Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Formasi Keluarga Kecil


__ADS_3

Keesokan harinya, Marsha bangun untuk mulai berbelanja sayur yang biasanya ada di depan pintu masuk cluster perumahannya. Ini juga menjadi pagi pertama di mana Marsha harus bisa kembali mandiri. Sebab, tidak ada lagi Mama Diah yang akan membantunya terkait pekerjaan rumah tangga. Namun, kini Marsha harus melakukan semuanya secara mandiri.


Usai berbelanja sayur, kemudian Marsha mulai meracik sayuran untuk sarapan pagi ini. Hanya beberapa saat berkutat di dapur, Marsha kembali naik ke kamar untuk membangunkan suami dan anaknya.


"Mas," sapanya.


Niat hati ingin membangunkan, rupanya Abraham sudah menggendong Mira di dalam kamar. Tampak Abraham yang menggendong Mira dan mengusapi kepala anaknya itu.


"Sudah bangun ya Mira?" tanyanya.


"Iya ... tadi nangis. Jadinya ya sudah, aku gendong," balasnya.


Marsha pun mulai meminta Mira dan menggendongnya, "Mandi sana Mas ... aku sudah masuk untuk sarapan kita," balasnya.


Abraham tersenyum dan kini tangannya bergerak memberikan usapan di kepala Marsha, "Makasih yah ... ini juga weekend Sayang. Kadang bermalas-malasan sedikit juga tidak apa-apa," ucap Abraham.


"Harus tetap bangun pagi dong Mas ... harus masak. Walau setelahnya mau malas-malasan kan perutnya sudah keisi sama makanan," balasnya.


Hingga akhirnya keluarga Abraham pun satu per satu mulai mandi. Dilanjutkan dengan sarapan. Sementara Marsha juga turut sarapan dengan memangku Mira.


"Perlu aku suapin?" tanya Abraham kemudian.

__ADS_1


"Enggak ... aku bisa kok. Harus mandiri, enggak boleh manja," balas Marsha.


"Manja juga boleh kok Sayang ... cuma manjanya sama aku saja," balas Abraham dengan tertawa di sana.


Marsha kembali tersenyum di sana. Satu yang dia sadari ketika Mama Diah sudah kembali ke Semarang, maka urusan rumah dan juga Mira harus dikerjakan sendiri. Tidak ada bala bantuan yang datang dan membantunya. Kini dia harus bekerja sama dengan lebih kompak dengan suaminya.


Hampir lima belas menit waktu berlalu, keduanya pun sudah selesai untuk sarapan. Abraham pun langsung berdiri dan membawa peralatan makan yang kotor ke dapur kotor untuk mencucinya.


"Dicuci nanti saja Mas," ucap Marsha.


"Sekalian saja Shayang ... tadi kamu sudah memasak dan menyiapkan, biar aku yang cuci piringnya," balas Abraham.


Terlihat Abraham yang telaten mencuci setiap peralatan makan dengan sabun, kemudian membilasnya, dan menaruhnya di rak piring yang ada di dekat wastafel. Tidak hanya itu, usai makan Abraham juga membuat secangkir teh hangat untuk Marsha.


Marsha yang melihat tangan suaminya memberikan secangkir teh pun tersenyum, "Makasih Papa ... aku jadi malu loh karena dibuatin kayak gini. Harusnya istri yang melayani suaminya."


"Saling melayani saja Shayang ... ini keluarga kita. Formasi keluarga kecil kita yang sebenarnya kan aku, kamu, dan Mira. Jadi saling bekerja sama dan saling melayani," balas Abraham.


Lagi, Marsha tersenyum di sana, "Kamu pria hebat banget ... Mira, nanti kalau besar punya suami yang kayak Papa. Pria yang hebat, sabar, dan tidak segan untuk mau membantu Mama dengan berbagai pekerjaan rumah," ucap Marsha.


Abraham justru tertawa, "Kamu bisa saja. Masih banyak pria hebat di luar sana selain Papa, Mira Sayang ... asalkan pria itu baik, bertanggung jawab, dan juga cinta sama kamu. Siapa pun dia, apa pekerjaannya, apa latar belakangannya tidak menjadi masalah."

__ADS_1


"Iya ... cuma nanti kalau Mira dapat anak CEO gimana dong Mas? Ada yang berkali-kali mau jadiin Mira menantu tuh," balas Mira dengan tertawa.


Tentu saja itu hanya guyonan karena berkali-kali suaminya berbicara jika Pak Belva ingin menjadikan Mira sebagai menantunya. Abraham yang mendengarkan perkataan istrinya pun turut tertawa.


"Biarkan saja Yang ... kita tidak pernah tahu dengan apa yang terjadi di masa depan. Kalau mau dijodohkan dan dua belah pihak setuju juga tidak apa-apa kok," balas Abraham.


Bagi beberapa orang menjodohkan anak dengan pria lain sudah tidak zamannya sekarang. Namun, banyak pula mereka yang menikah langgeng karena perjodohan.


"Benar Mas ... bagaimana pun jodoh, maut, dan rezeki itu sudah digariskan oleh Allah. Kalau memang jodohnya Mira nanti putranya Pak CEO juga tidak apa-apa," balas Marsha.


Abraham kembali tersenyum di sana, "Kalau kamu sendiri, cuma menikahi pria biasa tidak apa-apa?" tanya Abraham kemudian.


Dengan cepat Marsha menggelengkan kepalanya secara samar dan menatap suaminya itu, "Aku memang mencintai pria biasa, tetapi aku yakin bahwa bersama pria biasa yang memiliki cinta yang luar biasa akan bisa membahagiakan aku sampai seumur hidupku," balas Marsha dengan sungguh-sungguh.


Lagi, Abraham juga tertawa karena balasan dari Marsha itu. Tidak mengira bahwa istrinya itu akan dengan mudahnya membesarkan hatinya. Dengan ucapan yang halus, lembut, dan penuh motivasi itulah yang bisa dengan mudahnya  membesarkan hatinya.


"Kamu bisa saja," balasnya.


"Serius ... kuharap dengan sekarang keluarga kita hanya bertiga, kita bisa lebih kuat. Aku masih enggak tahu cobaan apa lagi yang terjadi di depan kita. Hanya saja kita bisa melewatinya bersama-sama," balas Marsha.


"Menurutmu cobaan apa lagi yang akan datang?" tanya Abraham kemudian.

__ADS_1


"Entahlah, aku juga tidak tahu ... cuma aku merasa hubunganmu dengan Melvin masih tidak baik-baik saja. Jadi ya, kita masih harus waspada dan berjaga-jaga," balas Marsha.


Itu hanya sebuah firasat bahwa memang mengingat bahwa hubungan Abraham dan adik tirinya masih belum baik. Jadi Marsha masih harus waspada. Dia tidak pernah tahu apa yang direncanakan Melvin. Marsha tahu bahwa Melvin tidak akan menyerah begitu saja dan bisa menjadi ancaman serius untuk keluarganya.


__ADS_2