
Selang tiga hari berlalu, rupanya Abraham masih berada mual dan muntah khususnya di pagi buta. Rasanya begitu tidak nyaman, bahkan pria itu merasa mungkin saja dirinya mengalami maag, sehingga Abraham meminta obat maag kepada Marsha untuk diminum.
“Shayang, nanti belikan aku obat maag yah … aku maag mungkin, Yang … asam lambungnya naik,” terka Abraham kala itu.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, “Iya Papa … nanti aku ke apotek dan beliin obat maag. Sebenarnya, gak usah minum obat maaf, Mas … periksa dulu saja yuk,” ajak Marsha kepada suaminya itu.
“Enggak ah, Yang … takut disuntik,” balas Abraham.
Marsha pun terkekeh geli melihat suaminya itu, “Kamu sekuat ini masak takut sih disuntik? Lucu banget,” balasnya dengan terkekeh geli.
Abraham pun mengulas senyuman di wajahnya, “Serius … takut aku kalau sama jarum suntik,” balasnya.
“Padahal tidak semua periksa ke Dokter itu disuntik kok,” balasnya.
“Enggak ah, Yang … takut. Ini mungkin hanya masuk angin dan asam lambung naik saja Shayang,” kilah Abraham yang tetap merasa bahwa dirinya hanya masuk angin dan juga asam lambungnya yang naik sehingga membuatnya merasakan mual dan juga muntah.
"Ngomong-ngomong besok ulang tahun kamu ... kamu mau kado apa dariku, Mas?" tanya Marsha kepada suaminya itu.
Abraham pun tertawa, "Kayak anak kecil aja di kado, Yang ... mau apa pun itu, aku sudah bahagia memiliki kamu dan Mira dalam hidupku. Kalian adalah harta yang tak ternilai dalam hidupku," balas Abraham.
Barulah Abraham ingat bahwa ulang tahunnya akan segera tiba. Selama ini, memang Abraham tidak merasa bahwa ulang tahunnya harus dirayakan dan diperingati. Akan tetapi, sekarang Marsha justru mengingatkan pada hari ulang tahunnya.
"Tidak usah memberikan kado yang mahal-mahal. Doakan aku sehat dan pintu berkah untuk kita selalu dibukakan," balasnya.
"Amin ... pasti aku akan berdoa untuk itu," balas Marsha.
__ADS_1
Abraham pun menatap Marsha yang duduk di sebelahnya, "Sama kapan babynya on the way, Yang? Apa harus bekerja keras lagi?" tanyanya.
Marsha pun terkekeh geli. "Rahasia sang Semesta, Mas ... banyak berdoa," balasnya.
"Sudah lah ... usaha kita juga maksimal banget. Kurang di mananya yah?" tanya Abraham dengan tampak seolah berpikir.
Setelah itu, keduanya memilih untuk menaiki ranjang bersama. Berbaring dan saling memeluk satu sama lain. Tidak ada tempat ternyaman untuk Marsha selain berbaring di sisi suaminya. Tempat yang selalu menawarkan kehangatan untuk keduanya.
***
Tepat Jam 00.00 Ketika Ulang Tahun Abraham ....
Tanpa sepengetahuan Abraham, rupanya Marsha sudah mempersiapkan dengan membeli Kue Ulang Tahun untuk suaminya itu. Dengan hati-hati, Marsha keluar dari kamarnya dan mempersiapkan kue ulang tahun dengan beberapa lilin di atasnya.
Supaya tidak membuat kegaduhan, Marsha sampai melepas alas kaki yang biasa dia kenakan. Lalu, dengan membawa kue ulang tahun di tangannya, Marsha kembali ke dalam kamar dan hendak memberikan kejutana untuk suaminya.
"Mas ... Mas Bram," panggilnya dengan suara yang lirih.
Tepukan di lengan dan suara Marsha rupanya dengan begitu cepatnya membuat Abraham terbangun. Ya, pria itu segera mengerjap dan mengucek matanya perlahan, mengumpulkan kembali kesadarannya.
"Ya Shayang," balasnya dengan suara yang serak.
"Happy Birthday My Best Hubby!"
Dengan membawa kue ulang tahun dan lilinnya yang menyala, Marsha mengucapkan selamat ulang tahun kepada suaminya. Memang, Marsha memiliki tradisi tersendiri bahwa di setiap tahun ketika suaminya berulang tahun, Marsha selalu ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk suaminya itu.
__ADS_1
Abraham pun terbangun dan mengulas senyuman di wajahnya. "Ya ampun ... surprise yah?" tanyanya.
"Iya, buat Suami terhebat," balas Marsha. "Make a wish, Mas," ucap Marsha supaya suaminya itu bisa berdoa dan membuat permohonan kemudian meniup lilin-lilin kecil yang menghiasi kue ulang tahun itu.
Abraham pun menundukkan wajahnya dan kemudian membuat permohonan. Setelahnya, pria itu meniup lilin-lilin yang ada di sana.
"Yey, Happy Birthday Mas Bram," ucap Marsha dengan mengecup bibir suaminya itu.
Abraham tersenyum, pria itu membalasnya dengan memberikan satu kecupan yang begitu dalam di bibir Marsha tengah malam itu.
"Makasih Shayangku ... terima kasih dalam beberapa tahun ini, kamu selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku," balasnya.
Marsha pun turut tersenyum, "Tentu Mas ... aku selalu suka menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu. Selamat ulang tahun Suamiku, Papa dari anakku. Semoga kamu selalu sehat, dan juga banyak berkah untuk usahanya," ucap Marsha.
"Amin ... doa istri akan dijabah Allah dan suamimu ini akan berusaha membahagiakan kamu," balas Abraham.
Tentu Abraham begitu percaya bahwa doa yang tulus dari seorang istri akan didengar dan dikabulkan oleh Yang Kuasa. Tanpa doa anak dan istri, tidak mungkin juga Abraham akan sampai di tahap ini.
"Mau potong kuenya atau besok saja?" tanya Marsha kemudian.
"Besok saja Shayang ... tengah malam masak makan kue? Nanti gula darah kita naik loh," balas Abraham.
Marsha pun terkekeh geli di sana, "Iya ... ya sudah, aku keluar dulu dan simpan kue ini di dalam kulkas yah. Besok kita potong bersama Mama dan Mira," ucapnya.
Akan tetapi, sebelum Marsha keluar, Abraham menghentikan istrinya itu, "Biar aku saja yang menyimpannya ke lemari es Shayangku. Sudah kamu istirahat di sini saja," balas Abraham.
__ADS_1
Akhirnya Abraham sendiri yang menyimpan kembali kue ulang tahun itu di dalam lemari es. Marsha tersenyum dalam hati, rencananya berhasil. Akan tetapi, masih ada satu rencana lagi yang akan Marsha berikan untuk suaminya itu. Rencana apakah itu?