
Tidak terasa sepekan telah berlalu. Keinginan Abraham untuk mencari Marsha nyatanya ada kendala karena Abraham mendapatkan banyak pekerjaan untuk memotret. Sementara itu pekerjaan di studio fotonya juga sibuk, sehingga Abraham harus sedikit menahan diri untuk bisa mencari Marsha.
Walaupun terkadang Abraham masih berusaha mencari keberadaan Marsha di dalam kota, menyisiri ruas jalan dan beberapa kali Abraham mengunjungi Coffee Shop yang biasa didatangi Marsha, sekadar meminum Es Americano di sana.
Kali ini, saat Abraham tengah mengedit beberapa foto di Personal Komputer miliknya, Abraham terbersit untuk bertanya kepada Nania. Siapa tahu agensi dari Marsha itu mengetahui di mana Marsha berada sekarang ini. Tidak menunggu lama, Abraham pun segera menghubungi kontak Nania.
“Halo,” sapanya begitu panggilan seluler itu terhubung.
“Ya, halo … ada apa Bram?” tanya Nania di seberang sana.
“Begini Kak … aku mau tanya, kamu tahu di mana posisi Marsha sekarang enggak?” tanya Abraham.
“Enggak tuh … terakhir aku kontakan sama dia waktu persidangan cerainya trending banget waktu itu. Aku cuma kasih dukungan moril saja sama dia,” balas Nania.
Rupanya Nania sendiri sudah cukup lama juga tidak berhubungan dengan Marsha. Jika menilik pada pengakuan Nania, mungkin saja tiga minggu yang lalu, Nania menghubungi Marsha.
“Kenapa Bram? Ada perlu apa sama Marsha?” tanya Nania. Tentu saja Nania merasa harus bertanya, karena tidak biasanya Abraham menanyakan mengenai Marsha kepadanya.
“Enggak … ada beberapa foto dia yang belum diambil sih. Kok, aku kirimkan pesan buat ambil fotonya, tapi pesanku tidak terkirim,” sahut Abraham.
__ADS_1
Ada helaan nafas dari Nania. Sebab, setelah perceraian yang menggemparkan tanah air, dia juga tidak pernah menghubungi Marsha lagi. Namun, seolah Nania tersadar bahwa Marsha memang tidak melakukan update story di Whatsapp miliknya lebih dari sepekan ini.
“Ah, baru aku tahu … Marsha juga sudah lama tidak update. Kemana yah dia?” Nyatanya justru Nania yang bertanya dan juga merasakan kehilangan jejak salah satu modelnya itu. “Begini saja Bram, nanti coba aku bantuin cari yah … kalau aku mendapatkan jejak Marsha, nanti aku bakalan kasih tahu,” ucap Nania lagi.
“Hmm, iya … baiklah,” sahut Abraham dan kemudian mematikan sambungan telepon itu.
“Kamu ada di mana Marsha? Beri petunjuk ke mana aku harus mencarimu. Aku tidak bisa jika terus-menerus kehilanganmu,” ucap Abraham dengan memijit pelipisnya yang terasa begitu pening.
“Jika tidak di Jakarta, kamu pergi ke mana Marsha? Aku akan mencarimu dan terus mencarimu. Aku percaya suatu saat aku akan menemukanmu. Sejauh apa pun kamu pergi dariku, aku akan selalu menemukanmu.” Abraham berbicara dengan sungguh-sungguh dan dia berketetapan untuk tetap mencari Marsha. Kemana pun akan tuju untuk menemukan Marsha.
***
Dua bulan kemudian …
“Eyang, nanti Marsha mau main boleh?” tanya Marsha kepada Eyangnya yang tinggal dengannya.
Wanita yang sudah berusia senja dan rambutnya yang memutih itu memberi anggukan kepada Marsha. “Ya boleh, penting hati-hati … nyupirnya pelan-pelan saja, banyak perbukitan di sini,” ucap Eyang Partinah kepada cucunya itu.
“Iya Eyang, pasti Marsha akan hati-hati,” jawabnya.
__ADS_1
“Mau kemana? Pulangnya jangan malam-malam yah,” ucap Eyang Partinah lagi.
“Mau ke kota sebentar … Marsha pengen Lumpia Gang Lombok, Eyang,” jawab Marsha.
Ah, rupanya Marsha ingin menyambangi kota untuk membeli makanan khas Semarang yang legendaris itu. Lumpia Gang Lombok memang adalah salah satu tempat yang menjual Lumpia yang legendaris di Semarang. Berada di Gang Lombok nomor 11, dan saat ini dikelola oleh generasi ketiga adalah salah satu pelopor Lumpia di Semarang itu.
Mendengar jawaban Marsha, Eyang Partinah pun tertawa, “Iya … penting hati-hati. Kamu tidak ingin mengunjungi Mama kamu di Semarang juga?” tanya sang Eyang.
Dengan cepat Marsha menggelengkan kepalanya, “Tidak Eyang … Marsha belum siap ketemu Mama dalam keadaan seperti ini,” jawabnya.
Ada sesuatu yang membuat Marsha tidak siap untuk bertemu dengan Mama kandungnya. Selama tinggal di Ungaran pun, Marsha juga tidak pernah menemui orang tuanya. Marsha memilih menjalani kehidupan sehari-hari di tempat berhawa sejuk itu.
“Ya sudah … sana buruan berangkat. Hati-hati loh yah … ini Eyang kasih uang jajan buat beli Lumpia Gang Lombok,” ucap Eyang Partinah yang mengambil tiga lembar uang seratus ribu Rupiah dari saku daster miliknya.
Akan tetapi, Marsha segera menggelengkan kepalanya, “Tidak usah Eyang … Marsha punya uang kok buat jajan,” balasnya dengan tersenyum.
“Tidak apa-apa, kan Eyang ngasih cucunya. Cuma buat jajan,” balas Eyang Partinah yang tetap memaksa kepada Marsha untuk menerima uang pemberiannya itu.
Tidak bisa lagi menolak dan mengela, Marsha pun menerima uang itu dan kemudian berpamitan dengan mencium punggung tangan Eyangnya pun.
__ADS_1
“Pamit dulu nggih Eyang … nanti Marsha bawakan Lumpia yang enak,” ucapnya.
Usai berpamitan, Marsha mengendarai mobilnya. Menikmati jalanan yang sejuk dengan perbukitan dan Gunung Ungaran yang membuat tempat itu begitu sejuk, menuju ke kota Semarang untuk membeli Lumpia Gang Lombok yang sangat dia inginkan. Begitu inginnya, sampai Marsha tidak keberatan untuk menyetir sampai ke Gang Lombok, Semarang untuk mencari Lumpia yang diyakini memiliki cita rasa yang enak dan tidak berubah dari generasi ke generasi itu.