Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Menemui Melvin di Penjara


__ADS_3

Selang beberapa hari berlalu, sekarang Marsha dan Abraham sama-sama untuk mengunjungi Melvin yang berada di dalam penjara lembaga permasyarakatan. Sebelumnya, Marsha menitipkan Mira dan Marvel kepada Mama Diah terlebih dahulu.


"Mama, Marsha titip anak-anak ya Ma ... tidak akan lama kok Ma," ucap Marsha kepada Mama Diah di sana.


"Iya, Sha ... tenang saja. Santai saja. Usai dari lembaga permsyarakatan kalau kamu ingin jalan-jalan sebentar dengan Abraham juga tidak apa-apa, Sha. Ibu menyusui juga membutuhkan hiburan. Mira dan Marvel akan aman bersama Mama," ucapnya.


Kemudian, Marsha pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Terima kasih banyak, Ma ... terima kasih sudah selalu menjadi Mama yang bisa Marsha andalkan," balasnya.


"Sama-sama Sha ... inilah yang namanya keluarga. Kita bisa hidup bersama dan mendukung satu sama lain," balas Mama Diah sembari menggendong Marvel yang sekarang usianya sudah satu bulan.


Kemudian Marsha dan Abraham pun keluar dari rumah, dan kemudian dia mulai menaiki mobilnya. Melihat kendaraan yang melaju di Ibukota dengan begitu lalu lalang. Bahkan ini pun akan menjadi mengendarai mobil terjauhnya usia melahirkan Marvel.


"Gimana perasaan kamu, Mas?" tanya Marsha kepada suaminya.


"Ya, lumayan Shayang ... agak kepikiran juga, cuma ya santai saja. Dihadapai saja, aku juga bingung sebenarnya nanti waktu ketemu akan bicara apa," balas Abraham.


Ya, sudah begitu lama tidak bertemu tentu saja membuat Abraham merasakan bingung juga akan berbicara apa dengan Melvin nanti. Akan tetapi, Abraham akan berusaha untuk melakukan pendekatan dan juga bisa membangun komunikasi yang baik dengan adiknya itu.

__ADS_1


"Sama ... aku pun juga bingung. Akan tetapi, lebih memilih untuk mengalir saja," balas Marsha.


Hingga akhirnya, mobil yang Abraham kendarai sudah sampai di lembaga permasyarakatan. Kemudian mereka melihat Mama Saraswati yang sudah menunggu di area parkiran mobil. Melihat Mama Saras, Marsha dan Abraham pun bergabung dan mulai berjalan masuk ke dalam lembaga permasyarakatan. Terlihat Marsha yang menggenggam tangan suaminya, karena jujur saja Marsha merasa takut. Akan tetapi, harus tetap menghadapinya.


Mama Saraswati yang rutin mengunjungi Melvin pun mengisi buku kunjungan dan menyerahkan e-KTP. Setelahnya, petugas akan memberikan kartu izin berkunjung dari petugas lembaga permasyarakatan atau rutan. Barang yang dibawa harus dititipkan ke dalam loker, dan juga kunjungan dibatasi hanya boleh berlangsung selama 15 menit saja. Ada aturan yang lain yaitu ketika mengunjungi tahanan, pengunjungi harus memakai pakaian sopan, tidak diperkenankan memakai celana pendek, dan dilarang membawa senjata api dan senjata tajam.


Selain itu, ada petugas lain yang memanggil Melvin Andrian untuk bisa bertemu dengan Mama Saras dan keluarganya di ruang tunggu. Dari jauh, ketika Marsha melihat sosok Melvin dengan mengenakan pakaian tahanan berwarna oranye itu, dadanya merasa sesak, dan juga dia melihat sosok Melvin yang benar-benar berbeda.


"Mas," ucap Marsha dengan lirih.


Begitu duduk dan sudah saling berhadap-hadapan, justru Mama Saraswati yang menitikkan air matanya. Pertemuan ini terasa begitu haru. Mereka yang berseteru satu sama lain, akhirnya bisa duduk berhadap-hadapan.


"Bram ... Marsha," sapa Melvin dengan lirih.


"Melvin," balas Abraham dan Marsha nyaris bersamaan.


Tampak di sana Melvin pun tersenyum getir. Untuk Melvin sendiri, dia merasakan malu bertemu dengan Abraham dan Marsha di kala dirinya tanpa daya, hanya mengenakan baju tahanan. Di berada di titik terendahnya.

__ADS_1


"Kamu sehat, Vin?" tanya Abraham kepada Melvin.


"Hmm, iya ... lumayan. Kamu bagaimana?" tanya Melvin kemudian.


Tampak Abraham menganggukkan kepalanya perlahan, "Kami baik ... sehat kan?" balas Abraham lagi.


"Ya, lumayan. Tumben?"


Sekali ini Melvin bertanya karena memang Abraham dan Marsha tidak pernah mengunjunginya sebelumnya. Dia merasa ini adalah hari yang penuh kejutan olehnya.


"Sha ... lama tidak bertemu Sha," ucap Melvin kemudian dengan menatap Marsha. Kali ini Melvin menatap Marsha dengan sorot matanya yang penuh arti. Ada rasa rindu yang bersembunyi di manik mata itu. Ada rasa duka dan juga pilu. Semuanya bisa tercetak dengan jelas di sorot mata Melvin ketika menatap Marsha.


"Kamu baik, Vin?" tanya Marsha kemudian.


"Seperti yang kamu lihat, Sha," balasnya.


Ketika Melvin mengucapkan itu, Marsha sangat yakin bahwa sebenarnya Melvin dalam keadaan tidak baik-baik saja. Sebagai orang yang pernah tinggal dengan Melvin, Marsha sangat tahu bahwa Melvin berada dalam kondisi tidak baik. Keadaan tubuh, wajah yang seakan layu dan juga suaranya yang lirih dan bergetar menjadi bukti bahwa kondisi Melvin Andrian sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2