Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Kerja Sama Orang Tua Baru


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu, rutinitas Marsha tidak jauh-jauh dari Baby Mira. Memandikan, menjemur, dan juga memberikan ASI. Semu dilakukan Marsha dengan perlahan, karena perjalanannya menjadi seorang Ibu masih panjang. Marsha pun menyadari bahwa dirinya masih butuh untuk berlatih. Kendati demikian, keberadaan Mama Diah sangat membantu Marsha. Setidaknya urusan dapur sudah diambil alih oleh Mama Diah, sehingga Marsha bisa fokus kepada Baby Mira.


"Yah, Ma ... mau jemur Mira malahan pagi-pagi mendung. Jadi, gimana ya Ma?" tanya Marsha yang juga tampak ragu.


Apartemen tipe balkoni milik Abraham memang selama dua pagi ini dimanfaatkan Marsha untuk menjemur Baby Mira. Namun, yang terjadi pagi hari ini justru langit Ibukota sudah mendung, sehingga Marsha merasa ragu untuk menjemur Mira.


"Sebaiknya enggak usah dijemur dulu, Sha ... mendungnya gelap deh. Agaknya mau hujan," balas Mama Diah yang juga menengadahkan wajahnya dan melihat ke langit di atas. Memang begitu gelap. Tak biasanya langit Ibukota begitu mendung di pagi hari.


"Enggak dijemur berarti enggak apa-apa ya Ma?" tanya Marsha lagi.


Marsha memang merasa kurang pengalaman, karenanya Marsha juga banyak bertanya kepada Mama Diah yang sudah memiliki pengalaman seputar mengurus bayi.


"Enggak apa-apa ... besok kalau ada matahari, Mira dijemur lagi yah," balas Mama Diah.


Kemudian Mama Diah menatap ke si kecil Mira yang memang begitu lucu dan menggemaskan itu. Kemudian menyentuh sedikit pipi wajahnya. "Jakarta saja kalau pagi bisa mendung ya Mira Sayang ... gimana kamu kalau tinggal di Ungaran, yang daerah pegunungan dan hujan bisa turun sewaktu-waktu. Jadi, memang benar ... lahir di Jakarta saja ya Nak Cantik," balas Mama Diah.


Mendengar apa yang disampaikan oleh Mama Diah, Marsha pun merespons dengan menganggukkan kepalanya, "Benar banget Ma ... dulu, waktu awal hamil itu tinggal di rumah Eyang di Ungaran, bisa hujan kapan saja. Anginnya juga dingin. Waktu awal hamil dulu, jadi bolak-balik ke kamar kecil untuk buang urine," cerita Marsha.


"Eyangnya di Ungaran mana? Dekat gunung atau tidak?" tanya Mama Diah.


"Lumayan dekat dengan Candi Gedong Songo, Ma ... siang hari kalau kabutnya sudah turun ya bisa hujan karena kabut itu," balas Marsha lagi.


"Nanti Mira kalau sudah agak besar dan sudah kuat, main ke Semarang yah ... ke rumahnya Eyang dekat Taman Air Maerokoco. Atau ke rumahnya Eyang buyut ke Ungaran. Nanti jalan-jalan sama Eyang ke Kota Lama," balas Mama Diah.

__ADS_1


Mendengar beberapa tempat wisata yang disebutkan oleh Mama Diah seakan membuat Marsha begitu rindu dengan kota Semarang. Benar yang disampaikan oleh Mama Diah bahwa nanti dia akan mengajak Mira untuk mengenal tempat kelahirannya. Mengenalkan budaya dan kuliner yang begitu lezat dari Semarang.


"Iya Eyang ... nanti kami jalan-jalan ke Semarang. Mira juga pengen naik kereta api dari Jakarta ke Semarang," balasnya.


Sampai akhirnya, pagi itu rupanya hujan benar-benar turun membasahi Ibukota. Mendung gelap yang ternyata juga menghasilkan air hujan. Sehingga pagi itu rasanya begitu syahdu.


"Yuk, Mira mandi dulu yuk ... dimandiin Mama ya Sayang," ucap Marsha sembari membawa Baby Mira masuk ke dalam kamarnya.


"Mau mandi sekarang Shayang? Tuh, aku sudah siapkan air hangat buat mandi Mira," ucap Abraham yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Iya, mandi cepat saja Papa ... itu di luar sudah hujan," balas Marsha.


Abraham pun menengok dari jendela di dalam kamarnya, benar jalanan dan sekeliling apartemen itu sudah basah. Hujan pagi itu pun cukup lebat.


"Yuk, Papa temenin ... pengen lihat putrinya Papa ini mandi," ucap Abraham.


"Aku yang ambilin tissue basah, kapas, dan air hangat saja Shayang. Sama kantong plastik," balas Abraham.


Tidak perlu menunggu waktu lama, Papa muda itu sudah bisa menyiapkan semuanya. Sementara Marsha membersihkan pup bayinya, Abraham yang memegangi kantong plastik dan mengamati cara bagaimana istrinya itu membersihkan bayinya.


"Kamu jijik enggak Shayang?" tanya Abraham dengan tiba-tiba.


"Ya, awalnya jijik. Cuma, lama-lama ya biasa saja. Orang anaknya sendiri, Mas ... masak ya enggak dibersihin," balas Marsha.

__ADS_1


Abraham pun tersenyum, "Siapa yang mengira coba, model sekelas kamu mengurus anak sendiri bahkan sampai membersihkan diapersnya. Salut banget aku, Shayang," balas Abraham.


"Model kan cuma pekerjaan Mas ... tetapi menjadi seorang Ibu adalah takdir dan juga berkah. Jadi, aku akan terus menjalaninya dengan sebaik mungkin," balas Marsha.


Wah, rasanya Abraham begitu beruntung dan bersyukur memiliki Marsha. Menjadi model dan juga selebgram yang kini digeluti wanita cantik itu, tetapi setiap harinya Marsha hanya seperti para Ibu pada umumnya yang mengasuh anaknya sendiri.


"Mau mandi sekarang?" tanya Abraham kemudian.


"Iya, sekalian biar bersih," balas Marsha.


Abraham membuang diapers kotor itu ke tempat sampah, setelahnya dia menyiapkan di ranjangnya kain perlak supaya air di tubuh Mira tidak mengenai ranjangnya, selain itu Abraham juga mendekatkan Minyak Telon dan Cologne untuk bayi. Setidaknya biar Marsha tidak perlu duduk dan berdiri untuk menyiapkan semuanya. Diapers tipe perekat untuk Baby Mira juga sudah dia siapkan.


"Mas, tolong ... handuknya Mira dong," ucap Marsha yang membutuhkan bantuan dari suaminya.


"Oke, siap Sayang ... meluncur," jawab Abraham.


Dengan tersenyum, pria itu kemudian masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa handuk berwarna merah muda milik Mira.


"Ini, Mama Shayang," ucap Abraham.


"Makasih Papa ... nah, Mira udah yah mandinya. Di luar hujan Sayang, pasti dingin," ucap Marsha yang juga mengajak mengobrol bayinya itu.


Marsha segera mengangkat badan Mira dari dalam ember yang berisi air hangat itu, kemudian Abraham yang menerima bayinya dengan merentangkan handuk itu dan menerimanya. Abraham lagi-lagi tersenyum melihat ekspresi lucu bayi kecilnya itu.

__ADS_1


"Sudah yah mandinya ... nanti Adik bisa kedinginan. Sekarang ganti baju sama Mama yah," ucap Abraham sembari menggendong Mira kekuar dari kamar mandi.


Marsha pun tersenyum, walau Abraham saat menggendong Mira masih terlihat kaku, tetapi Abraham tetap melakukannya. Tidak mengeluh juga saat dimintai bantuan. Sejatinya menjadi orang tua adalah tentang kerja sama. Terlebih orang tua baru seperti Abraham dan Marsha yang memang belum memiliki banyak pengalaman, tetapi keduanya bisa melakukan semua bersama karena mau bekerja sama.


__ADS_2