Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Sedikit Fakta yang Terungkap


__ADS_3

“Masih berapa lama lagi Mas Abraham?” tanya Sara kepada Abraham yang masih memotret-motret di area Coffee Bay itu.


“Mungkin setengah jam sampai satu jam lagi, Bu Sara. Ada apa?” tanya Abraham.


Dengan cepat Sara pun menggelengkan kepalanya, “Enggak … Marsha kan juga butuh istirahat. Kasihan Ibu hamil kalau kecapekan,” balasnya.


Marsha yang mendengarkan ucapan dari Sara pun tersenyum, “Tidak capek kok Bu … kan pekerjaan model memang seperti ini,” balas Marsha.


Kemudian Sara mengeluarkan sebuah kotak bekal dan memberikannya kepada Marsha, “Ini buat Onty Sara, diberikan ya Kak Evan,” ucapnya.


Evan menganggukkan kepalanya, kemudian memberikan kotak bekal berwarna putih yang terbuat dari mika itu kepada Marsha. “Ini Onty, buat makan siang,” ucap Evan.


“Wah, makasih banget ya Kak Evan … makasih Bu Sara,” balasnya.


“Iya sama-sama. Ya sudah, saya duluan yah. Sudah waktunya anak-anak juga makan siang. Enjoy yah. Mas Abraham dan Marsha, saya duluan yah,” pamitnya kepada Abraham dan Marsha.


Marsha menunjukkan kotak bekal itu kepada suaminya, “Lihat nih Mas, baik banget ya Mas,” ucap Marsha.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, “Kelihatannya banyak sayurannya itu Shayang. Kamu mau istirahat dulu dan makan siang dari Bu Sara itu dulu?” Abraham menawarkan kepada Marsha untuk istirahat sejenak dan menikmati makan siang dari Bu Sara itu.


“Enggak … nungguin kamu saja, Mas. Aku pengen ke restoran Italia yang jaraknya tidak jauh dari sini, Mas. Pengen Spaghetti,” ucapnya.


“Ya sudah, abis ini yah … aku selesaikan dulu,” balas Abraham.

__ADS_1


Abraham segera menyelesaikan pekerjaannya, dan Marsha masih berpose beberapa kali di sana. Tidak lupa, Marsha berpose dengan mengenakan seragam resmi Coffee Bay itu. Mungkin tidak lama lagi, wajahnya akan menghiasi berbagai banner milik Coffee Bay.


“Yuk, sudah selesai,” ucap Abraham.


Kemudian, Abraham mengajak istrinya ke restoran Italia yang diingini istrinya itu. Lagipula, Marsha sudah bekerja keras hari ini, jadi sedikit menikmati hasil kerja keras dengan menyantap makanan Italia yang enak tidak ada salahnya.


“Kamu pesen apa?” tanya Abraham sembari melihat buku menu.


“Spaghetti Carbonara dan Bruschetta saja Mas,” balasnya.


Abraham memesan kepada pelayan, dia juga menambahkan Panini (roti lapis yang mirip dengan sandwich. Isinya berupa irisan daging, mortadella, dan keju) dan minuman segar untuknya. Menunggu kurang lebih disajikan, dan kini keduanya bisa menikmati makanan Italia yang sudah diinginkan Marsha itu.


“Makan yang banyak Shayang,” ucapnya.


“Santai saja … kan habis ini tinggal pulang ke unit. Kerjaan di studio kan di kerjakan orang-orang di sana,” balas Abraham.


Jika para pasangan senang duduk berhadap-hadapan saat di restoran, tetapi tidak dengan Marsha dan Abraham. Keduanya lebih memilih untuk duduk berdampingan. Ada kalanya, Abraham senang menyuapi Marsha, dan terkadang Marsha menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Abraham. Memang itu, sudah menjadi kebiasaan mereka sejak berpacaran dulu.


Saat mereka sama-sama menikmati makanan mereka, di belakangnya ada suara seorang perempuan yang menyebut-nyebut nama Melvin Andrian. Marsha dan Abraham pun saling pandang. Kemudian Abraham membawa jari telunjuknya di depan bibirnya, mengisyaratkan kepada Marsha untuk diam dan menikmati makanannya.


“Kamu sekarang setelah si Melvin di penjara, loe free dong Lista?” tanya seorang perempuan kepada perempuan lain yang tidak lain adalah Lista.


Marsha pun menyenggol tangan Abraham dan berbicara tanpa suara, hanya mulutnya saja yang terbuka. “Lista?” ucapnya.

__ADS_1


“Iya, dengarkan dulu saja,” balas Abraham.


“Free, cuma bulanan untuk gue aman kok. Jadi, ya sudah gue nunggu sampai dia keluar saja,” balas Lista dengan begitu entengnya.


“Si Melvin mainnya ajib enggak, Lis?” tanya wanita itu lagi.


“Bukan hanya ajib, tapi kekuatan penuh. Loe gak bakalan tahu kalau dia perkasa dan powerfull banget. Wajahnya kalem, cuma kalau sudah di ranjang, serem,” balas Lista dengan terkekeh geli.


“Kekuatan penuh gimana?” tanya si temannya Lista.


“Ya, kekuatan penuh. Kalau dia sedang pusing, emosi, atau dulu kecapekan syuting, dia sering kasar mainnya. Membabi buta gitu,” balas Lista.


“Ihh, serem banget. Loe gak takut, gimana kalau itu mengarah ke sadisme?”


“Aku konsultasi ke Dokter, dia memang sadisme sih. Baginya hubungan badan yang nikmat ya jika si wanitanya sampai kesakitan dan terluka,” balas Lista.


“Jadi loe abis gituan sama Melvin, kesakitan dong?”


“Lumayan, cuma … puas banget sih sama dia. Cuma ya itu, harus kuat fisik, siap-siap tubuh loe minimal lebam,” balasnya.


Sementara Marsha dan Abraham yang samar-samar mendengarkan itu saja bergidik ngeri. Tidak mengira jika Melvin juga mengalami sadisme. Pantas saja, dulu Marsha kesakitan dan sering dipaksa oleh Melvin. Kesakitan terperih saat Marsha mengeluarkan darah di bagian inti tubuhnya dan lebam di dada, paha, hingga lengan.


Abraham pun mengusapi lengan Marsha. Pria itu berbicara lirih tanpa bersuara, “Sabar … dia ternyata sadisme,” ungkapnya.

__ADS_1


Marsha pun menganggukkan kepalanya, teringat dengan kekerasan secara seksual yang dia terima. Namun, sekarang Marsha sudah bebas. Abraham adalah pria yang baik, di ranjang pun Abraham memperlakukan Marsha dengan baik, tidak memaksa Marsha tiap kali berhubungan suami istri.


__ADS_2