Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Orang Tua yang Terlambat Menyadari


__ADS_3

Terkadang ada hal-hal yang terlewatkan dalam hidup. Sama seperti seorang Mama yang terlambat menyadari bahwa ada seorang anak yang walau sudah dewasa, tetapi posisi dan kedudukannya adalah seorang anak yang juga membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Kondisi inilah yang dirasakan Marsha dan juga Mama Ria. Ada luka di sana. Mama Ria dengan sikapnya yang acuh dan seakan menilai bahwa anaknya sudah dewasa, sehingga sang Mama bisa bersikap, bertindak tanpa meminta pendapat dari Marsha. Sementara Marsha sendiri sebagai seorang anak merasakan bahwa orang tuanya melepaskannya begitu saja. Tidak ada kabar, tidak ada hubungan anak dan orang tua yang akrab dan juga hangat.


Dulu, ketika Mama dan Papanya masih bersama, yang ada Marsha melihat dan mendengar adu mulut setiap hari, dan sekarang Mamanya datang dengan pengakuan sudah menikah lagi. Marsha merasa terluka sebagai seorang anak yang seolah keberadaannya sudah tidak dianggap.


"Maafkan Mama, Sha ... Mama terlambat menyadarinya. Mama pikir, kamu sudah dewasa dan jauh dari Mama, sehingga tidak perlu pertimbangan dari kamu. Maaf," balas Mama Ria.


"Mama dan Papa selalu mengambil keputusan sendiri. Sejak dulu, Ma ... bahkan perceraian kalian berdua juga tidak mempertimbangkan perasaan Marsha. Mama dan Papa tidak tahu bahwa dibalik perceraian kedua orang tuanya, anaklah yang paling menderita," balas Marsha dengan suara yang penuh kekecewaan.


Semua yang tertahan di dalam dadanya, kini Marsha ungkapkan. Tidak ada lagi yang Marsha tutup-tutupi. Lebih baik jujur, walau menyakitkan. Ya, Marsha sangat tahu bahwa ucapannya bisa saja menyakiti Mamanya, tetapi itulah yang dia rasakan.


" ..., dan sebenarnya Papa kamu juga sudah menikah lagi, Sha," balas Mama Ria.


Jujur, ini adalah kenyataan pahit. Kedua orang tuanya sudah memulai hidup baru, menemukan pasangan baru. Akan tetapi, keduanya sama-sama tidak memberitahu Marsha sebagai anak kandungnya. Ada helaan nafas yang kasar dari hidung Marsha dan wanita hamil itu memejamkan matanya perlahan.


Abraham merangkul Marsha di sana, "Sudah Shayang ... jangan terlalu dipikirkan. Ingat adik bayi," bisik Abraham.


Abraham sebagai seorang suami, kondisi ini juga tidak mudah untuk Marsha. Akan tetapi, dia harus mengingatkan bahwa ada kehidupan baru yang harus dipikirkan Marsha lebih dari semua situasi yang penuh kekecewaan ini. Ada bayinya yang membutuhkan seorang ibu yang sehat dan stabil secara mental.


"Ya, Papamu sudah menikah lagi dua tahun yang lalu. Setelahnya, Mama akhirnya bertemu dengan Ray dan memutuskan untuk menikah dengan Ray. Tidak mungkin Mama melewati hari tua Mama sendiri. Mama membutuhkan sandaran dalam hidup, dan Ray walau masih muda tetapi justru bisa melengkapi Mama," balasnya.


Marsha mencoba mendengarkan apa yang disampaikan Mamanya, walau sebenarnya Marsha juga menyesalkan kenapa Mamanya menikahi brondong yang usianya seumuran dengan suaminya. Apakah tidak bisa menikahi pria yang matang dan dewasa, serta berharap bahwa pernikahan ini adalah yang terakhir bagi mereka.

__ADS_1


"Maafkan Mama, Sha ... Mama tahu bahwa Mama bersalah. Untuk semua yang Mama lewati, sebisa mungkin Mama tidak memberitahu kamu karena pasti kamu tidak menyetujuinya. Sama seperti sekarang ketika Mama memilih menikah lagi, kamu pasti tidak menyetujuinya bukan?"


Marsha kemudian menatap Mamanya itu, "Iya, Marsha tidak setuju. Apa tidak bisa memilih jodoh yang matang dan dewasa Ma? Jodoh yang akan berbagi hidup, menua bersama. Kenapa harus brondong?" tanyanya.


"Karena Mama cintanya sama Ray, Sha," balas Mama Ria.


"Yang sebenarnya, Marsha juga tidak tahu, Ma ... intinya Mama melangkah sendiri, tidak melibatkan Marsha. Jadi, di masa depan jika terjadi apa-apa dengan Marsha, jangan meminta bantuan Marsha," balas Marsha.


Ini adalah puncak kekecewaan seorang anak. Hanya saja, Marsha merasa tidak yakin dengan Ray. Entah dia berondong yang hanya meniduri Mamanya untuk menggapai kenikmatan belaka. Atau menginginkan harta Mamanya. Yang pasti, Marsha merasa pilihan Mamanya kali ini tidak tepat.


Cukup lama mereka berdebat. Terlihat Mamanya yang seolah membela diri dan Marsha yang tetap merasa apa yang dilakukan Mama dan Papanya sudah terlewat batas. Sebagai anak, sekadar disapa, diperhatikan, saja sudah begitu senang. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Sejak Marsha hijrah ke Jakarta dan menjadi model di sana, semua akses komunikasi perlahan lenyap dan Marsha seakan menjadi anak yang tidak lagi mendapatkan kasih sayang dari Mama dan Papanya sendiri.


Akhirnya Mama Ria berpamitan kepada Marsha dan Abraham di sana. "Mama pamit ya Sha ... maafkan Mama. Mama memang gagal menjadi sosok yang baik untuk kamu. Seharusnya Mama menjadi Mama yang baik dan perhatian kepadamu, tetapi yang Mama lakukan justru sebaliknya. Mama doakan kamu dan Abraham hidup bahagia bersama sampai tua nanti," balasnya.


Marsha masih duduk di sofa, sementara Abraham mengantar Mama mertuanya sampai ke depan pintu. Di sana, Mama Ria berpesan kepada Abraham.


"Mama titipkan Marsha kepadamu ya Bram ... jagalah putri Mama itu. Mama memang bersalah dan gagal menjadi seorang Mama yang baik untuk Marsha, tetapi Mama yakin kamu adalah pria yang baik, suami yang tepat untuk putri Mama itu. Cintai dan jangan sakiti hatinya," pesan Mama Ria.


Abraham pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Bram pasti menjaga Marsha, Ma," balasnya dengan tegas dan sepenuh hati.


Setelah Mama Ria pergi, Abraham kembali duduk di samping istrinya itu. Tidak banyak bicara Abraham segera memeluk istrinya di sana. Mendekapnya dengan begitu erat.

__ADS_1


"Aku ada buat kamu, Shayang ... semua fase yang terjadi, semua musim yang kita lalui, aku akan selalu bersama kamu. Sabar yah ... kamu kuat."


"Aku berdosa kepada Mamaku sendiri," ucap Marsha dengan meneteskan air matanya.


Abraham mengusapi rambut Marsha di sana, "Itu luapan kekesalanmu yang mengendap selama beberapa tahun lamanya Shayang. Sudah yah ... jangan terus-menerus bersedih. Kasihan adik bayinya loh."


Lagi, Abraham memperingatkan Marsha untuk tidak terlampau bersedih karena ada bayi yang sekarang berada di dalam kandungan Marsha. Abraham tidak ingin jika Marsha terlampau bersedih efeknya akan buruk kepada bayinya.


"Sebaiknya kita kembali ke Jakarta lusa saja ya Shayang ... ganti suasana, biar kamu lebih bahagia," balas Abraham.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mas ... kenapa di kehamilan yang kedua ini banyak masalah yang datang ya Mas. Aku sampai kehabisan daya untuk menghadapi semuanya."


Marsha mengakui dengan jujur bahwa di kehamilannya kali ini, rasanya apa yang dia hadapi terlampau berat. Jauh lebih berat, dibandingkan saat mengandung Mira beberapa tahun yang lalu.


"Setiap masa ada ujiannya sendiri-sendiri Shayangku ... yang penting jangan pernah menyerah. Ingat, walau semua orang meninggalkanmu, tetapi kamu memiliki aku. Aku akan selalu mendampingimu dan menggenggam tanganmu," balas Abraham dengan sungguh-sungguh.


"Iya Mas ... terima kasih banyak," balasnya.


"Sama-sama, jadi ke Jakarta saja yah ... terlalu bersedih tidak baik untuk Ibu hamil. Bu Sara juga sudah mau melahirkan, kalian bisa me time bersama dulu," balas Abraham.


"Iya Mas," balas Marsha lagi.

__ADS_1


Ya, menurut hemat Abraham, lebih baik untuk segera membawa Marsha ke Jakarta. Di kota Jakarta dengan suasananya yang berbeda mungkin saja bisa membuat Marsha lebih stabil dan bahagia. Daripada di Semarang, Marsha bisa teringat dengan orang tuanya dan mungkin saja bisa terus-menerus bersedih.


__ADS_2