Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Amarah Tak Tertahan


__ADS_3

Di dalam kamarnya Mama Saraswati benar-benar kecewa dengan sikap Melvin kepadanya. Pikirnya karena Melvin adalah seorang aktor yang kegiatannya selalu disorot oleh kamera, tetapi nyatanya Melvin justru bersikap dengan semau-maunya. Hatinya kian pedih kala Melvin secara terang-terangan memintanya untuk kembali ke Denpasar.


Memang sudah lama, Mama Saraswati tinggal di Jakarta. Lagipula sekarang kembali ke rumahnya di Denpasar, tanpa sosok Papa Wisesa yang sekarang sudah almarhum, tentu menjadi hari yang begitu berat bagi Mama Saraswati. Merasa rindu, kehilangan, bahkan semua memori seakan masih hidup di dalam rumahnya yang ada di Denpasar, Bali. Namun, dengan percekcokan dengan Melvin kali ini, Mama Saraswati merasa begitu terluka. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang Ibu selain dibentak dan disakiti oleh anaknya sendiri.


Rasanya dibentak oleh anak sendiri itu lebih sakit dibandingkan dibentak oleh suami sendiri karena anak adalah darah daging, yang dikandung selama sembilan bulan di dalam rahim seorang Ibu, dilahirkan dengan merasakan di antara hidup dan mati, dan akhirnya membesarkannya dan mengasuhnya. Namun, ketika sang anak kian dewasa dan menjadi anak yang berani kepada ibunya sendiri, di sana seorang ibu benar-benar merasakan sakit yang teramat sangat.


"Kapan kamu akan berubah Melvin ... kapan kamu akan menjadi pria yang dewasa? Di saat seperti ini, rasanya Mama merasa keputusan Marsha dulu untuk bercerai dari kamu adalah keputusan yang tepat. Dulu, Mama membenci Marsha karena Marsha selingkuh dan berbuat seperti itu kepadamu, tetapi sekarang rasanya justru Marsha menyetujui tindakan Marsha."


Mama Saraswati berbicara dengan hatinya sendiri. Dulu, memang Mama Saraswati merasa begitu benci dengan Marsha. Melihat Marsha yang kedapatan jalan berdua dengan Abraham, melihat Marsha yang justru melaporkan Melvin ke pihak yang berwajib. Kini, Mama Saraswati seolah mengakui salahnya. Kasih sayangnya untuk Melvin adalah kasih sayang yang buta. Hanya menganggap anaknya saja yang paling benar, tetapi tidak tahu fakta yang sebenarnya seperti apa.


Kasih sayang yang buta membuat orang tua tidak percaya dan tidak mau tahu dengan tuduhan orang lain terhadap anaknya. Lebih ironis, para orang tua percaya bahwa sebenarnya anak mereka lah yang paling benar. Itu semua yang dirasakan oleh Mama Saraswati dulu. Tanpa Melvin yang sekarang membentaknya keras, mungkin Mama Saraswati tidak bisa menyadari semuanya ini.


Baru beberapa saat Mama Saraswati masuk ke dalam kamar dan sekarang Mama Saraswati melihat ada sebuah mobil Alphard berwarna putih yang masuk ke dalam parkiran rumahnya. Dari kaca jendela kamarnya, Mama Saraswati melihat bahwa mobil itu bukan milik Melvin, karena semua mobil yang dimiliki oleh Melvin huruf plat belakangnya selalu ada huruf MVA sebagai inisial sang aktor yaitu Melvin Andrian.


Mama Saraswati kian terkejut kala Melvin menyongsong keluar rumah dan ada aktris pendatang baru yang masih begitu muda itu masuk ke dalam rumahnya. Aktris cantik dan baru berusia 18 tahun itu. Rasanya Mama Saraswati berusaha untuk mencegah apa yang terjadi sekarang.


"Hei Girl, akhirnya ke sini yah ... masuk ini rumah aku," ucap Melvin dengan manisnya mempersilakan gadis manis bernama Lucia itu.


"Wow, rumahnya besar dan bagus banget Kak ... ini keren banget. Jauh lebih keren daripada tempat syuting kita," balasnya.

__ADS_1


"Ah, kamu bisa saja. Biasa ... hasil kerja belasan tahun di dunia hiburan. Biar kerasa hasil kerja kerasnya," balas Melvin.


Tampak Lucia pun menganggukkan kepalanya, "Benar banget, Cia setuju deh sama Kakak," balasnya.


Kini Melvin menggandeng tangan gadis yang akrab dipanggil Cia itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Agaknya Cia kian terpana dengan rumah Melvin yang memang besar dan mewah itu.


"Ini namanya mansion, Kakak ... indah banget," ucapnya.


"Kamu bisa saja," ucap Melvin. "Ke sini sendirian kan? Enggak sama asisten kamu?" tanya Melvin lagi.


"Sendiri. Ada driver sih yang tungguin. Gimana?" tanya Cia.


"Suruh pulang saja, Cia ... nanti aku yang anterin kamu pulang," jawab Melvin.


"Give me a kiss," pinta Melvin tanpa ragu.


Rupanya Cia pun tidak menolak. Gadis itu mendekat dan mengecup pipi Melvin di sana. Melvin tersenyum kala pipinya mendapatkan kecupan dari Cia. Daun yang muda dan tentunya begitu ranum.


"Sebatas di pipi? Di sini," ucap Melvin dengan menyentuh bibirnya.

__ADS_1


Kali ini Cia tersipu malu, "Malu ah Kak ... semalam kan sudah waktu di pub. Udah dong," balas Cia.


"Tidak akan pernah cukup, Girl. Ke kamarku yuk, kita bisa melakukan di sana dengan lebih leluasa."


Begitu buruknya perangai Melvin bahkan sampai Melvin secara langsung mengajak Cia untuk masuk ke dalam kamarnya. Gadis yang masih belia, berusia 18 tahun agaknya akan menjadi mangsa bagi Melvin Andrian. Entah apa yang diiming-imingkan Melvin kala ini, sehingga Cia pun seakan takluk begitu saja pada pesona Melvin Andrian.


Ketika Melvin menaiki anak tangga dan menggandeng tangan Cia, tampak Mama Saraswati keluar dari kamarnya. Pandangan Mama Saraswati jatuh pada Cia.


"Siapa Vin?" tanya Mama Saraswati.


Melvin lantas menatap Cia dan membelai rambut panjang berwarna cokelat milik Cia, "Masuk ke kamarku dulu ya Girl, usai ini aku susul," balasnya.


Cia pun tanpa banyak bertanya masuk ke dalam kamar Melvin dan juga menunggu di dalam. Sementara Melvin kembali berhadap-hadapan dengan Mama Saraswati.


"Sebaiknya Mama diam saja. Jika bisa seolah-olah tidak tahu dengan semuanya ini," ucap Melvin. Walau tidak berteriak, tetapi Melvin seolah menekankan setiap perkataannya.


"Jika anak bersalah, orang tua wajib mengingatkan Vin," balas Mama Saraswati.


Melvin berkacak pinggang, seolah habis kesabarannya berhadapan dengan mamanya sendiri.

__ADS_1


"Sebaiknya Mama pergi ... kembalinya esok hari. Malam ini Melvin akan bersenang-senang. Silakan pergi Ma!"


Astaga, betapa durhakanya seorang Melvin. Hanya demi bersenang-senang dengan daun muda, sampai Melvin mengusir Mamanya sendiri. Hati Mama Saraswati benar-benar sakit dan perih. Kelakuan anaknya itu tidak bisa ditolerir lagi. Dengan air mata yang berderai, Mama Saraswati pada akhirnya memilih untuk pergi dari rumah besar yang begitu mewah itu.


__ADS_2