai saja, Yang … untuk apa terburu-buru. Kamu tidak kangen dengan suamimu ini?” tanya Melvin dengan tersenyum miring.
Pria itu menatap Marsha dengan sorot matanya yang tajam, pandangan matanya seolah memindai tubuh Marsha dari atas sampai ke bawah. Diperhatikan seperti ini yang ada justru membuat Marsha merasa begitu risih.
“Cepat aku keinginanmu, Vin … waktuku tidak banyak,” ucap Marsha lagi. Marsha ingin menegaskan kepada suaminya itu waktu yang dia miliki tidak banyak.
Melvin perlahan berjalan maju ke arah Marsha. Menatap wanita itu dengan tatapan yang begitu lapar, semakin Melvin berjalan maju, semakin Marsha berjalan mundur. Sungguh, Marsha tidak ingin terlalu dekat dengan suaminya sendiri.
“Kupikir, kamu akan datang lagi ke rumah dan meminta maaf kepadaku, ternyata kamu justru datang ke Pengadilan Agama dan menggugat cerai atasku. Wah, aku agaknya mulai tidak mengenali siapa dirimu,” ucap Melvin kali ini.
Melvin kian mendekat, tangannya melingkari pinggang Marsha. Tanpa aba-aba, Melvin mendaratkan ciuman di bibir Marsha, tetapi Marsha yang sigap segera mendorong dada pria itu. Sayangnya, kian kuat Marsha mendorong dada Melvin, kian kuat juga ciuman Melvin di bibirnya.
“Stop, Vin! Lepaskan aku!” teriak Marsha kali ini.
Sungguh, Marsha begitu ketakutan menghadapi Melvin yang seperti ini. Kenapa Melvin benar-benar berubah menjadi predator yang kejam dan buas saat bersamanya, tetapi Melvin bisa memperlakukan Lista dengan begitu lembut.
Namun, Melvin sama sekali tidak berhenti, bahkan pria itu tidak segan-segan untuk menggigit bibir Marsha hingga sudut bibir itu berdarah. Pergerakan bibir Melvin yang begitu kasar dan liar, kini berhasil menyisiri garis leher Marsha, menggigit bagian leher itu, dan menghisapnya kuat-kuat, dengan tangan yang seakan mencengkeram leher Marsha hingga Marsha menjadi kesulitan untuk bernafas.
Di batas pertahanannya, Marsha menangis. Sungguh, pria yang berusaha menikmati tubuhnya itu bukanlah seorang suami, melainkan pria berengsek yang hanya menginginkan tubuhnya saja. Mengumpulkan segenap keluarga, Marsha pun mendorong kuat-kuat dada Melvin, tangannya terangkat dan menampar wajah Melvin di sana.
__ADS_1
Plak!
Suara saat telapak tangan Marsha beradu dengan sisi wajah Melvin.
Namun, semua itu tidak cukup untuk membebaskan Marsha, yang ada Melvin justru tertawa dan menarik rambut panjang Marsha.
“Wanita sialan! Berani-beraninya kamu memukul suamimu sendiri,” ucap Melvin,
Marsha pun meneteskan air matanya. Bisa-bisanya Melvin menyebut dirinya suami, jika tidak pernah melindunginya. Bisa-bisanya Melvin menyebut dirinya suami, jika yang Melvin lakukan adalah menyakiti Marsha.
“Kamu bilang suami, Vin? Seorang suami akan menghargai istrinya, membalut luka istrinya. Bukan menganiaya istrinya seperti ini. Suami macam apa kamu, Vin?” tanya Marsha dengan menatap tajam wajah Melvin.
Sungguh, ini adalah luka yang kembali Marsha dapatkan. Bukan hanya sakit secara fisik, tetapi juga sangat sakit secara mental. Mereka yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, adalah orang-orang yang bertahan dan berusaha menyembuhkan dirinya sendiri secara fisik dan mental. Terkadang perceraian adalah sebuah jalan yang ditempuh untuk lepas dari berbagai kekerasan yang menimpanya.
Sekuat tenaga yang Marsha miliki Marsha mencoba menghindar dan segera lari dari unit apartemen itu. Jika terus-menerus berada di situ, sudah dipastikan Marsha akan kembali mengalami kekerasan dan luka baik secara fisik dan seksual. Sebab, Marsha tahu persis Melvin, sudah pasti pria itu akan memaksanya kembali. Lebih baik, Marsha melawan Melvin dengan tenaganya dan kemudian lari dari tempat itu.
"Lepaskan aku, Vin!" ucap Marsha yang sudah bisa terlepas dari pria itu.
"Enggak, aku enggak akan melepaskanmu begitu saja, Marsha Ayangku," balas Melvin.
Rasanya Marsha kian bergidik ngeri saat ini. Ucapan Melvin justru membuatnya harus segera melarikan diri untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Sebab, bisa saja Melvin berbuat lebih dari ini. Sampai akhrinya Marsha berhasil meraih gagang pintu, dan keluar dari unit apartemen itu.
Mengerahkan sepenuh tenaga, Marsha berlari, segera menuju ke dalam lift. Dadanya kembang kempis, luka yang dia terima di sudut bibir dan lehernya, tidak bisa dia tutupi, tetapi jauh lebih baginya karena berhasil keluar dari cengkeraman mulut singa, yaitu Melvin.
__ADS_1