
Pada hari ini Mira tampak suntuk di rumah. Mungkin juga karena sudah lama tidak diajak jalan-jalan oleh Mama dan Papanya. Semua itu juga karena semakin besarnya kandungan Mama Marsha yang membuat aktivitas Bumil itu terbatas. Ditambah Marsha mengalami lonjak berat badan yang cukup banyak sampai 15 kilogram pertambahan berat badannya. Hingga membuat Marsha engap dan juga merasa gerah walau hanya sedikit beraktivitas.
Untunglah, kesuntukan Mira tidak bertahan lama karena Papa Abraham mendapatkan telepon dari Papa Belva dan berencana mengajaknya dan Mira untuk pergi bersama. Usai mendapatkan telepon dari Pak Belva, Abraham pun bertanya kepada Marsha terlebih dahulu.
"Shayang, aku dan Mira mau diajak Pak Belva boleh tidak?" tanyanya terlebih dahulu.
"Mau kemana Mas?"
"Ke Dufan Mas ... Pak Belva bersama Duo E, dia ngajakin kita. Cuma kalau kamu kecapekan ya aku dan Mira saja. Kasihan, itu Mira juga suntuk gitu. Boleh enggak?" tanya Abraham lagi.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Boleh saja ... kalau sama Pak Belva aku percaya sih. Penting jangan lirik-lirik kanan kiri loh Mas ... jaga diri, jaga hati," balas Marsha.
Mendengar ucapan suaminya, Abraham justru tertawa, "Bumilku yang posesif ... aku sudah sebucin ini sama kamu, Shayang. Jadi, tidak mungkinlah aku lirik kanan kiri, kan aku juga gandeng Mira, udah jadi Papa satu anak," balasnya.
Marsha kemudian menatap suaminya, "Kalau tidak ada aku, nanti kamu dikira Daddy Gula loh Mas," balasnya.
Abraham pun turut tertawa, "Hahaha! Kamu bisa saja. Enggak ada Daddy Gula, yang ada aku ini Hot Hubby buat kamu," balasnya.
"Iya-iya, sudah sana ... ingat jangan lirak-lirik, gak boleh. Anaknya sudah mau dua," balas Marsha.
Akhirnya Abraham mengganti pakaiannya terlebih dulu, dan Marsha juga mengganti pakaian Mira. Papa dan Anak itu kompak mengenakan warna merah. Kemudian Marsha menguncir rambut Mira yang lebih dari sebahu, setidaknya jika anaknya itu ingin main-main di outdoor, rambutnya tidak kusut dan beterbangan.
Tepat ketika Marsha menyelesaikan menguncir rambut Mira, sudah terdengar bunyi klakson mobil Pak Belva di depan rumahnya, dan ada suara Evan dan Elkan yang memanggil bersamaan.
"Permisi."
__ADS_1
Ada Papa Abraham yang membukakan pintu untuk Evan dan Elkan. Sementara Marsha baru turun bersama dengan Mamanya.
"Om, kita bermain bersama yah," ucap Elkan yang memang lebih ramah. Sementara Evan memang pembawaannya cool.
"Iya, sebentar yah," balas Abraham.
Begitu Mira sudah turun dan rambutnya sudah rapi dengan beberapa kunciran yang dibuat Mamanya, kemudian Abraham berpamitan kepada istrinya.
"Mama, kami main dulu yah ... hati-hati di rumah yah. Nanti mau dioleh-olehin apa waktu pulang?" tanyanya.
"Tidak usah, Papa ... udah, kalian outing bersama. Have fun," balas Marsha.
"Tante, Mira kami ajak playdate ya ... nanti El akan jagain Mira," ucapnya dengan mencium punggung tangan Marsha.
"Iya Kak El ... nitip Mira yah," balas Marsha.
"Marsha, Bram dan Mira biar ikut kami yah? Sesekali playdate," ucap Belva.
"Iya Pak Belva," balas Marsha.
"Main ke rumah saja Marsha, Sara di rumah kok. Ini Duo E diajak main biar tidak suntuk," ucap Belva lagi.
"Iya Pak ... nanti gampang," balas Marsha.
Abraham kemudian mengusapi puncak kepala Marsha perlahan, "Pamit ya Sayang ... hati-hati di rumah. I Love U," balas Abraham.
__ADS_1
Di dalam mobil, Pak Belva sendiri yang mengemudikan mobilnya. Sementara di depan ada Abraham, dan di belakang ada Evan, Elkan, dan Mira. Jika Abraham dan Mira kompak dengan kaos berwarna merah, sementara Pak Belva, Evan, dan Elkan kompak menggunakan kaos berwarna navy.
"Sekali-kali playdate bersama ya Bram ... biar anak-anak tidak suntuk di rumah. Soalnya sekarang kalau keluar, terpaksa Mamanya harus di rumah karena Eiffel juga masih bayi," ucap Belva.
"Ya benar begitu Pak ... sinar matahari terik dan debu, juga asap kan tidak bagus untuk bayi. Memang lebih baik karena berada di rumah saja. Dulu, waktu kami memiliki Mira, juga hanya berada di apartemen terus kok Pak ... urusan belanja dan semuanya yang di luar rumah bagian saya," balas Abraham.
Perjalanan menuju Dufan ditempuh selama satu jam, dan Pak Belva yang membelikan tiket masuk untuk mereka semua. Abraham yang ingin membeli sendiri untuk dirinya dan Mira, dilarang oleh Pak Belva.
"Ini saja, Bram ... kayak sama siapa saja. Kita sudah kayak keluarga," balasnya.
"Makasih loh Bos," balasnya.
"Sama-sama. Mira mau naik wahana yang mana? Semua wahana di sini bisa kamu naikin dan gratis Mira, yang penting gelangnya ini tidak rusak dan hilang yah," ucap Belva kepada Mira.
Tampak Mira menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya Papa Belva. Nanti mau naik Caravan itu Pa," jawabnya.
"Oke boleh," balas Papa Belva.
"Nanti naik Komidi Putar sama aku, Mira. Aku jagain," balas Elkan dengan menunjukkan keseriusannya.
Abraham hanya tertawa dalam hati melihat Elkan yang seakan benar-benar menjaga Mira dan juga hendak menemani Mira bermain komidi putar itu.
"Udah cocok jadi menantu kan Bram?" tanya Pak Belva dengan lirih.
"Biarkan saja, Bos ... lucu yah," balas Abraham.
__ADS_1
"Iya, perasaan itu biarkan natural saja. Cukup kita berempat saja yang tahu," balas Belva.
Kali ini tentu akan menjadi Playdate yang menyenangkan untuk Mira bersama dengan Evan dan juga Elkan. Selain itu, para Papa muda pun mendapat kesempatan untuk keluar rumah dan menikmati akhir pekan dengan cara yang berbeda.