Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Papa Kandung Abraham


__ADS_3

“Diah, kenapa kamu hanya diam? Setidaknya, jawab aku dan maafkan aku,” ucap pria paruh baya yang seolah menahan Mama Diah untuk tidak pergi.


“Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Mas,” sahut Mama Diah.


“Tidak bisa Diah … setidaknya cukup ucapkan maaf saja. Jika ada usiaku panjang, aku akan merasa tenang,” balas Papa Wisesa.


Ya, bagi Mama Diah tidak ada yang perlu dibicarakan. Semuanya sudah berakhir. Saat di mana pria itu meninggalkannya dengan Abraham dulu dan terpikat dengan seorang model Ibukota yang mencuri hati suaminya. Berawal dari tidak pulang, dan akhirnya Papa Wisesa kembali ke Semarang dengan membawa Istri barunya dan juga seorang bayi kecil laki-laki. Semua itu adalah duka mendalam bagi Mama Diah. Hatinya hancur bersamaan dengan perginya suaminya itu yang lebih memilih untuk mendua hati.


Ditinggal suami saat anaknya sendiri masih bayi tentu menjadi luka yang amat dalam bagi Mama Diah. Putranya Abraham, baru berusia 2 tahun, tetapi Abraham sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari Papanya. Abraham tumbuh dengan kasih sayang tunggal dari Mamanya. Lantaran Papanya yang kepincut dengan pesona seorang model itulah yang membuat dulu Mama Diah untuk memandang negatif Marsha yang berprofesi sebagai model. Ada ketakutan dan juga luka, bisa saja Marsha akan memikat pria lain di luar sana dan meninggalkan Abraham begitu saja.


Di kala Papa Wisesa ingin menahan Mama Diah, rupanya ada Mama Saraswati juga di sana. Mama Saraswati tampak bingung melihat interaksi suaminya dengan Mama Diah. Perempuan yang memang angkuh dan sombong itu, segera menahan tangan suaminya dengan cepat.


"Pa, dengan siapa Papa berbicara?" tanya Mama Saraswati.


Gelagapan tentunya. Akan tetapi, memang Papa Wisesa sekarang tak bisa lagi mengelak. Di hadapannya ada Mama Diah, dan di belakangnya ada Mama Saraswati.


Ketika Mama Saraswati menahan Papa Wisesa, rupanya Mama Saraswati juga memanggil wanita yang tengah ditahan untuk berbicara oleh suaminya itu.


"Permisi, Anda siapa?" tanya Mama Saraswati yang hanya melihat penampangan belakang dari Mama Diah.


Tangan Mama Saraswati bergerak dan kemudian menyentuh bahu Mama Diah, meminta wanita itu untuk berbalik dan juga melihat ke arahnya. Mama Diah pun tak bisa lagi mengelak. Perlahan Mama Diah berbalik badan, dan arah pandangannya kini beradu dengan mantan suami dan istri mantan suaminya itu.


Deg!


Tangan Mama Saraswati seketika luruh, wanita itu tidak menyangka akan bertemu dengan istri pertama suaminya setelah lebih dari 20 tahun. Mama Saraswati tampak mengamati suaminya dan Mama Diah dengan pandangan bergantian satu sama kali.


"Ada apa ini Pa? Kenapa dia bisa ada di sini?" tanya Mama Saraswati.

__ADS_1


"Aku meminta maaf kepadanya," balas Papa Wisesa.


Setidaknya Papa Wisesa menyadari bahwa kali ini dia harus meminta maaf. Untuk kesalahan yang sudah dia lakukan sejak lama. Untuk kesalahan yang membuatnya harus meninggalkan Mama Diah dan Abraham sejak kecil.


"Bukankah semuanya sudah selesai Pa?" tanya Mama Saraswati.


"Belum Ma ... Papa belum meminta maaf darinya. Kali saja, umur Papa tidak panjang. Papa bisa meminta maaf terlebih dahulu," ucap Papa Wisesa.


Ketika Mama Saraswati hendak menyahut rupanya Abraham dan Marsha dengan mendorong si kecil Mira sudah kembali dan menghampiri Mama Diah yang masih ada di area sprei dan bedcover itu. Abraham tampak terkejut kala mendapati Mama Diah yang berdiri berhadapan dengan kedua orang tua Melvin. Tentu Abraham pernah melihat Mama Saraswati sebelumnya. Namun, tidak dengan suaminya. Wajah Papanya seperti apa juga tidak dia tahu karena Mama Diah sengaja menyimpan semua foto Papa kandung Abraham.


"Mama, sudah Ma?" tanya Abraham.


Pandangan mata Mama Saraswati kini jatuh kepada Marsha yang mendorong stroller bayi. Benarkah di sini bahwa mantan istri suaminya adalah Ibunya Abraham yang kini menikah dengan Marsha?


"Bram ... kamu Abraham kan?" tanya Papa Wisesa.


Pria paruh baya itu tampak berkaca-kaca kala melihat Abraham. Putra yang sejak kecil dia tinggalkan rupanya sudah tumbuh dewasa. Serta, wanita di sampingnya tentu saja Papa Wisesa kenal dengan baik, yaitu Marsha, mantan istri putranya dulu Melvin Andrian.


"Bram, aku ...."


"Stop, hentikan ... Bram, sebaiknya kita pergi dari sini," ajak Mama Diah yang sudah menggandeng lengan putranya itu.


"Tunggu Diah, setidaknya biarkan Abraham tahu apa hubungannya denganku," balas Papa Wisesa.


Marsha hanya bisa melihat dari tempatnya apa yang sebenarnya terjadi di hadapannya sekarang ini. Kenapa semuanya terasa begitu pelik, jika ada orang yang harus dia jaga dan dia kuatkan, tentu itu adalah Abraham, suaminya.


"Bram ... mungkin kamu tidak mengingatku. Akan tetapi, aku selalu mengingatmu, Bram ... aku adalah Papamu. Ya, aku adalah Papa kandungmu," ucap Papa Wisesa.

__ADS_1


Lega rasanya bisa menyimpan rahasia yang dia simpan selama bertahun-tahun dan kali ini terucapkan. Namun, reaksi yang ditunjukkan Abraham sama sekali tidak bisa ditebak. Pria itu hanya berdiri di tempatnya. Semua luka dan rasa sakit karena tumbuh tanpa memiliki Ayah masih saja menjadi luka batin bagi Abraham.


Sementara Marsha tak mampu lagi berkata-kata. Rupanya mantan Ayah mertuanya dulu adalah Papa kandung suaminya. Itu berarti Abraham dan Melvin adalah saudara tiri. Marsha menghela nafas. Kenapa hubungan di antara mereka bertiga serumit ini.


"Aku Papa kandungmu, Abraham ... Narawangsa Wisesa Andrian," ucap Papa Wisesa.


Jika Abraham kala dilahirkan disematkan nama depannya yaitu Narawangsa, sementara untuk Melvin kala dilahirkan disematkan nama belakangnya yaitu Andrian. Abraham dan Melvin adalah saudara tiri dari satu Ayah yang sama.


Ungkapan dari Papa Wisesa bak petir di siang hari yang begitu panas terik. Tidak menyangka kali pertama dalam hidupnya Abraham bertemu dengan sosok Papanya. Pria yang meninggalkannya dan juga menabur kebencian sendiri bagi dirinya. Kini, ketika diperhadapkan secara langsung, Abraham juga sepenuhnya tidak menyangka semua ini terjadi.


Abraham menghela nafas, kemudian dia menatap kepada Mamanya di sana, "Ma, kita pergi dari sini," ajak Abraham.


"Iya, Bram ... sebaiknya kita pergi," sahut Mama Diah.


Ketika Abraham bersama Mama Diah pergi dengan saling merangkul bahu, Marsha berjalan mengekori suami dan ibu mertuanya itu. Marsha sangat yakin hari ini adalah hari yang terberat bagi keduanya. Di mana masa lalu kembali terkuak, dan juga asal-usul Abraham terjawab dengan jelas.


"Bram ... jangan pergi begitu saja ... dengarkan Papa, Nak ... aku Papamu," balas Papa Wisesa yang mengurai tangan Mama Saraswati di tangannya dan seakan berlari mengejar Abraham.


Entah karena usia yang sudah tidak lagi muda, sebatas berjalan lebih cepat dada Papa Wisesa sudah terasa begitu sesak. Namun, Papa Wisesa berusaha mengejar Abraham, meminta maaf dari putranya itu. Pria paruh baya itu berlari dengan memegangi dadanya yang terasa nyeri dan begitu sakit.


"Bram ... Abraham putraku ... tunggu Papa, Bram," lagi Papa Wisesa berjalan cepat dan memanggil nama putra kandungnya itu.


Namun, Abraham tak bergeming. Marsha yang turut mendengarkan suara Papa Wisesa saja merasa sangat terharu, tidak menyangka bahwa kejadian ini terjadi di depan matanya.


"Bram ...."


Bruk!

__ADS_1


Papa Wisesa yang berusaha mengejar Abraham pun jatuh dengan memegangi dadanya yang terasa sakit, nyeri, dan sesak di saat bersamaan.


"Abraham ... Abraham ... anakku!"


__ADS_2