
Menenangkan diri di rumah, saat hati kalut membuat Marsha justru hanya menangis sepanjang waktu. Tak ingin terus-menerus menangis, Marsha memilih untuk keluar dari rumah. Ada satu tempat yang akan dikunjungi Marsha terlebih dahulu siang ini. Setelahnya, Marsha menuju ke Coffee Bay. Agaknya meminum Frappuccino dingin dan memesan Crofflee bisa memberikan sedikit rasa manis di hidupnya yang pahit.
“Silakan Kak pesanannya,” ucap seorang wanita yang masih muda dan tengah berbadan dua yang menyajikan pesanan Marsha ke atas meja.
“Makasih,” sahut Marsha sembari menganggukkan kepalanya. Akan tetapi, Marsha kembali berbicara karena dia kagum dengan wanita yang tengah hamil itu dan masih bekerja di coffee shop.
“Kak, boleh tanya,” ucap Marsha lagi yang akhirnya menghentikan langkah kaki wanita muda yang tengah hamil itu.
“Iya Kak, boleh,” sahutnya.
“Kakak hamil dan perutnya sudah begitu besar, tetapi kenapa masih bekerja Kak?” tanya Marsha dengan begitu polos.
Padahal di luar sana tidak jarang wanita yang tengah mengandung masih harus bekerja dan mengais rupiah. Ada yang bekerja sebagai guru, bahkan ada yang bekerja di pabrik hingga 9 jam lamanya dalam kondisi berbadan dua.
“Oh, aku cuma sebatas mengisi waktu saja Kak … biar aku kesibukan. Lagipula dengan bergerak seperti ini, aku dan janinku akan lebih sehat,” balasnya.
Marsha menganggukkan kepalanya, melihat perut wanita itu yang sudah begitu menyembul membuat tangan terulur dan hendak menyentuh perut wanita yang tengah hamil itu.
“Kak, bolehkah aku menyentuhnya?” tanya Marsha dengan sopan. Meminta izin untuk menyentuh perut wanita hamil yang baru dia temui itu.
“Boleh,” jawab wanita hamil itu.
Perlahan Marsha membawa tangannya dan mulai menyentuh perut yang menyembul ke luar itu. Terasa aneh di tangannya, tetapi itu adalah peristiwa yang membuat Marsha suatu saat ingin merasakan hal yang sama.
“Makasih Kak,” ucap Marsha pada akhirnya usai menyentuh perut wanita yang tengah hamil itu.
“Sama-sama … semoga kamu segera hamil juga yah. Selamat menikmati menu dari kami. Have a nice day!” Wanita hamil itu berbicara dengan begitu sopan dan tersenyum kepada Marsha.
Sampai akhirnya, Marsha hanya duduk dan menikmati minuman dan makanan yang sudah dia pesan. Menikmatinya sembari berselancar di media sosial. Sedikit memberi waktu untuk diri sendiri di tengah berbagai masalah pelik yang dia hadapi.
Namun, saat Marsha tengah terduduk sendirian, tibat-tiba saja ada seorang pria yang duduk di hadapannya. Pria yang saat itu datang dan mengenakan jaket denim.
“Marsha, kamu di sini?” tanya pria itu.
Suara bariton yang khas, aroma parfum laksana hutan pinus yang begitu segar, dan juga senyuman pria itu yang seketika mengalihkan atensi Marsha.
__ADS_1
“Bram, kamu?” tanya Marsha dengan terkejut.
Tidak mengira bahwa untuk kesekian kali, Marsha akan bertemu secara tidak sengaja dengan Abraham. Jika begitu banyak kebetulan di dunia ini, mengapa justru Marsha harus bertemu dengan Abraham secara tidak sengaja. Niatnya duduk di Coffee Bay untuk menenangkan diri, untuk mengobati rasa sakit di hatinya. Akan tetapi, justru sekarang Marsha bertemu dengan Abraham.
“Iya … aku melihatmu dari luar. Lalu, aku ke mari,” balas Abraham.
Rupanya dari luar Abraham melihat Marsha yang tengah duduk di coffee shop itu sendirian. Sehingga, tidak perlu menunggu waktu lama, Abraham segera menyusul dan menemui Marsha.
“Kamu kelihatannya kurang baik?” tanya Abraham.
Ada anggukan samar yang diberikan Marsha kali ini, “Iya, aku kurang sehat,” aku Marsha.
Memang secara fisik, Marsha merasa kurang sehat. Badannya yang terasa remuk redam, juga sakit di beberapa area feminitasnya yang membuat Marsha kesakitan.
“Kalau kurang baik dan sehat, kenapa kamu di sini? Seharusnya kamu istirahat saja,” balas Abraham.
Ya, secara logis, mereka yang kurang sehat harusnya berada di rumah dan istirahat. Bukan malah melakukan kegiatan di luar rumah. Abraham lebih mengernyitkan keningnya, setelah melihat minuman yang dipesan Marsha sekarang.
“Katanya kamu tidak sehat, kenapa memesan Frappuccino dingin?” tanyanya.
Rasanya mendengar jawaban dari Marsha membuat Abraham kian tidak mengerti dengan jalan pikiran Marsha. Seharusnya jika dia tidak sehat, Marsha bisa berada di rumah dan beristirahat. Seharusnya, jika dia tidak sehat, Marsha bisa tidak meminum es. Namun, yang Abraham lihat sekarang adalah kebalikannya.
Di balik sikap Marsha dan jawaban yang diberikan wanita itu justru membuat Abraham curiga ada sesuatu serius yang terjadi kepada Marsha sekarang ini.
“Habiskan dulu … sehabis ini ikut aku,” ucap Abraham.
“Ke mana?” tanya Marsha.
“Ikut saja … habiskan dulu, aku akan menunggumu,” balas Abraham.
Beberapa menit berjalan, Marsha memilih diam dan menghabiskan minuman dan makanannya. Sementara Abraham duduk di hadapan Marsha dengan sorot mata yang seolah tertuju hanya kepada Marsha. Ya, hanya Marshalah sebuah objek yang bisa dilihat oleh retina matanya.
Menit demi menit berlalu, hingga lima belas menit kemudian, Marsha mengambil tissue di hadapannya dan menyeka bibirnya dengan menggunakan tissue, setelahnya Marsha memasukkan handphone ke dalam sling bag nya.
“Sudah,” ucap Marsha.
__ADS_1
“Kamu bawa mobil kan?” tanya Abraham lagi.
“Iya, bawa,” jawab Marsha.
“Berikan kuncinya, kita pakai mobilmu saja,” balas Abraham.
Marsha memberikan kunci mobilnya kepada Abraham dan kemudian mengikuti Abraham untuk keluar dari Coffee Shop itu. Dengan gusar dan resah, Marsha berjalan beberapa langkah di belakang Abraham dan kemudian segera memasuki mobilnya.
Abraham pun mulai mengemudikan mobil milik Marsha, membelah lalu lintas yang cukup padat di Ibukota menjelang sore itu. Rupanya, mobil itu kini berhenti di sebuah pusat perbelanjaan di pusat Ibukota.
“Ke Mall?” tanya Marsha kepada Abraham.
“Iya,” sahutnya singkat.
“Ngapain ke mall?” tanya Marsha lagi.
“Karaoke … dulu, saat kamu sedih atau ada masalah, kita akan menghabiskan waktu karaoke bersama. Kamu bisa bernyanyi, menangis, tertawa, bahkan menari dengan alunan musik yang kamu nyanyikan. So, mari kita lakukan lagi. Obati rasa sakit dan luka di hatimu,” ucap Abraham kali ini kepada Marsha.
Sungguh, Marsha rasanya tidak menyangka rupanya Abraham masih mengikuti kegiatan mereka dulu saat Marsha dalam kesedihan dan menghadapi masalah. Dulu, memang Abraham yang selalu mengajak Marsha ke karaoke. Perasaan Marsha bisa terobati dengan menyanyi, tertawa, menangisa, dan Abraham akan memberi diri untuk menunggu Marsha. Satu hingga Dua jam menunggu Marsha tidak menjadi masalah bagi Abraham.
Lantas keduanya menuju ke tempat karaoke milik salah satu artis ternama ibukota itu, dan Abraham akan menggunakan tempat karaoke itu selama dua jam.
“Kita punya waktu dua jam, Marsha … kamu bisa menyanyi, menangis, tertawa, bahkan tertidur pun tidak masalah. Aku akan menunggumu, sama seperti waktu dulu di mana aku selalu menunggumu,” ucap Abraham lagi.
Kedua mata Marsha berkaca-kaca, tidak mengira bahwa Abraham masih menjadi sosok yang sama. Memberi dirinya untuk menungguinya. Rasanya hati Marsha tersentuh dengan perlakuan Abraham kepadanya. Hatinya tersentuh karena Abraham masih menyimpan semua kenangan tentangnya.
Untuk apa cinta tanpa pembuktian
Untuk apa status kita pertahankan
Bila sudah tak lagi cinta
Marsha mulai menyanyikan lagu itu dengan berderai air mata. Dari lagu yang dipilih Marsha, Abraham tahu bahwa keadaan hati mantan pacarnya itu sedang tidak baik-baik saja. Abraham perlahan berdiri, dan memeluk tubuh Marsha begitu. Membawa tubuh yang rapuh itu dalam dekapannya.
“Kamu mau menangis boleh … menangis saja. Ada aku … aku akan mengobati sakitmu itu,” ucap Abraham dengan sedikit berbisik di telinga Marsha dan memeluk tubuh Marsha.
__ADS_1
Luruh sudah semua pertahanan Marsha, air matanya yang berderai. Rasa pilu, sakit, dan marah mendominasinya sekarang ini. Dalam dekapan Abraham, dalam kehadiran pria itu, semoga saja itu menjadi obat yang manjur yang bisa mengobati pilunya saat ini.