Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Suatu Masa di Kota Lumpia


__ADS_3

Suatu Masa di Bangku Kuliah ….


“Bram, nanti aku mau ke Kota Lama yah,” ucap Marsha kepada Abraham.


“Mau ngapain ke Kota Lama coba?” tanya Abraham yang saat itu berjalan dengan Marsha di kampus mereka.


“Mau foto-foto aja sih, Bram … antering dong, fotoin aku di sana. Mau enggak?” tanya Marsha sembari bergelayut manja di lengan pacarnya itu.


Abraham pun tersenyum, satu tangan turut mengusapi tangan Marsha yang berpegangan di lengannya itu.


“Boleh deh … buat kamu, pasti aku anterin. Cuma waktu pulang temenin aku yah, gantian,” balas Abraham.


“Temenin apa Bram?” tanya Marsha.


“Beli Nasi Koyor di Kota Lama. Di Jalan Gelatik,” sahut Abraham dengan cepat.


Tampak Marsha mengernyitkan keningnya, “Yah, koyor lemaknya banyak banget dong Bram … langsung naik berapa kilogram nanti aku abis makan itu,” jawabnya.


Karir Marsha di dunia modelling memang sudah dirintis sejak dia SMA, sehingga untuk pola makannya juga harus dijaga. Sementara koyor sapi memiliki kandungan lemak yang luar biasa tinggi. Sehingga sedikit saja memakannya, sudah pasti berat badannya akan naik.


“Cuma sekali aja kok, Sha … mau yah? Abis ini aku belikan Jeruk Nipis deh, biar enggak kolestrol dan enggak gemuk,” sahut Abraham.


Marsha tampak diam, menimbang-nimbang dalam hatinya. Sampai akhirnya gadis manis itu menganggukkan kepalanya, “Ya sudah … sekali ini saja ya Bram. Kalau sering-sering lemakku bisa berlipat-lipat banyaknya. Selain itu kolesterol juga,” sahut Marsha.


Abraham pun tertawa, “Iya-iya Sha … Yang, sekali ini saja. Makasih yah … gini kan enak. Aku menemani kamu dulu, dan setelahnya kamu menemani aku,” sahut Abraham.


Saat itu, usai selesai kuliah, keduanya dengan berboncengan menaiki Honda CBR menuju ke kawasan Kota Lama, Semarang. Dengan gagahnya, Abraham memacu kuda besinya, sementara ada Marsha yang membonceng di belakangnya dan melingkarkan tangannya di pinggang Abraham. Kadang kala, Marsha akan menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Abraham.

__ADS_1


Tidak mempedulikan mata-mata yang menatap tajam pada keduanya, yang pasti Marsha begitu senang sekali tiap kali Abraham memboncengkannya dengan kuda besi. Walau kota Semarang begitu panas, tetapi tidak menjadi masalah bagi Marsha untuk menyusuri jalanan di Kota Lumpia itu bersama dengan Abraham.


***


Kini …


Abraham sudah menginjakkan kakinya di kota Semarang. Penerbangan selama 1 jam 15 menit dari Jakarta sudah dia tempuh, dan sekarang Abraham sudah tiba di Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang. Pria itu berjalan santai keluar dari Bandara.


Hawa panas di kota Semarang nyatanya justru mengingatkannya pada kenangannya di masa kuliah dulu bersama dengan Marsha. Dengan menaiki kuda besi, dia tak ragu untuk menjelajah setiap sudut kota Semarang bersama dengan Marsha.


Lantaran kali ini, Abraham pulang tanpa memberitahu kepada Mama Diah. Pria itu pun langsung memesan taksi dari bandara yang akan mengantarkannya pulang terlebih dahulu ke rumahnya.


Perjalanan hampir setengah jam ditempuh, dan kini Abraham sudah tiba di depan rumahnya. Kawasan perumahan yang dekat dengan pusat kota Semarang. Pria itu membuka gerbang dari teralis besi perlahan, dan mulai mengetuk pintu rumahnya.


Tokk … Tokk … Tokk ….


“Bram, kamu pulang ke Semarang kok tidak memberi kabar kepada Mama terlebih dahulu? Kan Mama bisa jemput kamu di bandara,” ucap Mama Diah.


“Tidak apa-apa, Ma … lagian Bram gak mau ngrepotin Mama,” jawabnya.


“Masuk dulu … untung Mama selalu membersihkan kamarmu. Jadi kapanpun kamu pulang ke Semarang, kamarnya selalu siap.” balas Mama Diah.


Abraham menganggukkan kepalanya, kemudian pria itu menaruh ransel dan kopernya di dalam kamarnya. Kamar yang sudah ditempatinya dari kecil, hingga lulus kuliah Abraham memutuskan untuk ke Jakarta dan mencari pekerjaan di Ibukota.


“Tumben pulang mendadak?” tanya Mama Diah lagi kepada Abraham yang sejak perginya Marsha, Abraham menjadi sosok yang lebih pendiam.


“Ada sedikit kerjaan kok Ma … temannya Bram minta difotokan, jadi Abraham pulang buat motret preweddingnya dia,” jawab Abraham dengan jujur.

__ADS_1


Memang tujuan utama Abraham pulang ke Semarang adalah untuk memotret Arman yang hendak melakukan prewedding esok hari. Sementara mencari Marsha adalah tujuannya yang bisa dia lakukan di sela-sela memotret Arman nanti.


“Siapa yang mau nikah, Bram?” tanya Mama Diah lagi.


“Arman, Ma … teman Bram yang menjadi tentara,” balasnya.


“Penting hati-hati, Bram … ya sudah makan dulu yuk. Mama sudah masak tadi,” ajak sang Mama.


“Nanti saja ya Ma … Bram mau jalan-jalan dulu sebentar. Mau beli Nasi Koyor di Jalan Gelatik, di Kota Lama,” jawabnya.


“Kamu tidak pernah berubah, Bram … sejak dulu selalu suka Nasi Koyor itu. Ya sudah, mumpung sudah di Semarang, kamu bisa beli Nasi Koyor kesukaan kamu itu,” balas Mama Diah.


“Iya Ma, pinjam mobilnya sebentar ya Ma,” ucap Abraham yang ingin meminjam mobil Mamanya.


“Pakai saja, penting hati-hati. Lalu lintas di Semarang sekarang macet,” jawab Mama Diah.


Abraham kemudian berpamitan dengan Mamanya itu, dia dengan segera mengemudikan mobil dengan tipe city car itu untuk menuju ke Jalan Gelatik di Kota Lama. Ingin rasanya membeli Nasi Koyor yang menjadi favoritnya sejak dulu.


Ketika mobil yang dia kemudikan sendiri melintasi kawasan Kota Lama, jantung Abraham rasanya berdebar dengan begitu cepat. Terbayang di saat dulu dia memboncengkan Marsha dengan Kuda Besinya. Memotret Marsha di sudut-sudut Kota Lama ini.


Gereja Blenduk dengan bentuk atapnya yang unik layaknya desain kubah Basilika Santo Petrus di Vatikan yang merupakan gereja tertua di Jawa Tengah memiliki gaya arsitektur bergaya kolonialisme. Di depan gereja ini dulu, Abraham sering memotret Marsha. Memadupadankan outfit dan bergaya di depan gereja dengan latar belakang yang klasik. Taman Srigunting yang merupakan tama kota dengan pepohonan yang tindang dan luas. Di taman ini ada kursi-kursi taman yang indah, di sini juga Abraham sering memotret Marsha dulu.


Bahkan aneka kafe berkonsep klasik dengan latar bangunan yang eksotis sering menjadi tempat bagi Marsha dan Abraham ngedate bersama. Pria itu merasa sesak rasanya. Beberapa tahun lamanya Abraham tidak pulang ke Semarang, dan sekarang kembali melewati tempat-tempat yang dulu sering dia kunjungi bersama Marsha membuatnya merasa begitu pedih.


“Ini tempat yang sering kita datangi dulu, Sha … sekadar melintasi Kota Lama saja semua kenangan kita bersama muncul semua dalam benakku. Aku mengingatmu, Sha … aku masih kangen dan cinta kamu. Kamu di mana Sha? Mungkinkah kita akan kembali berjumpa?”


Abraham menghela nafas sepenuh dada, dengan menyetir dengan satu tangan, dan satu tangan lainnya mengusap-usap kasar wajahnya. Begitu pedih, mencari wanita yang dia cintai justru semua memori lama bersama Marsha kembali menyeruak lagi.

__ADS_1


“Aku kangen kamu, Marsha … aku kangen kamu!”


__ADS_2