
“Aku menemukanmu, Sha ….”
Dengan masih memeluk erat tubuh Marsha, semerbak parfum beraroma vanilla yang langsung dirasakan oleh indera penciuman Abraham ketika dia dengan pasti mendekap erat tubuh Marsha. Seolah bongkahan batu yang selama ini menekan dadanya sampai rasanya begitu sesak, kini ada kelegaan di sana. Kelegaan yang membuat Abraham menitikkan air matanya.
“Aku kangen kamu, Sha … Yang, kangen kamu,” ucap Abraham lagi dengan kian memejamkan matanya.
Sungguh, pesona candi layaknya negeri di atas awan justru menjadi tempat di mana keduanya saling bertemu. Jiwa yang mendamba, cinta yang tak kunjung pulang, akhirnya bersua juga.
Sementara Marsha masih membeku di tempatnya, tangannya luruh. Akan tetapi, air mata berlinang begitu saja dari sudut matanya. Air mata penuh dengan keraguan, kekesalan, dan rasa bersalah yang melingkupi hati Marsha kini. Mungkinkah tempat yang dia tuju sekarang adalah salah? Bagaimana bisa Abraham menemukannya di sini?
Membiarkan waktu demi waktu berlalu, dan Abraham masih saja setia memeluk Marsha. Ada ketakutan di dalam hati Abraham sekarang yaitu ketika dia melepaskan pelukan itu Marsha akan kembali pergi untuk meninggalkannya. Oleh karena itu, Abraham enggan untuk melepaskan pelukannya. Abraham ingin bisa terus memeluk Marsha dan tidak akan kehilangan Marsha lagi.
Namun, Abraham tak ingin hanya mendekap tubuh wanita itu dari belakang. Abraham ingin menatap wajah Marsha. Wajah yang siang dan malam selalu dia rindukan. Wajah yang membuatnya selalu gelisah. Wajah yang tidak akan terganti dari ruangan hatinya.
Perlahan Abraham mengurai pelukannya, kemudian Abraham melangkah dan kini pria itu sudah ada di hadapan Marsha. Kedua tangan Abraham bergerak dan menangkup wajah Marsha yang sedari tadi hanya menunduk.
“Sha, kamu baik kan? Kamu sehat kan Sha?” tanya Abraham.
Bisa Abraham lihat sorot mata Marsha yang tak ingin melihat. Bola mata itu bergerak dan berusaha untuk menyingkir dari objek yang ada di depannya. Jejak-jejak air mata yang terlihat persis di wajah Marsha. Sungguh, Abraham tak bisa melihat air mata Marsha. Walau berkali-kali dia sudah melihat Marsha menangis, tetapi tiap saja melihat air mata dari wanita itu membuatnya begitu sesak.
“Sha,” panggil Abraham lagi. “Lihat aku, Sha,” ucap Abraham dengan lirih.
__ADS_1
Yang ada Marsha justru terisak dan kedua telapak tangannya bergerak untuk menutupi wajahnya yang menangis. Isakan yang pilu. Bahkan angin dari perbukitan itu pun tak bisa menyamarkan isakan Marsha.
Mendengar tangisan Marsha yang kian pecah, Abraham mengikis jarak berdirinya, kemudian Abraham membawa tubuh Marsha ke dalam pelukannya, membenamkan kepala Marsha ke dalam dadanya, dan tangannya bergerak untuk memberikan usapan di rambut Marsha.
“Kenapa kamu menangis? Lihat aku, Marsha … aku datang. Aku menemukanmu. Sejauh apa pun kamu pergi, sejauh itu juga aku akan mencarimu dan menemukanmu,” ucap Abraham.
Membiarkan tangisan, isakan, dan derai air mata Marsha, Abraham memejamkan matanya, dan mempererat pelukannya. Memberikan Marsha waktu untuk menenangkan dirinya. Abraham tahu pastilah Marsha juga merasa kaget bisa bertemu dengannya secara tiba-tiba.
Menit pun berganti dengan menit, sampai akhirnya Marsha memilih untuk menarik wajahnya, dan dia melepaskan dekapan tangan Abraham di tubuhnya.
“Sebaiknya tinggalkan aku, Bram,” ucap Marsha lagi-lagi dengan berderai air mata.
“Kenapa Sha? Kenapa aku harus meninggalkanmu? Aku sama sekali tidak punya alasan untuk ninggalin kamu,” jawab Abraham dengan yakin dan sungguh-sungguh.
“Kisah kita sudah usai, Bram … sekarang, lebih baik kita melanjutkan hidup kita masing-masing. Tempuhlah jalanmu dan aku juga akan menempuh jalanku,” sahut Marsha.
Jika cinta tidak mendapatkan restu, untuk apa sama-sama melintasi jalan yang ujungnya buntu. Alangkah lebih baik untuk merelakannya. Membiarkan Abraham menjadi anak yang berbakti kepada Mamanya. Biarlah cinta yang akan mengalah.
“Tidak, aku tidak mau. Bagaimana bisa aku menempuh jalanku, jika … jalan … yang … kutuju … berakhir … di kamu.” Abraham mengatakan semuanya itu. Lagi-lagi Abraham menjelaskan bahwa ujung dari jalan yang dia lalui adalah Marsha.
Isyarat cinta yang begitu besar yang Abraham katakan sekarang ini. Tak peduli jalan yang harus dia lalui terjal dan berliku, tetapi satu kepercayaan Abraham bahwa semua jalan yang dia tuju hanya bermuara di Marsha saja. Tidak pernah ada jalan lain yang bisa Abraham tempuh, jikalau bukan Marsha ujungnya.
__ADS_1
Perlahan Marsha mengurai tangan Abraham yang masih berusaha untuk menggenggam tangannya, dan Marsha berbalik. Perlahan kakinya melangkah dan hendak meninggalkan Abraham di sana. Kali ini Marsha akan menguatkan hatinya sendiri. Dua kali sudah Marsha meninggalkan Abraham, kali ini pun dia akan melakukan hal yang sama.
Aku harus pergi, Bram …
Hatiku tak sekuat dirimu …
Keyakinanku tak seteguh dirimu …
Di saat aku mulai mencintaimu lagi …
Di waktu yang bersamaan aku harus melepaskanmu …
Aku pergi, Bram …
Hati yang terasa begitu perih, dada yang rasanya kian sesak, dan juga kali kedua dia harus memupus perasaannya yang tumbuh untuk Abraham. Cinta yang dijalani tanpa restu yang tulus pada akhirnya hanya akan berakhir di tengah jalan. Untuk itulah, Marsha memilih melepaskannya sebelum semuanya berlarut-larut.
Namun, baru lima langkah yang diambil Marsha, Abraham sedikit berlari dan kembali mendekap tubuh Marsha.
“Enggak Sha … kamu gak boleh ninggalin aku seperti ini lagi. Aku tidak akan terima, Sha … karena aku tulus mencintaimu. Please Sha, berjuanglah bersamaku … kita dapatkan restu dari Mama bersama-sama. Asalkan kita mau mencoba dan berusaha, pasti kita bisa mendapatkan restu dari Mama,” ucap Abraham kini.
Marsha terisak, sungguh sakit rasanya. Dia merasakan dilema. Menerima Abraham dan berdiri di samping pria itu dengan risiko harus berjuang untuk mendapatkan restu dari Mama Diah, atau memilih pergi dan memangkas habis perasaannya untuk Abraham. Semuanya berisiko, semuanya membutuhkan perjuangan.
__ADS_1
“Sha, aku bisa sampai di tahap ini … aku bisa menemukanmu, walau aku tidak memiliki jejakmu sama sekali, aku yakin dengan cinta yang mempertemukan kita berdua. Cinta yang mempersatukan aku dan kamu. Cinta yang mempertemukan kita berdua. Aku cinta kamu, Sha!”
Abraham berbicara lagi dan dia berkeyakinan kuat bahwa cinta lah yang sudah mempertemukannya dengan Marsha lagi. Cinta yang membawanya sampai ke sini, dan di sini jugalah dia kembali menemukan Marsha. Untuk keyakinan yang teguh itu, Abraham tidak akan melepas perasaannya begitu saja. Abraham dengan yakin akan sepenuhnya berjuang untuk mendapatkan restu dari Mama Diah, dan membuat Marsha sepenuhnya yakin dengan perasaan dan kekuatan cintanya.