Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Ditertawain Mama


__ADS_3

Rupanya usai memanfaatkan waktu dalam tempo sesingkat-singkatnya, Abraham dan Marsha mandi terlebih dahulu. Kurang lebih lima belas menit kemudian barulah mereka turun ke bawah dan menemui Mama Diah yang masih berkutat di dapur.


"Ma," sapa Abraham yang memang turun ke dapur terlebih dahulu.


"Tahu baxonya sudah Mama goreng tuh. Kalian tadi ngapain?" tanya Mama Diah yang tampak menyelidik putranya itu.


"Nidurkan Mira dulu kok Ma," balas Abraham dengan sedikit menundukkan wajahnya.


Tidak berselang lama, barulah Marsha turun dan berganti piyama serta rambutnya setengah basah di sana.


"Ma," sapa Marsha kemudian.


"Mama tungguin loh, Sha," balas Mama Diah dengan tertawa melihat menantunya itu.


Merasa ditertawakan Mama Diah, Marsha pun malu.


"Apa ada yang salah dengan Marsha ya Ma?" tanyanya.


"Enggak, Mama tuh nungguin kamu katanya mau bikin Sambel Kecap. Tuh Mama udah bikin sambel kecap duluan," balasnya.


"Maaf ya Ma," balas Marsha.


Kemudian Mama Diah menganggukkan kepalanya. Sebenarnya Mama Diah tertawa dalam hati melihat kelakuan anak dan menantunya yang terlihat salah tingkah itu.


Lantas mereka bertiga duduk di meja makan. Di hadapannya sudah ada Tahu Baxo, sambal kecap, Teh hangat, dan Kue Bulan di sana. Menikmati malam dengan hujan yang masih saja turun di sana.

__ADS_1


"Sha, bukannya tadi sore kamu udah mandi kan yah usai mandiin Mira?" tanya Mama Diah.


Merasa diperhatikan, makin mati kutulah Marsha sekarang. Tidak menyangka bahwa Mama Diah tahu jika tadi dirinya memang sudah mandi dan sekarang mandi lagi. Marsha hanya tersenyum dan menundukkan wajahnya, malu sebenarnya. Seolah sekarang dirinya memang tertangkap basah dengan Mamanya itu.


"Enggak apa-apa, Sha. Masih muda juga. Hujan juga kan," ucap Mama Diah lagi.


"Eh, Ma … itu tadi," balas Marsha bingung. Mau berbohong takut dosa, tidak menjawab jujur juga malu.


"Kapan kalian mau punya anak lagi?" tanya Mama Diah.


"Enggak terburu-buru, Ma. Biar Mira lepas ASI dulu. Setahun saja belum, Ma," balasnya.


"Enggak apa-apa, Sha … sekalian capeknya. Kelihatannya Abraham juga tidak keberatan kok kalau kamu hamil lagi," balas Mama Diah.


"Iya, Ma … Abraham tidak keberatan kok kalau punya baby lagi. Biar akur nanti jaraknya dekat juga tidak apa-apa."


Lain Marsha, lain juga Abraham. Jika Marsha tak ingin terburu-buru, Abraham juga ingin memiliki anak lagi. Jarak yang dekat menurut Abraham justru bisa membuat si Sulung dan si Bungsu akur dan juga akrab. Daripada jarak yang terlalu jauh. Sehingga Abraham mau-mau saja memiliki anak lagi.


"Nanti kalau kamu mau punya anak lagi, Mama bantuin lagi," balas Mama Diah.


“Mama ke Jakarta saja, Ma … kan nanti Mira juga mau ulang tahun yang pertama. Biar lengkap dan dirayakan bersama Eyangnya. Gimana Ma? Kami juga tidak masalah jika Mama tinggal bersama kami di Jakarta,” balas Marsha.


Itu memang benar. Marsha sama sekali tidak masalah jika Mama Diah mau tinggal di Jakarta bersama dengannya. Lagipula, Marsha justru senang rumah menjadi ramai, ada teman mengobrol, dan Mira juga dekat dengan Eyangnya.


“Tidak usah Sha … Mama itu justru senang kamu dan Abraham bisa mandiri bersama. Membingkai keluarga bersama. Setelah berkeluarga itu keluarga inti lebih penting, Sha … cuma Mama janji nanti sering-sering mengunjungi kalian,” balas Mama Diah.

__ADS_1


Bukan menolak mentah-mentah, hanya saja memang setelah berkeluarga itu menurut Mama Diah adalah suami dan istri bisa hidup bersama, mandiri, dan berusaha menyelesaikan setiap permasalahan kalian sendiri. Bagaimana pun mertua hanya tamu dalam rumah tangga. Itu yang dianggap Mama Diah selama ini.


“Marsha benar Ma … Bram juga tidak masalah jika Mama tinggal bersama kami di Jakarta. Abraham tidak keberatan sama sekali,” balasnya.


Mama Diah pun menghela nafas di sana, “Mama tahu … hanya saja di Jakarta itu terlalu banyak masalah, Bram. Termasuk hubungan kalian dengan Melvin, dan juga Melvin yang sekarang kembali ditangkap pihak berwajib Mama tahu. Bahkan nama Marsha kembali disebut-sebut dalam pemberitaan infotainment Mama juga tahu. Mama sudah tua, jika ada kabar seperti itu rasanya sudah tidak kuat, Bram,” aku Mama Diah dengan jujur.


“Benar Ma … tujuan kami kemari bukan hanya merayakan ulang tahun Mama, tetapi juga karena pemberitaan yang begitu santer mengenai Melvin dan membawa-bawa nama Marsha. Agaknya Abraham perlu menyingkir sementara, Ma,” balas Abraham.


“Tidak apa-apa. Jadikan ini waktu untuk menenangkan diri bersama. Memang pemberitaan yang terlalu berlebihan juga tidak terlalu bagus. Jadi, lebih baik menyingkir saja sejenak. Menenangkan diri dan pikiran yang pasti begitu penuh,” balas Mama Diah.


“Maaf ya Mas dan Mama, gara-gara Marsha semuanya menjadi seperti ini,” sahut Marsha. Setidaknya Marsha sendiri merasa memang semua karena dirinya.


“Tidak Sha … jauh sebelum kenal kamu, memang kami sudah bermasalah. Abraham adalah putra kandung Papanya Melvin juga. Fakta itu tidak bisa diubah, Sha. Hingga mendiang Papa Wisesa tergoda wanita lain dan lahirlah Melvin. Semuanya bukan salah kamu, kami sudah bermasalah terlebih dulu. Hanya saja, Mama berharap kali ini Melvin benar-benar bertobat. Mama juga kaget karena Melvin ternyata mengonsumsi barang haram,” balas Mama Diah lagi.


Untuk beberapa saat ketiganya sama-sama diam, tentu banyak yang mereka pikirkan. Hingga akhirnya Mama Diah kembali berbicara, “Sudah, jangan dipikirkan. Lain kali, kalau kalian sibuk di dalam kamar tidak usah balas pertanyaan Mama. Kerja keras, biar adiknya Mira cepat lahir,” goda Mama Diah sekarang.


Marsha yang sedang mengunyah Tahu Baxo pun sampai kaget dan terbatuk-batuk di sana.


Uhuk!


“Santai Sha … Mama tidak apa-apa. Namanya masih muda dan suami istri, tidak apa-apa. Minum dulu yah. Cuma, kalau Abraham terlalu nakal sama kamu, pukul saja dia, Sha … jangan kasih ampun,” balas Mama Diah kemudian.


Abraham pun yang mengelus punggung Marsha yang batuk-batuk pun tersenyum, “Tidak akan Ma … Abraham akan memperlakukan Marsha dengan baik. Tidak akan menyakiti wanita yang paling Abraham cintai,” balasnya.


“Gombalmu, Bram … Sha, kalau cuma bermulut manis jangan mau. Harus minta bukti yah. Kalau Abraham macam-macam bilang aja ke Mama, nanti biar Mama yang bertindak,” balas Mama Diah dengan menatap tajam pada putra satu-satunya itu.

__ADS_1


__ADS_2