
Hadangan Melvin yang tampak menghentikan Abraham dan Marsha, sebenarnya bisa diprediksi oleh Abraham. Beberapa saat yang lalu, Melvin terlihat menatapnya. Abraham pun sepenuhnya yakin bahwa Melvin juga merasa kesal dan mungkin saja tidak bisa menerima kenyataan bahwa di dalam tubuh mereka ada satu darah yang mengalir di sana dan membuat ikatan yang baru sama-sama diketahui oleh keduanya. Ya, darah dari almarhum Papanya lah yang membuat keduanya menjadi terikat karena hubungan darah.
Akan tetapi, Abraham menyadari sekalipun darah Papanya sama-sama mengalir di dalam tubuhnya, tetapi jalan hidup yang diambil keduanya berbeda. Perpaduan genetik dari istri pertama, dan kemudian istri muda nyatanya juga menghasilkan karakter yang berbeda pada dua bersaudara satu ayah itu.
"Sebaiknya, hiduplah dengan baik. Tinggalkan segala hal-hal yang tidak baik, tidak ada untungnya hidup yang sementara ini harus kamu menodai dengan berbagai hawa napsu," balas Abraham.
Akan tetapi, Melvin yang diam pun perlahan berbicara, "Jangan sok suci. Toh, kamu pun yang merebut dia dari sisiku. Memang ada seorang Abang yang merebut istri adiknya sendiri?" tanya Melvin.
Abraham tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, "Aku tidak merebutnya, lagipula, sebelum kamu mengenalnya, aku sudah terlebih dahulu mengenal Marsha. Aku adalah cinta pertamanya. Jadi, jangan berkata bahwa aku merebutnya darimu. Lagipula, pantaskah membahas semua itu, di saat kita masih berkabung?"
"Tidak usah membahas apa yang sudah berlalu, Vin," sergah Marsha kali ini.
Sepenuhnya Marsha sudah menutup albumnya dengan Melvin. Tidak ingin mengingat kembali apa yang terjadi pada masa lalunya. Terlebih dengan kenyataan pahit terkait kekerasan dalam rumah tangga yang pernah dia alami. Marsha benar-benar tak ingin mengingatnya lagi.
"Walau aku sangat membencimu, tetapi karena teringat pesan yang disampaikan oleh almarhum. Aku akan menganggap itu sebagai amanah. Jadi, sebaiknya jangan mengusik Marsha lagi. Di kala aku putus darinya dan melihat dari televisi pernikahanmu dengannya, aku sudah menguatkan hatiku. Namun, di kala kamu menyakitinya, dan ada cinta lain yang menawarkan kebahagiaan dan kelemahlembutan, aku percaya cinta yang lain itulah yang pada akhirnya bisa memenangkan diri Marsha. Please, Vin ... hiduplah benar. Oh, iya, jika kamu mencintai Lista, nikahilah dia. Jangan mengajar kenikmatan sesaat, tetapi mulailah semuanya dari awal. Aku mengatakan ini untuk kebaikanmu," balas Abraham.
Merasa Abraham juga cukup tahu mengenai Lista, Melvin tampak menatap tajam pada pria yang bukan hanya rival baginya, tetapi juga Kakak tirinya itu.
__ADS_1
"Darimana loe tahu hubungan gue dengan Lista?" tanya Melvin.
"Udah sejak lama. Aku tahu sejak lama, bahkan setelah setengah tahun pernikahanmu dengan Marsha kala itu," balas Abraham.
Marsha yang kali pertama mendengar pengakuan suaminya itu juga terkaget. Itu artinya memang Melvin berlaku tidak setia kepadanya sejak semula, ketika pernikahan baru setengah tahun, tetapi Melvin sudah bermain hati dengan Lista. Namun, kenapa sejauh ini Abraham tak pernah mengatakan semua itu kepadanya.
Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Abraham, Melvin menundukkan wajahnya. Tepat sekali ucapan Abraham, ya kala itu perkenalan Melvin dengan Lista dimulai ketika usia pernikahannya dengan Marsha baru menginjak usia enam bulan. Sosok Lista yang begitu cantik dan sexy seolah menjadi kesenangan tersendiri bagi Melvin. Berawal dari sekadar teman ngopi, berakhir menjadi partner ranjang yang saling menguntungkan satu sama lain. Melvin merasa Marsha tidak bisa menyeimbanginya di ranjang, terlebih dengan obsesi liar Melvin yang ingin bermain kasar, tetapi Marsha sudah merintih kesakitan di sana. Akhirnya, semua itu tersalurkan pada Lista. Wanita yang justru menikmati hubungan yang dilakukan dengan kasar. Mengejar kenikmatan bersama Lista membuat Melvin merasa lebih terpuaskan.
Marsha memilih diam, sepenuhnya semua itu hanya masa lalu dan tidak perlu diingat-ingat kembali. Sementara Abraham ingin Melvin bisa memperbaiki hidupnya dan menjalankan amanah dari Papanya.
"Masalah Lista, biar gue yang urus. Kagak usah ikut campur," balas Melvin.
Setelah itu, Abraham menatap kepada Marsha yang berdiri di sampingnya, pria itu tampak mengulurkan tangannya kepada Marsha.
"Ayo Shayang, sebaiknya kita pulang," ajaknya kepada Marsha.
"Iya Mas," balas Marsha dengan menautkan jari-jemarinya di dalam genggaman tangan Abraham.
__ADS_1
Lebih baik memang segera pulang, karena memang Abraham juga tidak ingin berlama-lama di rumah besar ini. Marsha pun beberapa kali menghela nafas, Abraham bisa menebak bahwa istrinya itu juga mengalami pergolakan batin yang berkaitan dengan masa lalunya dulu. Jadi, lebih cepat pulang lebih baik.
Namun, di kala Abraham dan Marsha hendak berjalan pulang, ada seorang pengacara kepercayaan Papa Wisesa yang menahan kepulangannya.
"Anda Abraham? Putra sulungnya almarhum Bapak Wisesa?" tanya pengacara itu.
"Ya, benar saya sendiri," balas Abraham.
"Mohon jangan pulang dulu. Tunggulah beberapa saat lagi," balas sang pengacara.
Melvin yang masih berada di situ pun tampak bingung. Apa yang membuat pengacara kepercayaan Papanya itu meminta Abraham untuk menunggu. Seketika Melvin merasakan sesuatu yang tidak enak.
"Seneng kan loe, pasti loe akan mendapatkan durian runtuh," ucap Melvin dengan menatap tajam Abraham.
"Gak ada kesenangannya sama sekali. Aku enggak sama kayak kamu. Tujuan hidup kita berbeda, cara kita memaknai hidup juga berbeda," balas Abraham.
"Munafik," balas Melvin.
__ADS_1
Di sini terlihat jelas Melvin yang begitu cepat naik darah dan emosian. Sementara Abraham adalah sosok yang lebih mudah mengelola emosinya. Marsha yang berdiri di antara Melvin dan Abraham pun sangat bingung. Marsha hanya tidak ingin Melvin bisa melakukan apa pun untuk mencelakai Abraham. Sungguh, jika Melvin sampai bertindak kelewat batas, Marsha akan pasang badan untuk suaminya itu. Marsha tidak ada membiarkan Melvin melakukan tindakan yang mencelakai suaminya.