
"Bapak Belva, kelihatan kami cocok dengan rumah ini deh," ucap Abraham.
Belva pun yang mendengarnya pun menganggukkan kepalanya, "Oke ... baiklah, jadi kapan kalian akan pindahan?" tanya Pak Belva.
"Harganya dulu berapa Pak Belva? Masak saya langsung pindahan tanpa membayar harganya?" tanya Abraham.
"Harga bisa nego kok. Untuk kalian, mau diambil gratis juga boleh," balas Belva.
Akan tetapi, Abraham dan Marsha segera menolaknya, "Eh, jangan Pak ... seperti kesepakatan di awal dong," balas Abraham kemudian.
"Oke baiklah ... tiga ratus juga saja," balas Belva secara to the point.
Di atas tadi Marsha sudah menerka bahwa harga rumah dua lantai itu akan berkisar ratusan juta. Mendekati lima ratus juta. Akan tetapi, keduanya benar-benar tidak mengira jika mereka mendapatkan rumah baru dengan tipe minimalis dua lantai dengan harga hanya tiga ratus juta. Apakah sekarang Pak Belva sedang membanting harga untuk perumahan ini? Sebab, lingkungan perumahan ini begitu asri dan aman dengan sistem one gate. Selain itu, juga perumahan ini dekat dengan minimarket, ATM, dan beberapa fasilitas publik yang tersedia. Letaknya pun di tempat yang strategis.
"Apa ini tidak terlalu murah sih Pak?" tanya Abraham kepada Pak Belva.
"Tidak ... hanya saya berikan sedikit diskon saja," balas Pak Belva dengan tenang.
"Baiklah, saya mengambil rumah ini saja, Pak," balas Abraham.
"Lalu, kapan akan ditempati?" tanya Pak Belva lagi.
"Satu atau dua minggu lagi mungkin Pak ... mungkin ada cat yang perlu saya ganti dan untuk kamar yang akan saya koneksikan menjadi kamar untuk Mira. Jadi, ya sedikit saya perbaiki saja, Pak," balas Abraham.
__ADS_1
Bu Sara yang sedari tadi diam pun kali ini yang mulai berbicara, "Untuk desain, saya ada beberapa staf yang sering kali mendesain Coffee Bay. Mungkin bisa kalian gunakan, nanti kamu buat saja akan seperti apa gambaran besarnya Mas Bram, biar dikerjakan staf Coffee Bay saja," balas Bu Sara.
" ..., tapi Bu Sara," balas Abraham.
"Tidak apa-apa Mas Bram ... anggap saja ini kado dari saya untuk tetangga baru," balas Bu Sara.
Rasanya memang benar yang dikatakan oleh Abraham semalam, bahwa ketika seseorang berusaha menghancurkannya dan mengusik ketenangannya, tetapi Tuhan nyatanya kirimkan lagi orang-orang yang baik. Untuk semua itu, tentu Abraham dan Marsha pun begitu bersyukur karenanya.
"Bu Sara, terima kasih banyak," balas Marsha yang memang sangat berterima kasih kepada Bu Sara.
"Sama-sama Marsha ... nanti sering-sering main ke rumah yah, biar bisa ngobrol-ngobrol. Cuma berbeda cluster saja kan," balas Bu Sara.
"Siap Bu ... nanti saya recokin sama Mira yah," balas Marsha.
Bu Sara kemudian menatap kepada Mama Diah, "Tante kalau mau main, silakan loh ... kapan-kapan ajarin saya bikin Lumpia Semarang sendiri bisa enggak Tante?" tanya Bu Sara kepada Mama Diah.
"Benar ... nanti bisa ajak anak-anak bermain bersama sekalian," balas Pak Belva.
Usai deal dengan harga, dan sedikit berbincang-bincang, kemudian mereka pun berpisah. Pak Belva dan Bu Sara kembali ke rumahnya. Pun demikian dengan Marsha dan Abraham yang juga kembali ke rumah.
"Pak Belva dan Bu Sara itu orang yang tulus ya Bram?" tanya Mama Diah dalam perjalanan pulang.
"Iya Ma ... Abraham bersyukur kenal orang baik seperti mereka," balasnya.
__ADS_1
"Tulus banget ... kerasa kalau orang yang tulus itu. Setidaknya di lingkungan baru nanti kalian punya tetangga yang baik yah," balas Mama Diah.
"Iya Ma ... Marsha kalau kesepian dan ingin main bisa main ke rumahnya Bu Sara. Sebenarnya jarak usia Bu Sara dengan Marsha tidak terlalu jauh loh Ma," ucap Abraham dengan tiba-tiba.
"Masak sih?" tanya Mama Diah.
"Iya ... hanya tiga tahun saja kalau tidak salah selisih usia mereka," balas Abraham.
"Kalau Pak Belva nya yang lebih berumur yah?" tanya Mama Diah lagi.
"Lumayan Ma ... selisih usia Bu Sara dan Pak Belva itu tujuh tahun kalau tidak salah. Abraham kenal Pak Belva itu sejak Abraham merintis karir sebagai fotografer di Jakarta. Memang Bos itu baik banget," balas Abraham lagi.
"Kalian bersyukur, dikelilingi orang baik. Tetangga itu juga adalah keluarga yang tidak terjalin dari darah, tetapi dari ikatan hati. Memiliki satu tetangga yang baik itu sudah cukup untuk kalian," nasihat dari Mama Diah lagi.
"Benar Ma ... di saat ada orang yang berusaha jahat, tetapi Tuhan masih mempertemukan dengan orang-orang yang baik. Rasanya jadi terharu," balas Marsha.
Mama Diah pun tersenyum kepada menantunya itu, "Penting hati-hati, Sha ... terlebih sekarang Melvin sudah keluar dari tahanan. Mama hanya takut saja suatu saat dia mencari perkara dengan kalian lagi. Melihat kelihatannya Melvin adalah sosok yang pendendam," balas Mama Diah.
"Iya Ma ... Marsha juga akan berhati-hati. Lebih baik menjaga diri, Ma," balas Marsha.
Kali ini Mama Diah pun turut mengingatkan Marsha untuk lebih berhati-hati. Mungkin saja diluaran sana, Melvin akan berusaha untuk memperbaiki reputasinya dengan terus berkelakuan baik. Hanya saja apa yang akan dia lakukan yang tidak diketahui oleh sorot kamera kan tidak ada yang tahu? Oleh karena itulah, Mama Diah memperingatkan kepada Marsha dan juga kepada Abraham untuk lebih berhati-hati.
“Mama juga suka dengan lingkungan perumahan ini. Semoga rumah itu tadi membawa berkah yah buat kalian berdua,” balas Mama Diah.
__ADS_1
“Amin.”
Marsha dan Abraham sama-sama mengaminkan doa dan harapan dari Mama Diah. Semoga saja rumah baru yang akan mereka beli dan mereka tempati bersama akan membawa berkah dan keberuntungan untuk mereka. Selain itu, rumah itu juga akan menjadi lingkungan tumbuh kembang bagi Mira. Mengingat Mira akan terus bertumbuh, mendapatkan sinar matahari secara langsung, sirkulasi udara yang lebih baik, tentu akan lebih baik dan juga sehat untuk Mira. Oleh karena itu, semoga saja Mira juga bertumbuh dan berkembang dengan baik sesuai tahapan usianya di rumah baru itu nanti.