Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Pengakuan Seorang Mama


__ADS_3

Setelah Marsha lebih tenang, Abraham kemudian mengajak Marsha untuk pulang. Sebelumnya, Abraham menawarkan kepada Marsha mungkinkah ada tempat lain yang ingin didatangi dan juga membeli camilan sebelum pulang. Akan tetapi, karena hati terlampau sedih, rasanya Marsha tidak berselera untuk makan dan membeli camilan. Padahal sebelumnya, Marsha begitu suka memakan camilan. Bobot tubuhnya sudah naik hampir 3 kilogram, dan juga sudah tidak terlihat begitu kurus.


“Langsung pulang saja ya Mas,” ajaknya kepada suaminya itu.


“Oke … jalan di jalan lihat sesuatu yang menarik bilang saja, biar aku bisa menghentikan mobilnya,” balas Abraham.


“Hmm, iya … makasih Mas,” balas Marsha.


Dengan perlahan Abraham kembali melajukan mobilnya, menyisiri jalanan di kota Semarang hingga akhirnya mereka sampai di rumah Mama Diah lagi. Namun, ketika tiba, ada mobil berwarna putih yang Marsha yakini itu adalah mobil milik Mamanya. Lantas, Marsha pun melirik kepada suaminya.


“Mas, itu mobil Mama,” ucapnya kali ini. Marsha menunjuk mobil putih yang terparkir di depan gerbang rumah Mama Diah. Marsha sangat yakin bahwa itu adalah mobil Mamanya.


"Ya sudah, masuk dulu saja. Kita lihat ke dalam," balas Abraham.


" ..., tapi Mas," balas Marsha dengan terasa enggan untuk turun.


Abraham menggenggam tangan Marsha di sana, dan kemudian kembali bersuara kepada istrinya itu, "Jangan takut ... kita hadapi bersama-sama. Aku temenin," balas Abraham.


Mau tidak mau, akhirnya Marsha pun turun dari mobilnya dan perlahan dia memasuki rumah Mama Diah. Benar dengan tebakannya, ada Mama Ria yang duduk di ruang tamu dan tampak mengobrol dengan Mama Diah, sementara Mira berada di dalam pangkuan Mama Diah.


"Marsha," sapa Mama Ria dengan raut wajah yang sukar untuk didefinisikan yang langsung mendatangi Marsha kala itu.


Melihat ada ketegangan antara Mama dan anak, Mama Diah kemudian mengajak Mira untuk bermain di taman yang tidak jauh dari perumahan tempat tinggal mereka.


"Mira ikut Eyang ke mini market di depan yuk? Sama main ayunan di taman," ajak Mama Diah.

__ADS_1


Akhirnya Mama Diah mengajak Mira untuk keluar, memberi waktu bagi Marsha untuk menyelesaikan semuanya bersama Marsha. Walau tidak banyak tahu, tetapi melihat kedatangan tiba-tiba besannya ke rumah  di saat Marsha sebelumnya sudah berpamitan untuk menemui Mamanya, sudah bisa dipastikan ada sesuatu yang tidak beres sekarang.


"Marsha ... Mama kemari untuk menemui kamu, Sha," ucap Mama Ria dengan menatap wajah putri tunggalnya itu.


"Untuk apa menemui Marsha, Ma?" balas Marsha dengan mengambil tempat duduk, berjarak satu meja di ruang tamu itu. Sementara Abraham tetap duduk di samping Marsha. Tugas Abraham di sana hanya sebagai pendengar dan juga mendampingi Marsha. Sebagai mana janjinya bahwa dia tidak akan meninggalkan Marsha. Sekarang, Abraham duduk dan mendampingi Marsha yang sedang terluka.


"Maafkan Mama, Sha," ucap Mama Ria dengan suara yang terdengar bergetar.


Kata maaf menjadi kata pertama yang dilontarkan oleh Mama Ria. Menyadari bahwa apa yang Marsha lihat bukan hal yang baik dan juga Mama Ria perlu memberikan penjelasan kepada Marsha.


"Mama akan jelaskan semuanya. Yang kamu lihat tadi ... adalah benar, Sha. Cuma, dia suami Mama. Kami sudah menikah. Jangan salah sangka, Sha. Bukan pernikahan untuk mengejar hasrat, tetapi kami sama-sama cinta."


Sungguh, semua yang Marsha dengar kian membuat Marsha terluka. Jadi, selama ini Mamanya sudah menikah lagi. Sejak kapan? Kenapa sebagai anak, dia tidak pernah diberi tahu sebelumnya? Biasanya orang tua yang akan menikah lagi akan meminta izin kepada anaknya, terlebih Marsha adalah anak tunggal. Akan tetapi, kenapa baru sekarang Marsha diberitahu?


Bukan bermaksud untuk membela diri, tetapi datangnya cinta tidak pernah ada yang tahu. Datangnya cinta memang ada kalanya tanpa logika. Sama seperti Mama Ria yang berkepala lima nyatanya bisa menikahi seorang berondong bernama Ray itu.Toh, berhubungan badan dengan suami sendiri tidak salah.


"Mama tidak membela diri Mama sendiri, Sha ... Mama hanya berusaha untuk menjelaskan kebenarannya kepadamu," lanjut Mama Ria.


Setelahnya, Mama Ria mengeluarkan buku nikah berwarna hijau dan merah maroon dari tasnya, dan menyodorkannya kepada Marsha di sana.


"Lihatlah, kami bukan pasangan kumpul kebo ... kami sudah menikah. Sah, di mata agama dan negara," ucap Mama Ria.


Marsha hanya menatap sekilas buku nikah itu, dan memang terlihat foto wajah Mamanya dan pria bernama Ray yang disinyalir berusia seperti Abraham. Sampai di titik ini, Marsha masih memilih diam, karena dia begitu pusing dengan kenyataan yang dia terima.


"Maafkan Mama ... Mama pikir, Mama bisa mengambil keputusan sendiri, dan juga kamu berada jauh di Jakarta. Sehingga, Mama menikah tanpa memberitahu kamu dulu sebelumnya. Maafkan Mama," ucap Mama Ria.

__ADS_1


Abraham membawa tangannya dan mengusapi perlahan punggung Marsha di sana. Abraham pun merasa bahwa Marsha juga tidak mudah untuk bisa menerima pernikahan kembali Mamanya ini.


"Walau terlambat, tetapi Mama merasa lega karena bisa mengatakan kebenaran ini kepadamu. Sudah lama Mama menunggu, tetapi keduluan kami yang melihat kami berdua," balas Mama Ria.


Marsha yang semula diam dan juga mendengarkan penjelasan dari Mamanya, kini memilih untuk merespons cerita dari Mamanya itu.


"Apa susahnya memberitahu Marsha, Ma? Marsha ini anaknya Mama loh ... anak Mama satu-satunya. Akan tetapi, dalam keputusan terpenting dalam hidup Mama, Marsha sama sekali tidak dilibatkan. Marsha juga rindu, Ma ... Marsha juga haus kasih sayang dari Mama dan Papa, tetapi apa yang Marsha rasakan selama ini. Kalian bertindak sesuka-suka hati, tanpa melibatkan Marsha, tanpa memikirkan perasaan Marsha. Sebenarnya, Marsha ini anak Mama bukan sih Ma?"


Luapan kekecewaan amarah di dalam hati Marsha tak bisa dibendung lagi. Dia mengatakan dengan gamblang terlukanya dia sebagai seorang anak.


"Maaf, Sha." Sementara Mama Ria hanya bisa mengucapkan maaf saja.


"Marsha tidak peduli Mama menikah karena apa ... Marsha tidak peduli, Ma ... hanya saja, hargai Marsha sebagai anak Mama. Marsha masih hidup, tetapi selama ini seolah Marsha seperti yatim piatu yang tidak memiliki kedua orang tua."


Pedih. Ini adalah perasaan Marsha. Begitu juga dengan Mama Ria yang merasakan luapan kesedihan Marsha, merasa tertampar karena memang selama ini tidak ada hubungan kekeluargaan yang dekat dengan anaknya sendiri.


"Mama mau nikah, mau kumpul kebo, atau apa pun itu, Marsha tidak peduli, Ma. Semua itu terserah Mama, dosa yang menanggung juga Mama. Marsha hanya ingin sebagai anak, Marsha bisa merasakan bentuk kasih sayang dan peran orang tua yang masih Marsha miliki. Namun, nyatanya selama ini tidak pernah, Ma ... sejak dulu, Mama dan Papa sama saja. Bertindak sesuka hati, mengambil keputusan sesuka hati, dan tidak pernah memikirkan perasaan Marsha."


Abraham yang duduk di samping Marsha, beberapa kali menghela nafas. Ini adalah bentuk kemarahan dan emosi yang tertahan dari seorang Marsha. Emosi yang tidak pernah Marsha tunjukan, luka yang menggores hatinya dengan begitu dalam, dan sekarang terlihat nyata bahwa akhirnya emosi itu meledak juga.


"Maaf kan Mama, Sha ... maafkan kami tidak menyadarinya," balas Mama Ria.


Ya, Mama Ria dan Papa Budiman lebih di posisi sama-sama tidak menyadari. Merasa anak yang diam adalah keadaan yang baik karena tidak pernah bertanya isi hatinya. Sekarang, ketika Marsha meledak, barulah ada kesalahan yang dirasakan Mama Ria.


Apa yang dirasakan Marsha sekarang ini adalah wujud nyata bahwa anak adalah korban yang paling menderita di balik perpecahan dan perpisahan kedua orang tuanya. Apa yang dirasakan Marsha adalah kisah nyata, anak yang diam dan baik-baik saja, di dalam hatinya ada luka yang begitu menganga.

__ADS_1


__ADS_2