Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Saudara Tiri


__ADS_3

"Keluarga Bapak Wisesa ...."


Akhirnya seorang Dokter ke luar dari ruangan pemeriksaan dan Mama Saraswati dan Melvin lah yang sekarang berdiri. Tentu mereka adalah keluarganya, tetapi Mama Diah beserta Abraham pun adalah keluarganya. Akan tetapi, Mama Saraswati dan Melvin yang berdiri terlebih dahulu. Keduanya tampak segera menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan suaminya.


"Begini Ibu, Bapak Wisesa terkena serangan jantung," ucap Dokter itu.


"Nyeri dan sesak pada bagian dada yang dialami pasien adalah gejala awal dari serangan jantung. Kebanyakan serangan jantung menyebabkan rasa tidak nyaman pada bagian tengah atau kiri dada. Ada rasa tekanan, nyeri, dan sesak. Saat ini pasien selamat dari kondisi ini, tetapi kondisinya harus dijaga dengan baik-baik. Sebagaimana prosedur layanan kesehatan, pasien harus dirawat dan mendapatkan pengobatan paling tidak selama 2 minggu," jelas sang Dokter.


Semua yang mendengarkan penjelasan dari Dokter tersebut pun tampak begitu bingung dan tentunya cemas. Itu berarti kondisi Papa Wisesa benar-benar kritis, anfal (kumat/kambuh) sewaktu-waktu.


Usai Dokter menjelaskan semuanya, Mama Saraswati dan Melvin kembali duduk. Keduanya juga sama-sama bingung. Kenapa Papanya bisa mendadak mengalami serangan jantung.


"Sebenarnya apa yang terjadi Ma?" tanya Melvin yang merasa masih perlu mendengarkan penjelasan dari Mamanya.


Menurut Melvin selama ini Papanya begitu sehat, tetapi bagaimana bisa Papanya mengalami serangan jantung. Melvin menjadi ingat dengan Papanya yang beberapa pekan itu tampak berubah kepadanya. Ya, Melvin sadar dalam beberapa pekan ini Papa Wisesa tampak menjaga jarak dengannya dan terus memberikan nasihat supaya Melvin bisa berubah, hidup sebagai orang yang baik dan berada di jalan yang baik. Akan tetapi, Melvin pun masih abai.


"Apa ada yang terjadi sehingga Papa tiba-tiba mendapatkan serangan jantung seperti ini?" tanya Melvin lagi.


Sorot mata Melvin kini berpindah kepada Marsha, "Apa gara-gara bertemu wanita sialan itu Ma? Sehingga Papa menjadi seperti ini!"


Melvin kembali tersulut emosinya. Dia mengira bahwa Papanya mendapatkan serangan mungkin saja karena bertemu dengan Marsha. Mungkin ada hal yang memicu hingga ritme jantung Papa Wisesa menjadi tidak beraturan. Melvin sangat percaya bahwa mungkin karena Marsha lah semua ini terjadi.


"Tutup mulutmu, berengsek! Jangan terus-menerus menyudutkan istri gue!"

__ADS_1


Abraham yang semula diam, kali ini tidak tahan lagi dengan perkataan Melvin yang terus-menerus menyudutkan Marsha. Di saat hatinya kalut, di saat itu juga justru Melvin menguji kesabarannya. Rasanya Abraham ingin segera membungkam mulut Melvin itu.


"Mas, sabar ... aku tidak apa-apa," balas Marsha dengan lirih.


Rupanya mendengar Papanya yang berbicara sedikit keras, Mira pun yang semula tenang dalam gendongan Marsha, sekarang bayi itu menangis. Sehingga Marsha kemudian berdiri, berusaha menenangkan bayinya itu.


"Sabar Mas ... tuh Mira sampai kaget," ucapnya.


Abraham baru sadar bahwa ketika dia berbicara sedikit keras tadi ada bayinya yang belum terbiasa dengan suara keras. Abraham turut berdiri dan memberikan usapan di tubuh Marsha.


"Maafkan Papa ya Sayang," ucap Abraham dengan lirih dan mengecup kening bayi kecilnya itu.


Rupanya Mira kembali diam dan kembali tertidur di dalam gendongan Marsha. Abraham juga kembali duduk di samping Mama Diah. Masing-masing orang yang berada di sana begitu kalut saat ini. Rahasia yang tersingkap berpadu dengan kondisi yang kritis, tentu ini adalah saat yang tidak baik.


Melvin memilih menghela nafas secara kasar, dan kembali duduk. Dia begitu sebal rasanya melihat Marsha dengan bayi kecilnya. Rasanya ada cubitan di ginjalnya, dulu wanita itu adalah istrinya, tetapi sekarang tidak lagi. Marsha sudah menjadi istri pria lain dan bahkan sekarang memiliki bayi kecil.


Suasana di koridor Rumah Sakit dengan bangku-bangku di sana terasa sepi, sampai akhirnya ada Dokter yang kembali keluar dari kamar perawatan Papa Wisesa. Dokter itu tampak akan memanggil beberapa keluarga yang mungkin saja diminta oleh Papa Wisesa.


"Abraham dan Melvin diminta untuk masuk ke dalam," panggil Dokter itu.


"Ma," ucap Abraham dengan lirih kepada Mama Diah di sana.


"Iya, tidak apa-apa," balas Mama Diah.

__ADS_1


Sementara di seberangnya Melvin juga bingung kenapa dirinya dipanggil untuk masuk ke dalam bersama dengan Abraham. Muncul tanda tanya besar di kepala Melvin siapa sebenarnya Abraham sehingga pria itu dipanggil oleh Papanya?


Keduanya kemudian sama-sama masuk ke dalam ruangan itu. Aroma obat dan alkohol khas Rumah Sakit begitu mendominasi, terlihat Papa Wisesa yang berbaring di atas brankar. Beberapa alat kesehatan juga terpasang di tubuh Papa Wisesa.


"Papa," sapa Melvin yang tak kuasa melihat Papanya terbaring lemah seperti itu.


Abraham hanya diam, dia cukup masuk ke dalam dan juga mendengarkan saja apa yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh pria yang sejatinya adalah ayah kandungnya itu.


"Abraham, Melvin ...."


Papa Wisesa memanggil kedua putranya itu dengan lirih.


"Melvin, kamu perlu tahu bahwa Abraham ini adalah Kakak kamu. Mamanya Abraham adalah istri Papa yang pertama," ucap Papa Wisesa.


Deg!


Melvin benar-benar tidak mengira bahwa pria yang selama ini dia benci adalah Kakaknya. Lantas, apakah sebenarnya keduanya adalah saudara?


"Kalian adalah saudara tiri. Lahir dari benih yang sama, tetapi rahim yang berbeda. Jadi, Papa minta tolong kepada kalian berdua untuk saling mengasihi layaknya saudara. Kasih sayang Papa untuk kalian berdua sama besarnya," ucap Papa Wisesa lagi.


Kini pandangan Papa Wisesa jatuh kepada Abraham, pria yang sudah terlihat lemah itu tampak berkaca-kaca menatap putra sulungnya di sana. "Abraham, putraku ... maafkan Papa, Bram ... Papa yang bersalah di sini. Papa yang meninggalkanmu sewaktu kecil, kamu tumbuh tanpa pernah mengenal dan merasakan kasih sayang seorang Papa itu seperti apa. Maafkan Papamu itu, sehingga jika ajal menjemput Papa bisa merasa tenang karena sebagai seorang ayah, Papa sudah mendapatkan maaf dari putra kandungnya sendiri."


Abraham masih diam, sementara Melvin sudah menggelengkan kepalanya, "Tidak Pa ... Papa akan sembuh. Walau fakta ini adalah pukulan bagi Melvin. Bagaimana bisa Melvin bersaudara dengannya," balas Melvin.

__ADS_1


Suasana di dalam kamar perawatan itu begitu haru. Melvin yang tidak bisa menerima kenyataan, Abraham yang diam dan seolah tak merespons apa pun, dan seorang ayah yang berbaring dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya. Suasana yang kalut dan hati yang bergejolak. Benar, ketika fakta terungkap tidak semua orang bisa menerimanya, sama seperti Melvin yang sukar menerima fakta bahwa Abraham adalah Kakak tirinya.


__ADS_2