Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Menyampaikan Pesan


__ADS_3

Beberapa hari usai dari Lembaga Permasyarakatan, Rupanya Mama Saraswati berencana untuk datang ke rumah Marsha. Selain ingin menyampaikan permintaan maaf dari Melvin, Mama Saraswati juga ingin mengunjungi bayi Marsha yang baru saja lahir. Selain tentunya menjalin silaturahmi dengan Marsha dan keluarganya.


Untuk mengunjungi Marsha, sampai Mama Saraswati membawakan hadiah untuk Mira, Marvel, dan juga aneka kue sebagai buah tangan. Sebab, jika datang dan hanya sekadar menyapa, Mama Saraswati sendiri juga merasa begitu sungkan. Datang membawa buah tangan menjadi pilihan terbaik menurut Mama Saraswati. Sore itu, Mama Saraswati yang sudah berada di depan rumah Marsha pun, meminta supirnya untuk menunggu dan dia hendak masuk, tidak akan terlalu lama di rumah Marsha.


"Permisi," sapa Mama Saraswati sembari mengetuk pintu rumah Marsha.


"Ya, sebentar," sahut suara dari dalam rumah.


Hingga akhirnya, Mama Diah yang justru membukakan pintu untuk Mama Saras di sana. Keduanya sama-sama kaget, walaupun keduanya sudah baikan. Tetap saja, ada rasa canggung. Terlebih sudah beberapa bulan lamanya mereka tidak bertemu. Sehingga keduanya sama-sama kaget.


"Mbak Diah," sapa Mama Saras dengan lirih.


"Ya, Saras ... masuk. Tumben," balas Mama Diah yang berusaha untuk bersikap biasa saja dan mempersilakan wanita itu untuk masuk ke dalam rumah.


Mengangguk, lantas Mama Saras pun memasuki rumah itu, dan duduk di ruang tamu. Kemudian dia kembali berbicara kepada Mama Diah di sana. "Permisi Mbak Diah ... saya mau bertemu dengan Marsha dan Abraham," ucapnya.


"Iya ... Marshanya ada kok. Sebentar yah, aku panggilkan dulu," balas Mama Diah.


Memilih naik ke lantai dua, kemudian Mama Diah memanggil Marsha dan Abraham yang sedang memandikan anak-anak mereka. Marsha memandikan Marvel, sementara Papa Abraham memandikan Mira, keduanya sama-sama membagi tugas begitu berada di rumah.


Kurang lebih lima menit kemudian, Marsha dan yang alinnya turun dari dalam kamar rumah. Tampak Marsha tersenyum dan menyambut kedatangan Mama Diah.

__ADS_1


"Halo Ma ... apa kabar?" sapanya.


"Baik, Sha ... mana nih jagoannya. Dijenguk sama Oma yah," balas Mama Saras.


Kemudian Abraham datang dengan menggandeng Mira, kemudian memberi salam kepada Mama Saraswati di mana. Abraham pun menjabat tangan Mama Saras layaknya salam takzim. Begitu juga dengan Mira.


"Tante ... apa kabar?" sapanya.


"Baik Bram ... Mira sudah besar yah ... dulu ketemu kamu masih kecil, sekarang sudah besar, sudah makin cantik," ucap Mama Saraswati.


"Halo Oma," balas Mira dengan sopan.


Sementara Mama Diah turun di ruang tamu itu, dan kemudian Mama Diah hendak berdiri dan membuatkan minum untuk Mama Saraswati, tetapi Mama Saras menolaknya.


Mama Diah akhirnya menganggukkan kepalanya, dan turut duduk dengan Marsha dan Abraham di sana. Sementara Mira memilih ke ruang keluarga dan menonton televisi di sana. Kemudian Mama Saraswati memberikan buah tangan yang sudah dia bawa kepada Marsha.


"Marsha, Mama datang ke sini pertama kali untuk turut berbahagia untuk kelahiran Marvel. Mama berharap keluargamu akan selalu bahagia, Marvel juga tumbuh dengan baik dan sehat. Yang kedua, Mama datang untuk menyampaikan pesan dari Melvin untukmu," ucap Mama Saras.


Ketika berbicara terkait dengan pesan dari Melvin, Mama Saras melirik sekilas kepada Abraham yang duduk di samping Marsha. Namun, Mama Saras merasa tenang karena dia menyampaikan pesan dari Melvin ini tidak sembunyi-sembunyi, melainkan dia sampaikan di hadapan Abraham. Bagaimanapun, Marsha adalah istri Abraham, sehingga menyampaikan pesan di hadapan suaminya sendiri tidak menjadi masalah.


"Begini Marsha dan Bram ... pekan lalu, Mama usai mengunjungi Melvin di lembaga permasyarakatan. Nah, Melvin menyampaikan pesan untuk menyampaikan permintaan maafnya kepadamu, Marsha. Dia minta maaf untuk tahun-tahun ketika kamu menjadi istrinya dan kekerasan yang dia lakukan kepadamu. Melvin menyesal karena pernah menyakitimu. Selain itu, Melvin berharap bahwa kamu akan selalu hidup bahagia dengan kakaknya, Abraham," ucap Mama Saraswati.

__ADS_1


Mendengarkan apa yang disampaikan Mama Saraswati membuat Marsha menganggukkan kepalanya. Jujur, Marsha juga tidak menyimpan dendam sama sekali kepada Melvin. Marsha meneladani Abraham, suaminya yang bisa memaafkan dan juga tidak menuntut balas.


"Marsha tidak membenci Melvin kok Ma ... bagaimanapun kisah Marsha dan melvin hanya masa lalu, karena masa depan Marsha akan selalu bersama dengan Mas Abraham," balasnya.


"Kamu memaafkan Melvin, Sha?" tanya Mama Saraswati lagi.


"Iya, Marsha memaafkannya," balas Marsha.


Tampak Mama Saras menghela nafas dan kemudian dia menitikkan air matanya. Sebagai wanita yang pernah disakiti, tidak mudah untuk memaafkan orang yang pernah menyakitinya. Akan tetapi, Marsha telah memilih untuk bisa memaafkan. Sungguh, Mama Saras pun merasa begitu lega karena pada akhirnya Melvin mendapatkan maaf dari Marsha, walau pun mereka tidak bisa bertemu secara langsung.


"Terima kasih, Sha ... sebenarnya ketika Mama mengunjungi Melvin kemarin, Mama merasa sedih melihat kondisi putranya Mama. Dia terlihat kurus, dan kebugarannya menurun. Mama khawatir jika Melvin mengalami depresi dan kehilangan semangat hidupnya. Di batas akhir, ketika Melvin menyampaikan permintaan maafnya kepadamu, Mama justru merasa begitu sedih," balas Mama Saras.


Ya, sebagai seorang ibu, dia sangat tahu bahwa secara fisik Melvin pun terpengaruh. Biasanya orang yang sembuh dari ketergantungan obat, kemudian akan memiliki pola hidup sehat dan tubuh yang lebih bugar. Akan tetapi, berbeda dengan Melvin yang justru terlihat semakin kurus dan berkurang semangatnya. Mama Saraswati sampai begitu khawatir dengan Melvin.


Baik Mama Diah, Marsha, dan Abraham pun mencoba untuk memahami Mama Saras dan juga kondisi Melvin sekarang yang disampaikan oleh Mama Saras. Hingga Abraham pun terlihat tampak mengernyitkan keningnya dan tengah berpikir. Walau bagaimana pun Melvin adalah adiknya.


"Sampaikanlah kepada Melvin, Ma ... bahkan Marsha sudah memaafkannya dan juga tidak menaruh dendam terhadapnya. Jadi, mari lupakan semuanya yang terjadi di masa lalu, dan menggapai masa depan yang lebih indah," balas Marsha.


Mama Saraswati pun menganggukkan kepalanya, "Lain waktu akan Mama sampaikan kepada Melvin, Sha ... terima kasih. Terima kasih karena kamu sudah memaafkan Melvin. Maaf darimu sangat berarti untuk Melvin," balas Mama Saras.


Kemudian Mama Saras menatap kepada Abraham di sana, "Maafkan adikmu juga ya Bram ... maafkan Mama juga karena harus menyampaikan semua ini di hadapanmu," ucap Mama Saras.

__ADS_1


"Iya, tidak apa-apa, Tante ... justru Bram senang bisa turut mendengar semuanya. Kami saling terbuka satu sama lain kok Tante. Tidak apa-apa. Bram juga berharap Melvin semakin membaik dan segera keluar dari lembaga permasyarakatan," balasnya.


Itu harapan Abraham. Dia juga tidak menyimpan dendam. Walau di masa lalu, Melvin pernah menyakiti dirinya dan Marsha. namun, terus-menerus hidup dengan membawa duka masa lalu tidak ada baiknya. Lebih baik melupakan semuanya, dan menjalani hidup dengan lebih baik di masa depan.


__ADS_2