
Malam ini menjadi malam pertama bagi Marsha dan Abraham menempati rumah barunya. Jika sebelumnya mereka tinggal di apartemen, di lantai yang tinggi dengan pemandangan Ibukota yang hingar bingar. Di dalam perumahan ini terlihat lebih tenang. Dari lantai dua pun hanya terlihat perumahan lainnya. Tidak ada pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang tinggi dengan lampunya yang berkerlap-kerlip.
“Kenapa kok lesu? Capek ya tinggal di rumah sebesar ini?” tanya Abraham menghampiri Marsha yang tengah berdiri di balkon yang berada di kamar mereka.
Marsha menggelengkan kepalanya, “Enggak, aku cuma kehilangan tempat favoritku di sudut apartemen itu,” jawabnya dengan sembari menolehkan kepalanya guna melihat wajah suaminya.
“Aku tahu, pasti sofa yang berada di ruang tengah yang menghadap ke panorama ibukota itu kan?” tanya Abraham.
Sebagai seorang suami, dia tahu pasti bahwa kaca jendela besar di apartemennya yang menghadap ke panorama Ibukota itu adalah spot favorit Istrinya. Hampir setiap sore, Marsha memilih duduk di sofa itu dengan menatap kemilau senja yang menghiasi ruangan apartemennya.
Marsha tersenyum dan mengangguk, “Iya … itu tempat favoritku di apartemenmu. Aku bisa melihat indahnya rona senja di sana. Setiap sore nyaris apartemen itu berhiaskan pesona senja,” ucapnya sembari membayangkan apartemennya.
“Jadi kamu menyesal tinggal di sini karena tidak bisa melihat keindahan senja itu?” tanya Abraham perlahan.
Dengan cepat Marsha menggelengkan kepalanya, wanita itu beranjak dari tempatnya dan dia justru bergerak untuk memeluk Abraham dari belakang. Sama seperti pria itu yang begitu suka mendekapnya dari belakang, sekarang Marsha pun melakukan hal yang sama. Memeluk suaminya itu dari belakang, kedua tangannya melingkar dengan indah di pinggang suaminya, dan dia menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.
“Aku tidak menyesal, aku hanya sebatas merindukannya. Lagipula, sebenarnya kamulah rumahku. Tempat untukku pulang, melepas semua penatku, tempat yang mau menaungiku dan juga tempat di mana semua rasa dramatis dan romantis berpadu menjadi satu,” jawabnya dengan masih bersandar di punggung suaminya.
Perlahan tangan Abraham pun bergerak dan menumpu pada kedua tangan istrinya yang tengah melingkari pinggangnya, pria itu lantas menggerakkan kepalanya ke belakang guna melihat wajah istrinya, sayangnya tinggi istrinya yang hanya sebahunya tidak terlihat. Pria itu lantas tersenyum, “Makasih sudah menjadikanku sebagai rumahmu,” jawab Abraham dengan tersenyum.
Hatinya seolah bersorak penuh kebahagiaan saat Marsha mengatakan bahwa rumahnya yang sesungguhnya adalah dirinya. Sudah pasti, dia akan menjadi sosok yang memberikan naungan, memberi cinta, rasa aman dan nyaman untuk Marsha dan juga tentu Aksara.
Marsha pun mengangguk, “Sekali pun, aku tidak melihat senja itu lagi. Akan tetapi, kamu adalah senja bagiku. Hal terindah dan terbaik yang selalu kulihat adalah kamu,” ucapnya lagi. Rasanya wanita itu tengah diselimuti kebahagiaan tiada terperi, sehingga Marsha lebih banyak mengucapkan kata-kata manis kepada suaminya itu.
Rupanya tempat yang dituju Abraham sekarang ini adalah sofa di kamarnya. Pria itu segera menginstruksikan kepada Marsha untuk duduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Sini Sayang," ucapnya dengan lirih.
Marsha pun tersenyum, kali ini dia menuruti saja permintaan suaminya itu. Perlahan, dia mendaratkan dirinya dalam pangkuan suaminya. Wanita itu mengikis wajahnya dengan wajah suaminya, hingga perlahan Marsha melabuhkan bibirnya di atas bibir Abraham. Menyesap dua lipatan bibir suaminya itu perlahan, membiarkan kedua bibirnya menari-nari di atas bibir suaminya.
Pun sama dengan Abraham, yang segera memejamkan matanya dan menerima ciuman yang dilabuhkan oleh istrinya itu. Mencecap rasa manis berpadu hangat yang membuat satu tangan Abraham menahan tengkuk Marsha untuk memperdalam ciumannya. Seolah tak puas, kali ini pria itu yang mencoba menyapu bibir Marsha dengan ujung lidahnya. Sebuah pergerakan yang lembut, justru membangkitkan setiap sel yang berada di dalam tubuh Marsha hingga Marsha pun kian melingkarkan kedua tangannya di leher Abraham.
Menjeda sejenak ciumannya, Abraham lantas menelisipkan untaian rambut Marsha di belakang telinga. Pria itu tampak mengamati leher Marsha yang jenjang dan segera mendaratkan bibirnya di sana. Kemudian diikuti dengan menggigitnya kecil dan menyesapnya dalam-dalam.
Ya Tuhan, Marsha hingga memejamkan matanya dan juga nafasnya memburu saat Abraham menggigit lehernya. Rasanya dadanya kian sesak saja, hingga tangan Marsha kian berpegangan kencang di bahu Abraham.
"Astaga, Mas," ucapnya dengan meremas rambut Abraham dengan tangannya.
Seolah tak menghiraukan ucapan Marsha, tangan Abraham pun bergerak dengan begitu lembut mengusap lembutnya lengan Marsha. Gerakan naik turun yang membuat sekujur tubuh Marsha meremang. Wanita itu benar-benar sesak nafas saat suaminya menyentuhnya.
Penjelajahan bibirnya pun kini menyusuri ke area dada Marsha. Meremasnya perlahan, dan seolah tidak sabar dia membawa satu buah persik itu masuk ke dalam rongga mulutnya. Menyapu dengan ujung lidahnya dan menggigitnya. Bak tiada hari esok untuk menikmati ranumnya buah persik milik istrinya itu.
Saat suaminya menyentuhnya, menciumnya, membuainya, Marsha bak terombang-ambing di tengah samudra yang luas. Dirinya hanya bisa mengikuti sangat nahkoda, yaitu suaminya sendiri yang menuntunnya untuk sama-sama menikmati samudra cinta yang dalam itu.
Hingga akhirnya, Abraham mengangkat tubuh Marsha perlahan. Menyatukan diri dengan saling duduk dan berhadap-hadapan. Kedua netra yang sama-sama terselimuti kabut saling pandang disertai peluh yang seolah membasahi tubuh keduanya.
"Ah, Sayang … gerakkan pinggulmu," ucap Abraham yang seolah memberikan instruksi kepada Marsha.
Mengikuti instruksi suaminya, Marsha pun bergerak perlahan. Membiarkan tangannya berpegangan hingga mencengkeram pundak Abraham. Terkadang wanita itu menelungkung tubuhnya, saat merasakan gelombang yang menerpanya.
"Mas, aduh Mas," ucap Marsha yang merasakan bagian tubuhnya bergetar.
__ADS_1
Abraham pun justru tersenyum menatap Marsha, rasanya kali ini istrinya itu bertambah kali-kali lipat kecantikannya di hadapannya.
"Lihat aku, Sayang," ucap Abraham dengan menangkup wajah Marsha untuk melihatnya.
Marsha menggeleng, matanya terpejam, dan dia justru mencerukkan kepalanya di dada bidang suaminya yang kali ini juga basah oleh peluh.
"Ya Tuhan, aku enggak tahan," racau Marsha kali ini.
Sengatan yang dia terima sudah melihat arus listrik 220 Volt, tetapi agaknya Abraham masih berusaha untuk menahannya. Di saat tenaga Marsha hampir habis, justru pria itu terlihat masih bisa tahan dengan semuanya.
Mendengar istrinya yang seolah tak kuasa menahan gelombang lagi. Abraham pun mengangkat tubuh Marsha tanpa melepas penyatuannya. Menidurkan istrinya itu di sofa dan menindihnya. Membuat dirinya bersatu padu, saling melengkapi satu sama lain.
Mendekati ambang batasnya, Abraham menghujam dengan begitu dalam. Menghentak dengan kian cepat, hingga akhirnya pria itu menggeram.
"Ah, ini luar biasa, Sayang," racaunya kali ini dengan memegangi pinggang Marsha.
Tanpa bisa ditahan lagi, Abraham pun kian menghentak. Begitu dalam dan cepat, hingga nektar cinta hasil percintaan mereka mengarungi samudra pun keluar. Keduanya hancur berkeping-keping, menuju pulau impian, sekalipun harus hanyut bahkan larut dalam samudra cinta itu, tetapi sejuta rasa yang mereka terima begitu membuncah.
Marsha pun memeluk Abraham dengan eratnya, nafasnya masih terengah-engah dan wanita itu masih memejamkan matanya.
"Aku cinta kamu, Mas. Sangat mencintaimu," ucapnya dengan lirih.
Abraham pun yang mencerukkan wajahnya di leher Marsha pun mengangguk. "Aku tahu, Sayang … dan aku pun sangat mencintaimu. I Love U."
Kembali menyatu usai puasa panjang, keduanya benar-benar terombang-ambing dalam samudera kenikmatan yang membuainya. Hingga kini keduanya untuk sesaat benar-benar merasakan indahnya penyatuan yang tersaji dalam harmoni dan penuh cinta itu.
__ADS_1