Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Terpaan Badai!


__ADS_3

Walau tidak banyak berbicara, tetapi rasanya hari ini adalah hari yang menjadi pertemuan antara Marsha dengan bayi kecilnya. Terlebih dengan rasa sakit yang datang tiba-tiba dengan begitu hebatnya. Dalam hatinya, Marsha menerka bahwa anaknya akan lahir tidak lama lagi. Wajah Marsha memerah karena menahan rasa sakit. Doanya bisa segera tiba di Rumah Sakit dan ditangani tim medis dengan baik.


Berkendara kurang lebih 20 menit, kini mereka sudah tiba di Rumah Sakit. Abraham mencari kursi roda, dan membantu Marsha untuk duduk di kursi roda itu. Kemudian Abraham sendiri yang mendorong Marsha, dan tujuannya ke UGD, kemudian disarankan ke Poli Kandungan segera.


Oleh karena masuk melalui UGD, maka pasien pun diprioritas dan kini mereka sudah bisa bertemu dengan Dokter Indri.


"Bagaimana Bu Marsha?" tanya Dokter Indri.


"Rasa sakitnya sudah lebih sering, selain itu juga tadi ada bercak darah, Dok," jawab Marsha.


"Nah, kita sudah ada bercak darah bisa dipastikan bahwa ini bukan lagi kontraksi palsu. Jadi, silakan berbaring ya Bu Sara, kita akan lakukan cek dalam lagi," jelas Dokter Indri.


Mendengar kata Cek dalam, kedua mata Marsha pun membelalak. Wanita hamil itu menghela nafas sembari mengigit bibir bagian dalamnya sendiri.


"Kenapa Bu Marsha?" tanya Dokter Indri lagi.


"Sakit, Dokter ... dicek dalam itu luar biasa sakitnya," aku Marsha.


Memang tidak bisa dipungkiri bahwa melakukan cek dalam itu sangat sakit. Kejutan karena jari yang masuk untuk mengukur seberapa lebar pembukaan, hingga menyisakan rasa perih.


"Untuk mengetahui seberapa lebar pembukaan yang terjadi, memang harus melakukan cek dalam Bu Marsha. Sakitnya hanya sebentar kok," balas Dokter Indri dengan tersenyum.


Usai mengatakan itu, Dokter Indri mulai melakukan pemeriksaan cek dalam kepada Marsha untuk mengetahui berapa centimeter pembukkan yang sudah terjadi. Mulailah Dokter Indri memberikan instruksinya.

__ADS_1


"Sekarang mohon dengarkan instruksi saya ya Bu Marsha. Buka kakinya, tarik napas panjang dan jangan berpikiran yang aneh-aneh. Saya akan melakukan cek dalam, dan jangan mengejan ya Bu. Tunggu. Satu ... dua ... tarik nafas ... tahan!"


Mulailah tiga jari Dokter Indri masuk untuk melakukan pemeriksaan dalam, begitu tangan itu keluar memang terlihat darah dari serviks di sana.


"Sudah pembukaan lima ternyata Bu Marsha ... dan air ketubannya juga sudah rembes yah. Jadi ini sudah setengah jalan Bu Marsha, sekarang juga Bu Marsha bisa bersiap. Kita akan menunggu sampai pembukaan telah lengkap, dan si baby siap untuk dilahirkan," ucap Dokter Indri.


"Nah, pembukaan lima ini sudah fase pembukaan aktif jadi rasa kontraksi yang datang akan lebih sering dan lebih sakit. Ibu bisa berbaring nanti miring ke kiri ya Bu. Memang disarankan untuk miring ke kiri untuk mempercepat bukaan jalan lahir. Namun, jika kecapekan, bisa mengubah posisi," jelas Dokter Indri lagi.


Baik Marsha dan Abraham sama-sama menganggukkan kepalanya. Keduanya pun tidak menyangka bahwa pembukaan yang dialami Marsha sudah sampai ke pembukaan lima. Semoga saja tidak membutuhkan waktu lama dan baby mereka akan segera lahir.


"Nah, karena ini persalinan normal maka Bu Marsha masih bisa makan dan minum. Tidak diharuskan untuk berpuasa. Jika masih kuat jalan-jalan juga tidak masalah. Sekarang Bu Marsha akan mendapatkan kamar rawat inap dulu, dan nanti jika interval kontraksinya kian rutin, bisa menecek tombol di atas kepala dan perawat yang berjaga akan bertindak," jelas Dokter Indri.


Kemudian Abraham sendiri yang mengikuti perawat yang akan membawa Marsha untuk menempati kamar rawat inapnya. Di dalam hatinya, Abraham pun bingung, tetapi dia berketetapan akan terus mendampingi istrinya itu.


"Sakit Shayang?" tanya Abraham dengan menghela nafasnya.


"Sakit ... cuma masih bisa tahan kok," balasnya.


Memang rasanya sakit. Sakit karena kontraksi dan sekarang sakit karena jarum suntik. Jika bisa, sebenarnya Marsha tidak ingin dipasangi jarum suntik. Namun, prosedur dari Rumah Sakit begini adanya, sehingga mereka harus mengikuti prosedur itu.


"Kuat ya Shayang ... aku temenin. Kamu ingin melahirkan dan ditemani aku kan? Sekarang aku temenin. Sudah setengah jalan Sayang ... semoga si adik bayi makin pinter cari jalan lahirnya yah ... dia juga sudah tidak sabar pengen ketemu sama Mama dan Papanya," ucap Abraham.


Marsha yang sekarang berbaring ke kiri, beberapa kali menahan rasa sakit yang datang saat gelombang cinta dari bayinya yang masih mereka ketahui jenis kelaminnya itu datang. Rasa perih, berubah menjadi rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sementara tangan Abraham selalu menggenggam tangan Marsha. Tidak akan membiarkan istrinya itu seorang diri. Berharap dengan menggenggam tangan Marsha merasa bisa berbagi rasa sakit.

__ADS_1


"Adik bayi pinter yah ... Mama sudah menangis nih Sayang. Jangan lama-lama ya Sayang ... kasihan Mama kamu," ucap Abraham.


Sebab, Abraham juga tidak sampai hati melihat Marsha yang beberapa kali mendesis dan menahan rasa sakit. Abraham tahu bahwa melahirkan itu sangat sakit, karena itu dia berharap Marsha akan selalu kuat.


"Sssttss, sakit lagi Mas ... perut dan pinggangku," ucapnya.


Mendengarkan keluhan sakit dari istrinya, tangan Abraham pun bergerak dan memberikan usapan naik dan turun di punggung hingga pinggang Marsha.


"Diusapin yah ... biar sakitnya berkurang. Bagi sakitnya sama aku Shayang ... bahkan kalau bisa aku saja yang sakit, kamunya sehat-sehat," balas Abraham.


Marsha memejamkan matanya. Sungguh luar biasa rasa sakit kali ini. Rasa sakit yang melebihi sakitnya saat melakukan pemeriksaan dalam. Rasa sakit yang membuat seluruh tubuhnya sakit. Marsha sampai menyatukan gigi-giginya dan berupaya terus bertahan saat badai kontraksi itu datang.


Sudah beberapa jam berlalu, dan Marsha masih berusaha menahan. Sementara Abraham sangat tahu karena rintihan Marsha yang terdengar hingga menyayat hatinya. Namun, di sisi lain Abraham pun tidak bisa berbuat apa-apa.


“Mau minum dulu?” tawar Abraham kepada istrinya.


“Boleh … minum dikit saja Mas,” balasnya.


Dengan cekatan Abraham membukakan botol air mineral itu, membuka sealnya. Kemudian Abraham menaruhkan sedotan plastik dan memegangi botol itu, membantu Marsha untuk minum. Pria itu terlihat gesit dan cekatan untuk menolong istrinya.


Usai Marsha selesai minum, Abraham menyeka buliran air mata di wajah Marsha, “Beberapa hari lalu, kamu bilang mau merasakan gelombang cinta dari adik bayi. Sekarang waktunya, semoga … tidak lama lagi ya Shayangku. Lihatlah, suamimu ini akan selalu mendampingi kamu. I Love U So Much!”


Walau jantung Abraham sendiri berdebar-debar. Walau perutnya juga merasa begitu mulas, tetapi Abraham akan melawan semua itu. Dia akan menjadi suami siaga yang menjaga istrinya, tidak akan melewatkan momen yang paling berharga dalam hidupnya itu.

__ADS_1


__ADS_2