
Malam sebelumnya ....
Di dalam sel tahanan, Melvin merasakan tubuhnya yang begitu lemas. Berusaha untuk bertahan dan menopang tubuhnya, tetapi nyatanya Melvin merasa tubuhnya yang kian lemas saja. Selain itu, dadanya terasa sesak, panas rasanya. Teman satu selnya pun bertanya-tanya kepada wajah Melvin terlihat begitu pucat.
Hingga akhirnya, para narapidana memanggil penjaga lembaga permasyarakatan dan mengabarkan kondisi Melvin. Kepanikan pun terjadi, dan juga ketika dikeluarkan dari bilik jeruji besi, nafas Melvin sudah terdengar pendek-pendek rasanya.
Tidak ingin menunggu lama, pihak lembaga permasyarakat segera merujuk Melvin Andrian menuju salah satu Rumah Sakit terdekat dengan lokasi Lembaga Permasyarakatan. Tubuhnya sudah begitu lemah, dan kemudian pihak Rumah Sakit berusaha memberikan oksigen untuk alat bantu pernafasan untuk Melvin.
"Mama ...."
Pria yang terbaring lemas itu memanggil Mamanya, dan memang pihak lembaga permasyarakatan sudah menelpon Mama Saraswati, tidak lupa memberitahukan Rumah Sakit tempat Melvin dibawa sekarang ini. Tenaga medis masih berupaya menolong. Walau saturasi oksigen Melvin sangat lemah, tetapi pria itu seakan masih bertahan dan menunggu sampai sang Mama datang.
Di sisa-sisa tenaganya dan rasa sakit yang mendera, Melvin mengeluarkan sebuah nomor hanpdhone yang tertulis dalam selembar kertas yang sudah begitu lusuh.
O8219XXXX
Marsha
"Kabarkan pada Marsha," pintanya dengan suara yang lirih.
Dengan alat bantu pernafasan yang terpasang di hidung hingga mulutnya, sekadar berucap tiga patah kata saja membuat alat bantu pernafasan itu berembun. Melvin pun kian terengah-engah rasanya.
Hingga, hampir setengah jam berlalu. Barulah Mama Saraswati panik. Dia tidak menyangka bahwa putranya dilarikan ke Rumah Sakit. Padahal pada waktu kunjungan sebelumnya, Melvin terlihat sehat.
__ADS_1
"Ada apa dengan Melvin Pak?" tanya Mama Saraswati dengan panik dan cemas. Kepanikannya tercetak jelas dengan air matanya yang terus-menerus turun. Dadanya pun terasa begitu sesak.
"Silakan dikunjungi dulu, Bu ...."
Pihak lembaga permasyarakatan memberikan izin kepada Mama Saraswati untuk menemui Melvin. Begitu sudah bertemu, terlihat wajah Melvin yang pucat, bibirnya yang juga terlihat pucat. Melihat kondisi putranya, Mama Saraswati menangis tersedu-sedu.
"Melvin ... Melvin ... ada apa Nak?"
"Mel ... vin. Mar ... sha. Telepon dia, Ma. Melvin ... per ... gi."
Disertai dengan berhenti berbagai alat medis yang berusaha menopang untuk mempertahankan kehidupan Melvin. Namun, Sang Khalik berkata lagi. Sang Aktor itu sudah berpulang ke haribaan-Nya.
Duka yang mendalam dirasakan Mama Saraswati. Belum lama, dia ditinggal oleh suaminya secara mendadak, dan sekarang Melvin, putranya pun meninggalkannya pula secara mendadak.
Dokter pun menggelengkan kepalanya di sana, "Pasien mengalami asam lambung akut dan naik sampai ke Jantung, Bu ... maaf, pasien tidak bisa diselamatkan."
***
Sekarang ....
Di kediaman Melvin Andrian telah terpasang kajang atau tenda dan bendera warna putih dikibarkan di sana, sebagai tanda duka. Berbagai karangan bunga dari rekan-rekan sesama aktor dan pekerja seni tampak berderet rapi dari depan rumahnya, sampai ke ujung jalan masuk perumahan itu.
Sementara tamu yang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir pun begitu ramai. Di dalam rumah, terbaring kaku jenazah Melvin Andrian di sana.
__ADS_1
Hingga akhirnya Abraham, Marsha, dan Mama Diah hadir. Ada Mama Diah yang memeluk Mama Saras di sana.
"Mbak Diah ... Melvin, Mbak ... anakku."
Air matanya tercurah. Bibirnya bergetar. Begitu pilu. Namun, ini juga adalah fakta terpahit.
Pun dengan Marsha yang menangis di depan jenazah. Bersama dengan Abraham, Marsha menilik kembali jenazah Melvin Andrian. Wajahnya yang terlihat bersih, dan ada gurat senyuman di bibirnya. Pria itu tampak pergi dengan tenang.
"Melvin ...."
Walau tidak banyak berbicara, tapi Marsha pun turut berduka. Dulu, ketika dia datang dan dia berharap bahwa Melvin akan segera pulih dan kembali semangat. Kini, pria itu sudah terbujur kaku di sana.
Pun Abraham yang menguatkan hatinya sendiri. Dengan berlinang air mata, mereka mengikuti prosesi pemakaman, hingga kala jenazah akan dikebumikan, Abraham turut berdiri dan turut memanggul keranda jenazah.
Di tanah pemakaman, berdekat dengan nisan Papanya, di sanalah Melvin dikebumikan. Abraham turut turun ke dalam liang lahat, dan menyemayamkan adiknya itu untuk kali terakhir. Bahkan Abraham turut mengumandangkan suara adzan untuk kali terakhir bagi Melvin.
"Sejatinya semua makhluk akan kembali kepada Penciptanya ... dan kamu sudah mendahului kami semua. Beristirahatlah dengan damai, Melvin ... adikku!"
Air mata pun menetes membasahi wajah Abraham di sana. Walau seumur hidup mereka tidak pernah rukun, dan sering menjadi rival. Akan tetapi, ketika sekarang Abraham pun merasa begitu berduka.
Perlahan-lahan tanah mulai dimasukkan dan mengubur jenazah itu. Bunga pun ditaburkan di sana, dan Mama Saraswati menangis dengan memeluk nisan putranya.
"Melvin ... Melvin."
__ADS_1
Ada yang berduka, tapi waktu akan memulihkan semuanya. Ada yang kehilangan, tapi sang Pencipta akan terus menciptakan ciptaan baru untuk berkembang biak dan memenuhi bumi. Di saat terakhir inilah, semuanya dihadapkan pada satu fakta bahwa semua ciptaan pada hakikatnya akan kembali ke pencipta. Semua yang dijalani dalam hidup akan diperhitungkan kepada Allah semata.
TAMAT!