Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Masa Kritis


__ADS_3

"Abraham ... Abraham ... Anakku!"


Dengan berusaha berjalan lebih cepat Papa Wisesa mengejar Abraham. Akan tetapi, di kala dia kian mengejar Abraham, rasanya dadanya terasa nyeri, untuk bernafas terasa begitu susah, bahkan keringat dingin mengucur dengan sendirinya di badan Papa Wisesa. Akan tetapi, putra yang dia panggil namanya sama sekali tidak menoleh ke belakang. Abraham tetap berjalan bergandengan dengan Mamanya. Berusaha untuk abai dengan apa yang terjadi di belakangnya.


"Abraham ... tunggu Papa, Nak," ucap Papa Wisesa.


Seakan tak kuasa untuk mengejar Abraham dan Mama Diah, Papa Wisesa sedikit berlari berusaha untuk terus memompa tenaganya mengejar putra sulungnya itu. Namun, apalah daya ketika dia berlari yang ada justru dadanya kian nyeri. Papa Wisesa tak mampu lagi bertahan, akhirnya pria itu pun terjatuh.


Bruk!


"Abraham ... Abraham!"


Suara yang diucapkan Papa Wisesa pun rasanya semakin lemah. Marsha yang kala itu sedang menoleh ke belakang pun melihat kala Papa Wisesa terjatuh. Wanita itu segera menghentikan Abraham dengan menahan lengan suaminya itu.


"Mas, Papa jatuh," ucapnya.


Mendengar apa yang disampaikan Marsha, Abraham dan Mama Diah sama-sama menghentikan langkahnya. Abraham yang sudah berusaha untuk menahan perasaannya, kini harus menatap wajah istrinya dengan wajah yang sendu.


"Tolongin Papa, Mas," pinta Marsha kali ini.


Abraham masih diam, tidak beranjak di tempatnya. Hingga akhirnya, Abraham akhirnya menatap wajah Mamanya terlebih dahulu seolah meminta saran dari Mamanya. Haruskah dia menolong pria yang meninggalkannya di masa kecil, tidak bertanggung jawab, dan kini dia harus menolongnya.


"Tolonglah," balas Mama Diah pada akhirnya.

__ADS_1


Abraham kemudian menatap kepada Marsha, "Tolong teleponkan ambulance, Sayang," pinta Abraham kali ini.


Marsha segera menganggukkan kepalanya dan segera menelpon ambulance. Sementara Abraham mendekat dan menolong Papa Wisesa yang tampak memegangi dadanya, dan juga nafasnya yang terasa kembang kempis itu. Untuk menghirup oksigen dan melepaskan karbon dioksida saja rasanya begitu sukar.


"Bram ... Abraham," ucap Papa Wisesa ketika melihat Abraham mendekat.


Abraham yang masih diam, hanya berusaha untuk menolong. Sementara di sampingnya Mama Saraswati menangis melihat suaminya seperti itu. Mama Saraswati pun menghubungi Melvin bahwa Papanya sakit dan akan segera dibawa ke Rumah Sakit.


Tidak menunggu lama, petugas medis pun segera datang dan Papa Wisesa ditandu masuk ke dalam ambulance. Sementara Abraham pada akhirnya menemani Papanya itu berada di ambulance, tetapi masih sama Abraham memilih hanya diam. Sementara Marsha yang kali ini membawa mobil dan Mama Diah yang menggendong Mira.


Kondisi di mobil pun sama, baik Marsha dan Mama Diah sama-sama masih diam. Tidak mengucapkan apa-apa. Marsha tahu bahwa saat ini Mama Diah juga sedang banyak pikiran. Untuk itu, Marsha memilih untuk tidak banyak bertanya.


Di Rumah Sakit, Papa Wisesa segera di tangani di Unit Gawat Darurat. Seluruh keluarga berada di sana, tetapi putra bungsunya masih belum menunjukkan batang hidungnya. Jika Melvin juga datang, ini akan menjadi pertemuan kembali antara Melvin, Abraham, dan Marsha secara bersamaan. Tentu saja Marsha merasa bingung dan takut. Bingung dengan kondisi Papa Wisesa yang tiba-tiba saja sakit. Juga takut kala harus bertemu dengan Melvin. Yang pasti situasi ke depan pastilah rumit. Hanya saja, Marsha berharap ada suaminya yang masih akan bisa dia harapkan sekarang.


Jika Mama Saraswati menunggu dengan menangis, lain halnya dengan Mama Diah yang duduk di samping Abraham. Ibu dan Anak itu sama-sama diam, sementara Marsha juga duduk dengan menggendong Mira.


"Papa bagaimana Ma?" tanyanya kepada Mama Saraswati.


"Masih ditangani di dalam," balas Mama Saraswati.


Pandangan Melvin kini jatuh pada Abraham dan Marsha yang ada di sana. Sontak saja, melihat mereka berdua membuat darah Melvin seketika mendidih.


"Untuk apa kalian di sini?" tanya Melvin.

__ADS_1


"Biarkan saja, Vin," balas Mama Saraswati.


Satu rahasia besar yang tadi diungkapkan oleh Papa Wisesa kepada Abraham belum dibuka Mama Saraswati. Alangkah jauh lebih baik jika sekarang fokus pada kesembuhan Papa Wisesa dulu. Abraham tak bergeming, karena dia hanya cukup ingin mendengar apa yang terjadi dengan Papa kandungnya itu.


"Kamu juga, Marsha Valentina ... ah, jangan-jangan kamu menunjukkan kepadaku kalau hasil hubunganmu dengan pria itu telah menghasilkan seorang bayi. Iya? Ha!"


Melvin agaknya benar-benar marah dan tersulut emosi kala melihat Marsha yang tengah menggendong bayinya. Di satu sisi, Marsha juga memilih diam dan tidak merespons sama sekali ucapan Melvin. Dia di sini juga bukan untuk meladeni perdebatan dengan Melvin.


"Wanita murahan ... ingin menunjukkan kepadaku kalau sekarang hidupmu sudah bahagia dengan pria rendahan dan bayi itu," teriak Melvin kali ini.


Marsha masih diam, sementara Abraham membawa matanya menatap tajam pada sosok Melvin Andrian. Mama Diah yang memegangi lengan Abraham memberikan usapan di lengan putranya itu.


"Sudah, sabar ... tidak perlu ditanggapin," balas Mama Diah.


Sementara di sana Mama Saraswati pun berbicara kepada Melvin, "Sudah Melvin ... ini kita di Rumah Sakit. Kita fokus pada Papa dulu," ucap Mama Saraswati.


Melvin mengusap wajahnya secara kasar, kemudian kembali menyorot tajam kepada Marsha dan Abraham. Setelahnya, Melvin duduk di dekat Mamanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi Ma?" tanyanya.


"Kami jalan-jalan ke mall tadi dan Papa kamu jatuh," cerita Mama Saraswati secara singkat.


"Bukannya Papa sehat dan baik-baik saja selama ini?" tanya Melvin.

__ADS_1


"Entahlah Mama juga tidak tahu," balas Mama Saraswati yang tampak begitu kalut saat ini.


Sungguh, ini adalah masa yang kritis. Dokter yang menangani suaminya juga belum keluar dan memberikan kabar. Sementara keluarga juga menunggu dengan penuh harap di luar. Kiranya semuanya akan baik-baik saja, dan Papa Wisesa bisa segera sehat kembali.


__ADS_2