
"Aku baru tahu kalau mau melahirkan sesakit ini?" ucap Marsha. Di sela-sela tangisannya, wanita itu sedikit tertawa. Ya, tawa yang bercampur dengan tangisan. Sungguh luar biasa rasanya.
"Benar Shayang ... aku membaca di sebuah artikel kalau melahirkan itu seluruh tulang rasanya seperti diremukkan. Sakit yang benar-benar dahsyat. Hanya saja, aku yakin pasti kamu bisa melampaui semuanya ini," balas Abraham.
Setidaknya itu adalah seri pengetahuan yang dia baca, melahirkan memang sesakit itu. Namun, rasa sakit yang menghantam akan berubah menjadi kebahagiaan yang tak terperi begitu bayi kecilnya nanti lahir.
"Baby kita cewek atau cowok ya Mas? Kok pembukaannya masih lama? Ini sudah menjelang dini hari," ucap Marsha.
Marsha memang melihat jam yang terpasang di dinding dan sekarang waktu menunjukkan pukul 03.00. Padahal dia ke Rumah Sakit jam 21.00, dan sampai sekarang dirinya masih merasakan sakitnya kontraksi.
"Aku juga kurang tahu Shayang ... semoga gak lama lagi yah," balas Abraham.
"Ehm, iya ... hiks ... sakit lagi Mas. Sakit," keluhnya kali ini dengan kembali menangis.
Abraham sungguh iba, hatinya hancur menatap istrinya yang kesakitan seperti ini. Pria itu mengikis jaraknya dengan sang istri, satu tangan Abraham bergerak untuk menyusuri garis bawah Marsha, kemudian ibu jarinya menyentuh dua kelopak mata di sana dengan begitu lembut.
"Sabar yah ... di mataku, kamu adalah wanita yang kuat. Sabar yah, aku temenin di sini. Bahkan saat tindakan persalinan nanti, aku akan selalu menemani kamu," ucap Abraham dengan begitu lembutnya.
"Makasih Mas, padahal di rumah tadi aku sudah pengen menangis. Cuma, aku tahan-tahan. Temani aku yah," balas Marsha.
Air mata kembali menitik membasahi wajah ayunya. Rasanya rasa sakit yang datang benar-benar lebih sering intervalnya, dan juga daya tahan tubuhnya sendiri juga mulai menipis. Tanpa Marsha sadari ada sesuatu yang basah keluar dari bawah sana dengan begitu deras, disertai rasa sakit yang amat sangat.
"Basah Mas ... ini basah, mungkin ketubannya," ucap Marsha.
Guguplah Abraham, tanpa pikir panjang Abraham menekan tombol yang ada di atas kepala Marsha. Sebagai pria yang tidak memiliki pengalaman menemani persalinan tentu saja Abraham merasa gugup, panik, dan takut menjadi satu.
__ADS_1
Hanya sekian menit waktu berlalu, seorang perawat datang dan lagi-lagi melakukan cek dalam. Marsha menangis saat perawat melakukan cek dalam lagi. Wanita itu benar-benar terisak kali ini, mendesis sakit.
"Sudah pembukaan 9 Bu ... sekarang kami akan pindahkan ke ruang tindakan yah. Perawat dan Dokter Indri juga sudah bersiap," ucap perawat itu.
Mendengar nama Dokter Indri disebut, rasanya Marsha merasa lega karena ada Dokter yang sudah dikenalnya dan begitu baik padanya. Beberapa perawat masuk dan mulai menggeledek brankar Marsha menuju ruang tindakan persalinan. Sementara Abraham juga berjalan mengikuti para perawat itu. Sedetik pun Abraham tidak melepaskan tangannya untuk terus menggenggam tangan Marsha.
Ketika sudah berada di ruang tindakan, Abraham beberapa kali memberikan usapan di kening dan puncak kepala istrinya, masih berusaha untuk menenangkan istrinya itu. Dia memenuhi janjinya untuk terus menemani Marsha. Berada di sisi Marsha.
Tekanan di perineum, usus, dan juga kandung kemih membuat perut Marsha seakan diremas tanpa ampun. Tak jarang rasa sakit itu menghadirkan rasa pegal, tubuh yang merasa panas, dan sakit hingga area pangkal paha. Hingga akhirnya Marsha mendesis, bagian perutnya terasa begitu kencang dan merasakan ada sesuatu yang rasanya ingin keluar.
"Ssstttss, sakit Mas ... Mas, sakiittt," desisnya lirih dengan berurai air mata.
Kemudian Dokter Indri mulai memeriksa lagi, dan ternyata pembukaan sudah lengkap. Ya, sudah pembukaan sepuluh. Itu artinya waktu melahirkan akan segera tiba.
"Sudah lengkap pembukaannya, Bu Marsha ... jika perut terasa kencang, dan ada rasa ingin mengejan, langsung ambil napas dalam-dalam dan keluarkan ya Bu. Jika tidak terasa kontraksi, jangan mengejan karena akan merobek jalan lahir," jelas Dokter Indri.
"Ayo Shayangku ... pasti bisa. Kita ulangi lagi yah," ucap Abraham.
"Aku ... aku sakit banget, Mas," ucap Marsha.
Kemudian Marsha menatap ke Dokter Indri yang berada di dekat pinggulnya. "Dokter, sakit," keluhnya dengan berurai air mata.
"Ayo Bu Marsha, sedikit lagi. Kepala babynya sudah kelihatan, dorongan lagi yang kuat di panggul, sudah pasti si baby akan keluar," ucap Dokter Indri.
Tidak berselang lama Marsha kembali merasakan perutnya mengencang, wanita itu menangis sembari mengambil nafas dalam-dalam. Sementara Abraham turut menangis melihat Marsha yang begitu kesakitannya.
__ADS_1
"Yuk Shayangku ... aku temani, aku dampingi," ucapnya berbisik lirih di telinga Marsha.
"Kalau aku enggak kuat," balas Marsha dengan mata yang seakan meredup. Wanita itu rasanya tak lagi kuasa merasakan sakit yang menghantamnya berjam-jam lamanya.
"Sssttts, jangan berbicara sembarangan Sayang ... yuk, aku dampingi, kamu pasti bisa. Kamu enggak pengen ketemu baby kita? Buah cinta kita berdua?" Abraham menyahut dan menggenggam tangan Marsha dengan begitu eratnya.
Marsha menangis sesegukan. Wajahnya memeras, matanya sembab dan pedih, ditambah rambutnya yang sudah tidak rapi lagi. Sungguh sakit rasanya, air mata yang kian berderai hingga membuat wajahnya basah.
"Ayo Bu Marsha, beberapa ejanan lagi. Yuk, tinggal menunggu Ibu mengejan, ini perutnya sudah kencang kan? Sekarang tarik nafas dalam-dalam ... kemudian keluarkan!"
Mendengar instruksi yang diberikan Dokter Indri, Marsha kian membuka pahanya, wanita itu kembali memegangi lengan Abraham, mencengkeramnya. Begitu perutnya terasa kencang Marsha mengambil nafas dalam-dalam, mengejan sekuat tenaga, mendorong tubuhnya ke depan. Beberapa ejanan ...
"Eekkk ... ahhh ... Mas!"
Teriakannya disertai air mata yang begitu derasnya.
Semua daya dan upaya benar-benar Marsha kerahkan, hingga terdengar tangisan suara bayinya yang membuat Abraham dan Marsha sama-sama menangis.
"Kamu hebat, Shayangku. Kamu Ibu yang hebat!" Abraham mengatakan semua itu dan mengecup kening istrinya.
Di bawah sana, di antara darah yang keluar, ada seorang bayi yang baru saja melihat dunia dengan kedua matanya yang belum sepenuhnya bisa menangkap objek di depannya. Tangisan bayi yang begitu kencang, hingga menggetarkan dada Marsha dan Abraham. Bayi kecil mereka sudah lahir sekarang.
"Selamat ya Bu Marsha dan Pak Abraham ... bayinya ... perempuan. It's a baby girl," ucap Dokter Indri dengan mengangkat bayi perempuan yang kulitnya merah dan mengenakan lampin saat mengangkatnya.
Oh Tuhan, ini sungguh amazing momen. Momen yang akan selalu diingat dan dikenang oleh Marsha dan Abraham. Momen penuh air mata dan kebahagiaan saat menyambut bayi mereka.
__ADS_1
Bayi perempuan yang hadir di antara mereka tentu akan menjadi seorang putri kecil dan menghiasi apartemen mereka dengan tangisan dan tawanya. Untuk semua itu Abraham dan Marsha benar-benar menangis haru.