Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Saat Terakhir


__ADS_3

"Papa minta dengan sangat ... jangan ada perseteruan lagi di antara kalian berdua. Hiduplah berdampingan layaknya seorang Kakak dan seorang Adik," ucap Papa Wisesa dengan lirih.


Ini adalah nasihat yang diberikan seorang Papa kepada kedua anaknya. Papa Wisesa sangat tahu terlebih dengan hadirnya Marsha di dalam kehidupan Abraham dan Melvin, sudah pasti perseteruan keduanya adalah karena Marsha. Untuk itu, Papa Wisesa meminta supaya kedua anaknya bisa hidup rukun dan berdampingan layaknya seorang Kakak dan Adik.


"Melvin, biarkanlah Marsha bahagia bersama Abraham. Marsha sudah mendapatkan pasangan yang tepat. Papa melihat dengan mata kepala Papa sendiri bahwa Marsha sudah menemukan kebahagiaannya bersama Kakakmu, Abraham. Lepaskan dia, dan jangan kamu usik lagi hidupnya. Sekarang, Marsha adalah Kakak iparmu. Hormati dia sebagai Kakak Ipar."


Papa Wisesa berbicara dengan melihat Melvin yang kala itu berdiri di sisi kirinya. Setidaknya, Papa Wisesa pernah melakukan dosa di masa lalu. Akan tetapi, di usia senja, Papa Wisesa ingin memberikan nasihat kepada Melvin untuk tidak mengusik lagi Marsha. mengikhlaskan semua yang telah terjadi. Sebab, di mata Papa Wisesa, Marsha sudah bahagia bersama Abraham dan cucu kecilnya, yaitu Mira.


Kini, Papa Wisesa menolehkan sedikit kepalanya, dan menatap kepada Abraham yang berdiri di kanannya. Sedikit menjaga jarak untuk tidak terlalu mendekat ke brankar.


"Abraham ... inilah Papamu, Nak. Papa yang tidak pernah hadir dan membersamai tumbuh kembangmu. Maafkan Papa untuk semua dosa yang Papa lakukan. Maafkan Papa yang tidak pernah menjadi figur Papa yang baik untukmu. Maafkan untuk semua waktu yang berlalu. Papa bahagia melihat kamu tumbuh dengan baik, bahkan kamu sudah menikah dan memiliki seorang anak. Papa akan mendoakan hidup kamu dan Marsha selalu bahagia. Dosa Papa kepadamu dan Mamamu sudah pasti tidak termaafkan, tetapi kasihanilah pria tua yang sekarat ini Abraham ... Papa yang memberikan nama Abraham kepadamu, supaya kamu menjadi pria yang sabar, bijaksana, dan penuh kebaikan. Kamu pun tumbuh menjadi pria yang seperti itu. Doa Papa, berbahagialah selalu dengan Marsha. Dia adalah wanita yang baik, dan dengan kamu di sisinya kalian berdua menjadi pasangan yang sepadan," balas Papa Wisesa.


Usai berbicara dengan panjang lebar, rasanya dada Papa Wisesa kembali begitu sesak nafas. Kala Papa Wisesa menarik oksigen terasa begitu berat, monitor yang terpasang untuk memantau organ tubuh pasien juga beberapa kali berbunyi.


Abraham dengan cepat menekan tombol yang terhubung dengan pasien yang berada di atas brankar Papa Wisesa. Kemudian Abraham berjalan keluar dan mencari Dokter, kali saja masih ada Dokter di sana. Tebakan Abraham benar, karena masih ada Dokter yang tampak berbicara dengan Mama Saraswati.


"Dokter, tolong," ucap Abraham yang terlihat panik.


Bagaimana pun seorang anak tidak akan tega melihat Papa kandungnya sendiri dalam keadaan kritis seperti ini. Dokter pun segera masuk dan memasangkan ventilator di hidung dan mulut pasien, membantu pernafasan pasien yang kala itu terasa sesak nafas.


Namun, Papa Wisesa tampak menggelengkan kepalanya, "Tidak usah ... waktunya telah tiba," ucapnya dengan nafas yang terengah-engah.


"Abraham dan Melvin, Papa sayang kalian ...."

__ADS_1


Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Papa Wisesa berbarengan dengan garis lurus yang terpampang di monitor dan juga bunyi.


Ttiiittt ....


Sebagai penanda bahwa kinerja organ tubuh Papa Wisesa baik itu detak jantung, kadar oksigen dalam darah, atau tekanan darah benar-benar sudah berhenti. Itu artinya, Papa Wisesa sudah kembali kepada sang pencipta.


Saat terakhir yang dimanfaatkan seorang ayah untuk menyampaikan nasihatnya kepada kedua anak-anak. Kedua anak yang tidak pernah bertemu, tidak pernah bertumbuh bersama, tetapi justru menjadi seteru ketika dewasa. Kedua anak yang sama-sama mencintai satu wanita yang sama itu Marsha. Saat terakhir yang dimanfaatkan seorang ayah untuk meminta maaf akan semua dosa di masa lalu yang tidak bisa dihapus. Kata dimaafkan dari Abraham pun belum terucap, tetapi sang ayah sudah mendahului mereka untuk kembali ke haribaan-Nya.


Tangis Melvin benar-benar pecah sekarang. Tidak menyangka kali pertama pertengkarannya dengan sang Papa, dan kini Melvin harus kehilangan Papanya untuk selamanya.


Abraham memejamkan matanya, walau tidak meraung dalam tangisan layaknya Melvin, tetapi Abraham meneteskan air matanya. Saat terakhir Papanya yang bisa dia lihat dengan mata dan kepalanya sendiri. Pesan terakhir yang disampaikan Papa Wisesa kepadanya akan selalu terngiang-ngiang dan Abraham ingat.


"Pasien telah tiada," ucap Dokter itu.


Abraham dan Melvin keluar dengan raut wajah penuh kesedihan. Dari tangisan Melvin terlihat jelas bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.


"Mama, Papa, Ma ... Papa ...."


Melvin mengucapkan itu dengan mulut yang bergetar dan memeluk Mamanya. Mama dan anak itu berpelukan dengan sama-sama menangis. Sementara Mama Diah diam dan meneteskan air mata.


Marsha justru terisak dengan keadaan yang terjadi di depan matanya. Wanita itu dengan masih menggendong Mira, segera memeluk Abraham. Marsha tahu Abraham tidak mudah menunjukkan sisi terlemahnya. Marsha memeluk Abraham dengan menyandarkan kepalanya di dada sebelah kanan Abraham, dan Mama Diah yang memeluk putranya itu di sebelah kiri.


Abraham hanya diam tak mengucapkan sepatah kata pun, sementara Mama Diah meneteskan air mata. Bagaimana pun Papa Wisesa adalah pria yang pernah singgah memberikan warna cinta dalam hidupnya, hingga akhirnya pria itu berlaku tidak setia dan meninggalkan dirinya dan Abraham yang masih begitu kecil. Sampai di batas Mama Diah menggugat cerai kepada suaminya itu karena Mama Diah tidak mau dimadu.

__ADS_1


***


Keesokan harinya ....


Hari ini jenazah Papa Wisesa akan dikebumikan. Marsha yang memiliki bayi kecil Mira pun merasa bingung. Dia ingin turut hadir di pemakaman, tetapi bagaimana dengan Mira. Sampai akhirnya, kali ini Marsha berinisiatif untuk menitipkan Mira kepada Bu Sara. Untung saja, Bu Sara adalah orang yang baik. Dia mau mengasuh Mira, asalkan ada kantong ASIP yang bisa diberikan untuk Mira ketika bayi itu menangis nanti.


"Biar Mira sama aku, Sha ... kamu dampingilah Abraham," ucap Bu Sara yang menerima Mira dan berjanji akan menjaga Mira dengan baik.


"Terima kasih Bu Sara," balasnya.


Kemudian Marsha, Abraham, dan juga Mama Diah menuju ke kediaman Melvin Andrian. Ini menjadi kali pertama Marsha menyambangi rumah besar itu setelah bercerai dengan Melvin. Mungkin saja kedatangan mereka bertiga tidak diharapkan, tetapi bagaimana pun ada darah Papa Wisesa yang mengalir di dalam tubuh Abraham. Sehingga mereka tetap datang ke dalam pemakaman jenazah itu.


Ketiganya tampak mengikuti acara dengan khusyu. Melunakan hati, menenangkan pikiran, menundukkan kemauan, menangis dan berserah di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sembari alat-alat suci Al'Quran yang dilantunkan.


Walaupun kedatangan Marsha menjadi sorotan juga karena ada beberapa media yang dapat dan meliput kepulangan Papa dari salah satu aktor berbakat tanah air itu. Akan tetapi, Marsha mengingatkan dirinya bahwa dia datang bukan untuk Melvin. Dia akan kembali menginjakkan kaki di rumah itu untuk mendampingi Abraham suaminya.


Sejak semalam, Marsha tahu Abraham tidak bisa tidur. Marsha tahu Abraham pun hancur sekarang ini, tetapi Abraham masih diam dan menahan semuanya. Semoga saja, kali ini ketika semuanya usai suaminya itu akan bisa berbicara dari hati ke hati kepadanya.


Bahkan Marsha menangis kala membaca keterangan dalam lelayu itu ketika dicantumkan nama Abraham sebagai putra Papa Wisesa di sana. Setidaknya pihak keluarga yang ditinggalkan dari Mama Saraswati bisa menerima Abraham sebagai putra Papa Wisesa.


"Sabar dan kuat, Mas," ucap Marsha dengan lirih yang mengambil duduk di sebalah suaminya itu.


"Hmm, iya," sahut Abraham dengan menganggukkan kepalanya perlahan.

__ADS_1


Marsha tahu bahwa semua ini tidak mudah. Akan tetapi, satu pelajaran berharga yang bisa Marsha petik bahwa semua rahasia walau ditutup dengan rapat-rapat pada akhirnya akan terungkap juga. Mau tidak mau dengan adanya sebuah hubungan, tetapi ikatan yang terjadi secara darah tidak bisa dibatalkan. Sama seperti Abraham dan Melvin yang kini tampak duduk di tempat yang sama, dengan pandangan yang terfokus pada jenazah Papanya yang sudah tiada. Semua akan kembali kepada-Nya, dan kedua anak yang tidak pernah akur itu kini melunakkan hati, menenangkan pikirannya, bersatu dalam suasana duka.


__ADS_2