Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Ngidam Super Aneh


__ADS_3

Agaknya kali ini, situasi emosi dan mood Marsha masih berubah-ubah. Marsha sendiri juga sampai bingung dengan dirinya sendiri, tak jarang dia juga lebih banyak menangis. Sampai Abraham saja kadang geleng kepala menghadapi Bumil dengan mood swingnya.


"Kenapa sih Shayang, kok jadi mood swing seperti ini sih?" tanya Abraham dengan menatap istrinya yang tengah menangis itu.


Marsha memilih diam dan terisak. Jujur saja, sensitivitas yang tinggi sampai membuat Marsha benar-benar banyak menangis. Seperti hari ini, hanya sekadar menginginkan sebuah makanan saja, Abraham terlihat enggan untuk membelikan istrinya itu. Merasa ditolak, Marsha pun memilih mengurung diri di kamar dan menangis.


"Aku beliin, tapi sebentar," balas Abraham.


"Kalau gak mau ya sudah ... gak ikhlas," balas Marsha.


Abraham menghela nafas dan menatap istrinya itu, "Aku mau beliin, cuma nanti sore," balas Abraham lagi.


Marsha pun kian menangis dan menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Sebal dengan kelakuan suaminya itu. Inginnya dia bisa menikmati apa yang dia mau, tapi suaminya seolah menunda-nunda.


"Ya, sudah ... kalau gak mau bilang saja Mas ... sejak aku hamil dan pengen sesuatu, kamunya kayak enggak niat gitu. Padahal dia juga anak kamu loh," balas Marsha.


Sebegitu sensitifnya Marsha, dia merasa bahwa suaminya itu terkadang tidak niat untuk membelikan apa yang dia mau. Maklum, hormon yang bergejolak di dalam tubuh membuat Marsha emosian dan juga terlalu menilai sesuatu dengan sudut pandangnya sendiri.


“Enggak gitu, Yang … aku mau beliin, tapi nanti sore,” balas Abraham lagi.


“Gak usah, gak jadi,” balas Marsha yang memilih untuk memunggungi Abraham. Begitu kesal dengan suaminya itu.

__ADS_1


Lantaran Marsha tengah kesal, Abraham memilih keluar dari kamar. Pria itu juga tampak uring-uringan. Wajahnya pun kusut karena beberapa kali dia mengusapi wajahnya dengan kasar. Mama Diah yang melihat putranya pun justru tersenyum dan mendekat ke putranya itu.


"Kenapa lagi?" tanya Mama Diah.


"Enggak apa-apa kok Ma," balas Abraham dengan menghela nafas dan beberapa kali memejamkan matanya.


Di dalam benak Abraham, jika Marsha terus-menerus begini bisa membuat Abraham pun emosi juga. Sebab, Abraham tidak menolak, cuma memang Abraham akan membelikan nanti sore.


"Sabar ... menghadapi istri hamil memang seperti itu. Dulu, Marsha awal hamil sampai pergi ke Semarang, pasti emosinya bergejolak dan dia banyak nangis. Hanya saja kamu tidak tahu saja. Sekarang, kamu sendiri bisa melihat bagaimana wanita hamil dengan emosi dan mood yang naik turun," ucap Mama Diah dengan mengusapi bahu putranya itu.


"Maksud Bram itu mau beliin apa yang dia mau, cuma nanti sore," balasnya lagi.


"Kenapa menunggu sore?" tanya Mama Diah.


Mama Diah kemudian tersenyum, "Ibu hamil itu sensitif, Bram ... dia berkorban untuk mengandung anak kamu loh. Ada kehidupan baru di rahimnya, hormon dalam tubuhnya bergejolak, stress meningkat, dan juga berbagai perubahan lainnya. Kamu sendiri yang meminta anak, sekarang setelah istri kamu hamil, dia ngidam dan kamu menunda-nunda," ucap Mama Diah.


"Mama kok malahan belain Marsha sih?" balas Abraham.


"Bukan belain Bram ... Mama hanya berbicara fakta. Suami itu kalau bisa ya lakukanlah yang terbaik untuk istrinya, terlebih istri kamu sedang hamil. Dia anak kamu loh Bram," balas Mama Diah.


Abraham hanya bisa diam dan beberapa kali menghela nafas. Dia merasa justru semakin terpojok sekarang. Padahal, dia hanya menunggu matahari lebih redup saja.

__ADS_1


"Emangnya Marsha pengen apa?" tanya Mama Diah lagi.


"Ngidamnya aneh-aneh Ma ... dia mau Roti Gambang dan Dodol Betawi, dan adaknya di Gondangdia sana. Jauh loh Ma, panas-panas begini," balas Abraham.


"Mungkin baru orang lain itu aneh, tetapi tidak buat orang yang hamil. Kadang kan itu juga maunya anak kamu yang pengen itu," balas Mama Diah.


"Padahal biasanya tidak pernah loh Ma ... Bram jadi heran dengan Marsha, emosian dan juga banyak nangisnya," balas Abraham.


Seakan Abraham pun sedang curhat dengan Mamanya. Bagaimana pun di mata Abraham apa yang Marsha inginkan itu adalah hal yang aneh. Seingatnya dulu, Marsha juga tidak ngidam yang aneh-aneh saat hamil Mira dulu.


"Dulu itu, waktu Mama hamil kamu, Mama itu ngidam Putu Ayu jam 10 malam. Kamu tahu kan itu makanan tradisional dan sudah jarang orang yang jualan, tetapi Mama pengennya itu. Akhirnya, Papa kamu beliin, nyari sampai ke dekat Pasar Johar sana untuk beliin Putu Ayu," cerita Mama Diah.


Abraham sampai geleng kepala, apakah memang begitu orang yang sedang hamil. Yang tidak pernah diminta pun bisa diminta. Sama seperti Mamanya dulu yang meminta Putu Ayu, dan sekarang Marsha yang menginginkan Roti Gambang dan Dodol Betawi.


"Kalaupun menolak itu disebutkan, dijelaskan baik-baik kenapa kamu tidak mau membelikannya dengan segera. Perasaan Ibu hamil itu lebih sensitif, jadi para suami harus lebih bersabar. Sembilan bulan membawa anak kamu di dalam rahimnya itu tidak mudah Bram. Bahkan para pria itu tidak bisa hamil dan melahirkan," balas Mama Diah.


Abraham diam sejenak, kemudian dia berdiri. "Ya sudah, Bram belikan dulu Roti Gambang dan juga Dodol Betawi untuk Marsha, daripada nanti dia makin sedih dan nangis," balasnya.


"Yang sabar ... menghadapi istri yang fase ngidam itu perlu kesabaran ekstra," balas Mama Diah.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Iya Ma ...."

__ADS_1


Sejenak berpikir apakah memang dia yang kurang sabar, atau Marsha yang terlalu sensitif hingga kondisi bisa semakin runyam seperti ini. Abraham hanya bisa menekankan kepada dirinya sendiri untuk sabar, sabar, dan sabar.


__ADS_2