Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Hari yang Ketujuh


__ADS_3

Tidak terasa kepergian Papa Wisesa sudah memasuki hari yang ketujuh. Di hari ini, pagi harinya, Abraham mengajak Marsha dan Mama Diah mengunjungi Memorial Park, sekadar menabur bunga di pusara ayah kandungnya itu. Lantaran hendak mengunjungi pemakaman, Marsha pun kembali menitipkan Mira kepada Bu Sara. Memiliki tetangga seperti keluarga Agastya, membuat Marsha merasakan memiliki saudara dalam kesukaran.


"Bu Sara ... maaf ya Bu, saya minta tolong untuk menitipkan Mira lagi," ucapnya pagi ini kepada Bu Sara.


"Iya, Sha ... santai saja. Biar Mira di sini main sama Kakak El yah," balas Bu Sara.


"Maaf ya Bu Sara, saya jadi sering banget merepotkan Bu Sara ... cuman bagaimana lagi Bu, mengunjungi pemakaman tidak elok jika membawa bayi," balas Marsha.


"Iya, santai saja ... asalkan ada ASIP-nya aman kok. Santai saja, Sha ... Mira aman di sini," balasnya. Bu Sara pun yang menggendong Mira tampak tersenyum, "Baby cantik di sini lagi yah ... main sama Kak El yah," ucapnya.


Usai menitipkan Mira, Marsha pun berpamitan untuk menuju Memorial Park bersama dengan Abraham dan juga Mama Diah. Sebenarnya sungkan juga karena harus menitipkan Mira, tetapi bagaimana lagi ini yang bisa Marsha lakukan.


Dengan tenang Abraham mengemudikan mobilnya menuju Memorial Park yang indah dan juga terkenal itu. Di sana, Abraham beserta keluarganya tampak berjongkok di depan pusara ayah kandungnya dan juga menaburkan bunga di sana. Ada beberapa ayat suci yang Abraham lantunkan. Benar yang dikatakan Marsha sebelumnya bahwa tidak baik menyimpan dendam kepada mereka yang telah tiada. Untuk itu, Abraham pun sudah membuka hatinya dan melepaskan pengampunan untuk Papanya itu.


"Beristirahatlah dengan tenang, Pa," ucap Abraham sembari menabur bunga di sana.


Marsha yang melihat suaminya itu, tersenyum, ya Marsha merasa begitu bangga dengan sosok Abraham dan kepribadiannya yang benar-benar baik. Sebagai seorang anak yang tersakiti, Abraham nyatanya kini bisa melakukan yang benar. Bisa melepaskan pengampunan, bahkan kali pertama Marsha mendengar suaminya memanggil mendiang Papanya dengan sebutan yang benar.


"Aku bangga sama kamu, Mas," bisik Marsha dengan lirih di telinga suaminya itu.


"Hmm, kenapa Shayang?" tanyanya.

__ADS_1


"Papa Wisesa pasti di surga sana tersenyum melihat putra sulungnya datang mengirimkan banyak doa untuk beliau," balas Marsha.


Sangat tidak mudah untuk melepaskan maaf dan pengampunan untuk seseorang yang sudah benar-benar menyakiti dan meninggalkan luka yang mendalam di dalam hati. Akan tetapi, Abraham menunjukkan bahwa dia bisa mengampuni, memaafkan, dan mengirimkan doa terbaiknya untuk melapangkan kubur sang Papa yang telah tiada.


"Semoga beliau tenang di sana, Shayang," balas Abraham.


"Amin," sahut Marsha.


Mereka tidak berlama-lama berada di Memorial Park, karena petang nanti Abraham dan Marsha akan datang di acara tahlilan yang diadakan di kediaman Melvin. Memang mereka tidak mendapatkan undangan secara resmi, tetapi Marshalah yang mendorong suaminya itu untuk turut hadir dan mengirimkan doa untuk mendiang Papa Wisesa.


***


Sebenarnya Abraham merasa ragu harus menyambangi kediaman rumah Melvin Andrian. Terlebih Abraham tahu bahwa rumah itu adalah rumah yang Marsha tinggali dulu, kala Marsha masih menjadi istri sang aktor itu. Pun sama halnya dengan Marsha, yang juga tak sesak kala menyambangi rumah itu. Ya, semua kenangannya dengan Melvin seolah masih tertinggal di sana. Hari-hari bahagia usai menjadi pengantin baru, malam-malam panjang dengan kesepiannya, hingga kekerasan dalam rumah tangga yang Marsha alami. Semua kenangan itu seakan tumbuh dengan sendirinya di dalam benaknya.


"Yakin mau masuk?" tanya Abraham.


"Iya," balas Marsha.


Kedatangan Marsha dan Abraham pun disambut para Asisten Rumah Tangga yang masih mengenal dan mengingat Marsha. Akan tetapi, ada Mama Saraswati yang bersikap biasa saja, dan juga tatapan tajam dari seorang Melvin Andrian. Akan tetapi, Marsha dan Abraham sama-sama menguatkan hatinya terlebih dahulu, mengingat tujuannya datang untuk mendoakan almarhum, bukan untuk memancing keributan.


Bahkan Abraham dan Marsha memiliki duduk agak menjauh supaya tidak memancing emosi Melvin dan Mamanya. Dengan khusyu, Abrahm dan Marsha turut membacakan surat yasin yang dibacakan malam itu. Kembali dada Abraham terasa sesak mengingat tujuh hari yang lalu, kala Papanya mengejarnya dan meminta maaf padanya. Teringat suara Papanya yang memanggil namanya dan ingin mengucapkan banyak hal kepadanya. Sayangnya, semua tinggal kenangan yang tidak bisa diulangi lagi.

__ADS_1


Lebih dari satu jam, keduanya mengikuti pengajian itu. Sampai akhirnya Abraham mengajak Marsha untuk segera pulang. Tujuannya kedatangannya adalah mengikuti pengajian saja, sehingga saat acara utama sudah selesai, Abraham memilih segera beranjak pergi.


Sayangnya sebelum Abraham pergi, ada Melvin yang berjalan ke arah Abraham. Pria itu menunjukkan sorot mata yang dalam dan juga ada rasa amarah yang ditunjukkan kepada Marsha dan juga Abraham.


"Untuk apa kalian kemari?" tanya Melvin.


"Pengajian, tujuh harian almarhum," sahut Abraham dengan singkat.


"Andai hari ini Papa tidak bertemu denganmu, sudah pasti Papa masih hidup sampai sekarang ini," balasnya.


"Semua yang terjadi sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa, Vin ... kita hanya sebatas menjalani," balas Marsha.


Sekali lagi Marsha hanya ingin mengingatkan Melvin bahwa semua yang terjadi di bawah kolong langit ini sudah digariskan oleh Allah semata. Hamba-Nya hanya sebatas menjalani saja. Tidak bisa berbuat banyak.


"Jangan tunjukkan wajah kalian ke hadapanku dan Mama lagi. Aku muak berurusan dengan kalian, dan kau ... jika bukan karena darah Papa yang sama-sama mengalir di dalam tubuh kita, aku sudah pasti akan menolakmu," balas Melvin.


"Darah berbeda dengan air, hanya saja darah yang mengalir di tubuhmu, berbeda dengan darah yang mengalir di tubuhku. Sebaiknya, jalani hidupmu dengan baik, buatlah almarhum bangga kepadamu," nasihat Abraham kepada Melvin kala itu.


Baik dan buruknya kehidupan seorang Melvin Andrian tentu saja Abraham sangat tahu. Sebagai seorang Kakak, walau hanya Kakak Tiri, Abraham mengingatkan untuk menjalani hidup dengan baik kepada Melvin. Jika selama di dunia Melvin banyak melakukan tindakan yang membuat Papanya berduka, kini Melvin bisa menyenangkan hati Papanya dengan hidup yang benar dan seturut dengan apa yang baik.


Tujuh hari duka itu memang masih ada. Ada yang merasa kehilangan. Ada yang merasakan kecewa, bahkan ada yang merasa menyesal. Akan tetapi, mereka yang telah tiada sudah bersuka dan menikmati kebahagiaan bersama Sang Pencipta.

__ADS_1


__ADS_2