
Usai mengarungi samudra dengan gelombang kenikmatan yang menerpa berkali-kali, kini Abraham menatap langit-langit putih di dalam kamarnya dengan satu lengan yang digunakan Marsha untuk menumpukan kepalanya. Puncak dari gejolak yang terlarang, tetapi sungguh-sungguh nikmat di saat yang bersamaan.
Sementara Marsha masih memejamkan matanya, dia berusaha menenangkan dirinya dan pikirannya sekarang ini. Marsha sendiri tidak menyangka bahwa dirinya akan memberi dirinya seutuhnya kepada Abraham, pria yang dulu adalah mantan pacarnya itu.
“Marsha,” ucap Abraham kemudian.
“Hmm, iya,” sahut Marsha.
“Kamu tidak menyesal kan?” tanya Abraham kali ini.
Marsha hanya diam. Dalam hatinya pun Marsha sendiri tak tahu apakah dia menyesal atau tidak, tetapi yang pasti cara Abraham menyentuh, cara Abraham membawa menuju langit demi langit kenikmatan terasa sangat berbeda. Jauh berbeda dengan Melvin yang menyentuhnya.
Abraham beringsut, mengubah posisinya menjadi miring, menumpukan satu kepalanya dengan satu tangan.
“Usai kamu bercerai, aku akan menikahimu, Sha … aku akan bertanggung jawab,” ucap Abraham kepada Marsha.
Namun, lagi-lagi Marsha diam. Marsha sangat yakin, dirinya belum sepenuhnya siap untuk membina rumah tangga lagi. Namun, juga Abraham belum tentu mendapatkan restu dari Mamanya jika menikahinya. Seketika dilema melingkupi hati Marsha. Marsha justru beringsut, dan memunggungi Abraham di sana. Wanita itu resah hingga meremas selimut tebal yang mengcover tubuh polosnya itu.
Menyadari sedari tadi Marsha hanya diam, Abraham lantas mendekap tubuh Marsha dari belakang. Memeluknya dengan begitu hangat.
“Tidak usah terburu-buru, kamu bisa memikirkan semuanya,” balas Abraham.
Pria itu beringsut turun dari atas ranjang, kemudian berjalan dengan santainya dan kini pria itu Abraham berdiri di hadapan Marsha, mengulurkan tangannya di sana.
“Mandi dulu yuk, bersih-bersih,” ucap Abraham.
__ADS_1
Marsha perlahan menganggukkan kepalanya, dan mengubah posisinya menjadi duduk dengan masih mempertahankan selimut yang menutupi dadanya.
“Kamu duluan saja,” balas Marsha.
“Barengan saja,” balas Abraham.
Pria itu menyingkap begitu saja selimut yang masih dipertahankan Marsha, dan dengan sedikit menunduk, Abraham menaruh tangannya di bahu dan papa Marsha, menggendong wanita itu dan membawanya ke dalam kamar mandi. Bath up di dalam sana, Abraham isi dengan air hangat dan menaruhkan bath bomb beraroma Sea Butter di sana. Aroma lembut dan sedikit manis dengan busanya memenuhi bath up itu.
“Sini Sha, berendam … rileks,” ucap Abraham. Pria itu memasuki bath up terlebih dahulu, kemudian mengulurkan tangannya kepada Marsha. Mengajak serta wanita itu untuk berendam bersamanya, merileksasikan diri dalam air hangat dan Sea Butter yang begitu menenangkan.
“Hanya berendam, Sha,” ucap Abraham lagi.
Mau tidak mau Marsha pun turut masuk ke dalam bath up itu, dan bergabung dengan Abraham di sana. Marsha bukan duduk di pangkuan Abraham, tetapi dia memilih untuk duduk di ujung bath up. Memeluki kakinya dengan kedua tangannya. Sementara Abraham justru memandang Marsha lekat-lekat.
Kali ini Abraham yang lebih aktif dan berusaha untuk menenangkan Marsha. Abraham tahu bahwa Marsha mungkin saja bingung dengan semuanya yang telah terjadi, ada kecanggungan juga di sana. Namun, jika Abraham terus diam yang ada justru kecanggungan di antara keduanya kian terasa.
Perlahan Marsha mendekat, kemudian dia duduk di depan Abraham, memunggungi Abraham, tetapi Abraham dengan sigap membawa tubuh Marsha mendekat padanya, hingga punggungnya menempel ke dadanya yang bidang. Tangan Abraham bergerak dan melingkari tubuh Marsha. Membiarkan wanita itu bersandar kepadanya, karena Abraham sama sekali tidak keberatan jika Marsha bersandar padanya.
“Sha, mungkin kamu pikir semua ini tidak benar … aku pun sadar, tetapi kamu perlu tahu perasaanku ini pasti, Sha … aku cinta kamu,” ucap Abraham lagi.
Hati Marsha kembali berdesir saat Abraham kembali mengucapkan perasaannya. Wanita itu sampai memejamkan mata saat Abraham mengucapkan perasaannya itu.
Abraham membawa dagunya di bahu Marsha, mengusapkan dagu itu di sana untuk sesaat. “Jika kamu berpikir itu hanya sekadar hasrat, itu tidak benar. Sebab, aku mencintai Marsha … sangat mencintaimu. Bahkan usai perceraianmu nanti aku siap menikahimu. Siapa tahu benihku tadi menjadi bakal-bakal baby untuk kita berdua,” ucap Abraham kali ini.
Mendengar kata ‘bakal baby’ justru membuat Marsha bersedih. Mengingat dua tahun pernikahannya dengan Melvin yang tidak dikarunia anak. Gejala kehamilan pun tidak dia rasakan, bahkan Mama Saraswatinya yang mendakwanya mandul. Tentu saja Marsha takut jika memang dirinya tidak sempurna.
__ADS_1
“Bram, dua tahun pernikahan saja, aku tidak memiliki anak. Mama mertuanya menuduhku sebagai wanita yang mandul, jadi mungkin saja tidak akan pembuahan yang terjadi,” jawab Marsha.
Mendengar jawaban Marsha, Abraham justru kian merengkuh tubuh Marsha. “Tidak apa-apa. Namun, jika kamu mengalami periode terlambat menstruasi, aku akan mengklaim bahwa baby itu milikku,” ucap Abraham dengan yakin.
Marsha kini benar-benar bersandar di dada Abraham sepenuhnya, wanita itu memejamkan matanya perlahan. “Jangan terlalu berharap, Bram … aku hanya takut kalau aku adalah wanita yang tidak sempurna,” balas Marsha.
Kali ini Abraham yang memilih diam dan terus mendekap tubuh Marsha. Membiarkan air hangat dan busa yang lembut itu menenangkan dirinya. Abraham dengan keyakinannya, sementara Marsha dengan semua luka dan ketidakyakinannya.
Hampir dua puluh menit, keduanya berendam di dalam bath up itu. Kemudian Abraham mengajak Marsha untuk keluar dari kamar mandi. Pria itu memberikan kaosnya yang oversize kepada Marsha.
“Pakai ini dulu yah … tidurlah denganku,” ucap Abraham.
Namun, mendengar kata ‘tidur dengannya’, membuat Marsha terkesiap. Padahal Marsha juga bisa saja langsung naik ke lantai 14 dan masuk ke unitnya sendiri. Tidak harus menginap di unit milik Abraham.
“Aku naik ke lantai 14 saja, Bram,” balasnya.
Abraham menggelengkan kepalanya, pria itu justru segera mengunci pintu kamarnya dan mematikan lampu utama. Kemudian Abraham menarik tangan Marsha, membuat wanita itu jatuh di pelukannya di atas ranjang itu.
“Hanya tidur biasa. Biarkan aku memelukmu,” ucap Abraham.
“Bram,” ucap Marsha yang hanya bisa mengucapkan nama pria itu.
“Tidur, Shayang … biarkan aku memelukmu, aku selalu mencintaimu Marshayang,” balas Abraham. Pria itu mendaratkan kecupan demi kecupan hangat di kening Marsha. Sekali lagi Abraham ingin membuktikan bahwa perasaannya tulus. Bukan sekadar hasrat, jika pria lain mungkin akan melakukan hubungan itu berkali-kali membuat si wanita terkulai lemas. Namun tidak dengan Abraham, cukup sekali. Abraham bahkan berketetapan dalam hatinya, bahwa dia akan menyentuh Marsha ketika dia sudah menjadi pria yang sah dan halal untuk Marsha.
Ya Tuhan, kali ini Marsha benar-benar merasakan debaran di hatinya. Bahkan bayang perceraian di pengadilan agama tidak lagi mempengaruhinya. Seolah Abraham memiliki cara sendiri untuk mengalihkan perasaan sedih dan luka dalam hatinya. Semua perasaan itu kini justru berganti menjadi debaran demi debaran yang Marsha rasakan.
__ADS_1