
Menstabilkan deru nafas yang masih memburu, Abraham lantas beringsut dan segera membawa Marsha ke dalam pelukannya. Sungguh, ini adalah pelepasan terbaik untuk melepaskan semua masalah yang dirasakannya terlampau berat. Bahkan Abraham merasakan pening yang dia rasakan dalam beberapa hari ini sepenuhnya sembuh.
"Makasih Shayang ... bagiku, seperti ini adalah relaksasi terbaik," balas Abraham dengan masih memeluk Marsha.
"Hmm, sama-sama Mas ... jadi, udah puas?" tanya Marsha sembari melirik suaminya itu.
"Bukan sekadar puas, tetapi pusingku sembuh. Kamu boleh percaya, boleh tidak ... cuma seminggu ini aku begitu pusing. Pening banget, dan ini tadi sembuh seketika. Luar biasa banget Shayang," balas Abraham.
Marsha pun justru terkekeh geli karenanya. Bagaimana bisa suaminya itu mengaku bahwa sekarang peningnya sembuh. Apakah itu ucapan yang berlebihan? Apakah berhubungan suami istri memberikan efek sebesar itu? Akan tetapi, Marsha teringat pada satu hal.
"Kan berhubungan bisa melepaskan hormon pemicu stress dan menyebarkan hormon dophamine ke seluruh tubuh. Pantas saja begitu hormon pemicu stressnya hilang, kini tersisa hormon yang memberikan rasa nikmat dan bahagia," balasnya.
"Nah, benar kan ... makanya peningku bisa hilang. Makasih ya Shayang sudah mau mengobati aku. Obat tanpa pengawet, tapi dampaknya nyata banget," balasnya.
Lagi Marsha tersenyum mendengar jawaban dari suaminya itu, "Kamu bisa saja sih ... padahal aku enggak ngapa-ngapain," balas Marsha.
__ADS_1
"Itu tadi apa? Nikmat banget tahu," balas Abraham.
Marsha menggelengkan kepalanya, jika teringat dengan beberapa waktu yang lalu dengan semua yang sudah dia lakukan membuat Marsha juga merasa begitu malu kepada dirinya sendiri. Akan tetapi, Marsha berusaha untuk melepaskan suaminya itu dari beban yang menghimpitnya dan memberikan sedikit pelayanan terbaik sebisanya untuk membawa suaminya terbang tinggi sesaat.
"Jujur, nikmat banget Shayang ... apa juga karena sudah puasa satu mingguan yah? Jadi, kamu sentuh saja aku udah enggak nahan," balasnya.
"Baru juga satu minggu, dulu waktu abis lahiran Mira saja puasanya lebih lama loh," balas Marsha.
"Benar ... cuma kondisi mental dan hatiku kan enggak sesakit ini Shayang. Kalau sekarang lebih capek secara mental," balas Abraham.
"Jangan membebani diri sendiri lagi ya Mas ... dibagi sama aku. Aku bahkan tidak keberatan untuk memberikan hakmu seperti ini," balasnya.
"Enggak ... sudahlah. Gini aku juga udah seneng banget. Kamu itu benar-benar relaksasi terbaik aku," ucapnya lagi.
Dengan masih mempertahankan Marsha di pelukannya, Abraham memejamkan matanya. Hubungannya dengan Marsha bukan hanya sekadar hasrat, tetapi hubungannya dengan Marsha terikat dengan hati. Cukup saling memiliki, kepuasan akan menyertai. Yang Abraham kejar bukan kepuasan sendiri, tetapi juga kepuasan secara hati.
__ADS_1
"Mau enggak Shayang, sepanjang malam seperti ini? Aku ingin memelukmu tanpa ada batas seperti ini," ucap Abraham dengan tiba-tiba.
"Kalau Mira kebangun nanti gimana?" tanya Marsha.
Agak repot juga jika Mira terbangun karena Marsha harus memberikan ASI untuk bayinya itu. Sementara jika dirinya polos mutlak seperti ini juga rasanya risih. Untuk itu Marsha pun mengatakan alasannya kepada Abraham.
Abraham kemudian diam, tetapi seolah kini Abraham mendapatkan jalan tengah. "Ya sudah, tanpa batas gini dulu saja sampai nanti Mira kebangun yah. Aku butuh kamu banget Shayang," balas Abraham.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, wanita itu mencerukkan wajahnya di dada bidang suaminya dan memejamkan matanya perlahan. "Baiklah ... enggak apa-apa," balasnya.
Abraham tersenyum kini pria itu mengambil selimut dan menyelimuti tubuh keduanya, tangannya lantas mengusapi puncak kepala Marsha dan menciumi puncak kepala Marsha dengan penuh sayang.
"Intinya, aku berterima kasih banget kepadamu Shayang. Kamu mau menjadi telinga bagiku, mau mendengarkan keluh kesahku. Kamu mau memelukku di saat aku benar-benar rapuh. Jika aku tidak memiliki kamu, mungkin saja sekarang aku masih terpuruk. Terima kasih, Marshaku," balas Abraham.
"Sama-sama Mas ... aku pun berterima kasih. Biasanya di saat aku terpuruk, kamu yang akan membahagiakan dan menghibur aku. Sekarang rasanya aku senang bisa menjadi support system untuk suamiku sendiri. Terima kasih," balas Marsha.
__ADS_1
Ada yang mereka berdua sadari, sebagai suami istri pun memang begitu indah untuk saling mengucapkan terima kasih. Bukan hanya untuk materi yang diberikan suami kepada istri, tetapi terima kasih untuk bentuk cinta yang diwujudkan secara nyata. Pengertian, kesabaran, bahkan memaklumi. Semua itu membuat Marsha dan Abraham saling mengucapkan terima kasih.