
Begitu malam tiba, kali ini para orang tua agaknya membuat acara yang terkesan berbeda. Ya, malam itu kurang lebih jam 20.00, anak-anak sudah tidur. Mungkin juga karena kecapekan sore hari bermain-main di kolam renang. Sehingga, malam ini Sara berinisiatif untuk membuat api unggun di taman yang ada di dekat kolam renang.
Pun Marsha dan Abraham yang turut serta. Rasanya memang aneh karena ini kali pertama dua keluarga ini liburan bersama, tetapi baik Marsha dan Abraham berusaha untuk bisa menikmatinya. Ketika Bu Sara dan Pak Belva mengajak mereka bermain api unggun, Abraham dan Marsha pun turut menyetujuinya.
“Anak-anak sudah tidur … sekarang waktunya para Papa dan Mamanya me time,” ucap Pak Belva dengan membuat api unggun.
Udara dingin di Puncak pun terasa hangat karena api unggun yang mereka buat. Malam itu, dengan taburan bintang di langit yang tidak seberapa nyatanya justru membuat suasana malam menjadi begitu romantis. Bias api yang indah, dan memantul di sekitaran kolam renang itu.
“Kalian terbiasa tidur jam berapa?” tanya Bu Sara kepada Marsha dan Abraham.
“Tergantung sih, Bu … saya sih biasanya quality time dulu sama Mas Abraham ketika Mira sudah tidur,” jawab Marsha.
“Sama dong … aku juga dengan Mas Belva juga selalu seperti itu setiap malam,” balas Sara.
Kesempatan kali ini, Marsha pun juga tahu bahwa Bu Sara jika tidak ada anak-anak memanggil suaminya dengan sebutan ‘Mas Belva’, sama seperti dirinya yang memanggil suaminya dengan sebutan ‘Mas Bram’. Rasanya lucu, karena selama ini Marsha selalu mendengar tetangga sekaligus teman baiknya itu memanggil suaminya dengan panggilan ‘Papa’.
"Kalian sudah berpacaran lama yah?" tanya Sara kepada Marsha dan Abraham.
Agaknya memang malam ini dengan ditemani dengan api unggun dan juga ada minuman hangat seperti Kopi panas dan Teh panas, serta ada beberapa camilan di sana, sangat pas untuk melakukan ngobrol bersama.
"Dari SMA sih Bu ... tapi terus putus, ya begitu deh Bu," balas Marsha.
Ya, Abraham adalah pacar pertama Marsha di kala SMA hingga kuliah dulu. Setelahnya, mereka berpisah karena saat itu Mama Diah tidak mengizinkan anaknya berpacaran dengan seorang model. Marsha pun memilih pindah ke Jakarta, dan bertemu Melvin Andrian di sana. Hingga akhirnya Marsha menikah dengan Melvin, dan kembali dipertemukan dengan Abraham. Badai demi badai terjadi, hingga akhirnya keduanya bisa bersatu kembali.
"Sudah kenal lama dong yah," giliran Pak Belva yang menyahut kali ini.
"Sudah Bos ... ya, dari kami SMA, walau sebenarnya dari usianya tuaan saya 1,5 tahun sih," balas Abraham.
__ADS_1
"Jadi usia kalian selisih 1,5 tahun saja?" tanya Bu Sara lagi.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Benar Bu ... hanya selisih 1,5 tahun saja. Karena dulu teman SMA dan kuliah."
Mendengar jawaban Marsha, Sara tampak menganggukkan kepalanya perlahan, "Kalau sudah kenal dari SMA dan juga selisih usianya hanya 1,5 tahun berarti untuk obrolan gitu nyambung dong yah? Jujur nih, kalau aku awalnya bingung harus ngobrol aja dengan Mr. CEO ini. Usia kami terpaut 6 tahun dan dengan background yang sangat berbeda. Jadi, yah ... awalnya itu susah," cerita Sara pada akhirnya.
"Sebenarnya dari awal nyambung sih ngobrolnya, cuma masih sama-sama menutup diri saja," sahut Belva.
Ya, pria itu beralibi bahwa memang ada gap di antara dirinya dan Sara, tetapi sebenarnya dari awal mereka jika berbicara itu nyambung. Belva menyadari, bahwa dulu dirinya dingin dan tertutup saja. Setelah bersama Sara, perlahan Belva bisa menjadi pribadi yang hangat dan bisa mengutarakan perasaannya.
"Kalau Pak Belva sudah ketemu Mas Bram lama yah?" tanya Marsha kemudian.
"Lama, dulu mendiang istri saya itu kan model dan yang jadi fotografernya itu Bram ... jadi sudah lama kenal," balas Belva dengan jujur.
Marsha merespons dengan menganggukkan kepalanya perlahan. Bahkan Belva pun terlihat sebagai pribadi yang jujur, dan Bu Sara juga terlihat nyaman saja ketika suaminya itu mengingat mengenai istrinya yang telah tiada.
"Model siapa ya Pak? Mungkin saja saya kenal," tanya Marsha lagi.
Marsha yang mendengarkan nama itu pun merasa kaget. Jadi, sebenarnya dulu Pak Belva ini adalah suami Kak Anin. Sebab, Marsha sangat mengenal sosok Anindya, seorang model papan atas yang memiliki jam terbang sangat tinggi. Bisa dibilang seniornya di bidang modelling.
"Kak Anindya Fitriani bukan?" tanya Marsha.
"Iya, benar," balas Belva.
"Almarhumah itu senior saya di dunia modelling dulu. Ya ampun, dunia sempit sekali," balas Marsha.
Sara pun tersenyum di sana, "Sangat cantik ya Sha?" sahutnya.
__ADS_1
Marsha pun tersenyum, "Benar Bu Sara, sangat cantik ... cuma, Bu Sara juga cantik banget kok. Tidak kalah cantik."
"Hahaha ... kamu bisa saja, Sha ... kalau aku sih menilai diriku ya biasa saja," balas Bu Sara dengan tertawa di sana.
"Kamu biasa saja Sayang ... cuma bagiku kamu itu luar biasa," balas Belva dengan menggenggam tangan Sara di sana.
Abraham dan Marsha yang melihatnya pun tertawa. Sungguh, baru kali ini mereka melihat tetangganya itu bisa berbicara begitu manis kepada istrinya. Mungkin memang, jika hanya berdua dengan Bu Sara, Pak Belva sesungguhnya adalah pribadi yang begitu manis.
"Sweetnya," balas Marsha.
"Tuh, Mas ... jangan begitu. Tidak enak sama Mas Bram dan Marsha," balas Sara kepada suaminya.
Sementara Belva tampak bersikap santai saja, "Bagi kita Bram dan istrinya sudah seperti keluarga, Sayang ... seperti Amara dan Rizal. Mereka sudah kayak adikku," balas Belva.
"Makasih Bos ... sungguh, jika bukan karena Bos ... kami masih akan tinggal di apartemen. Bos yang sudah membantu kami begitu banyak, dan juga mendapatkan keluarga yang terjalin bukan dari darah, tapi hari kedekatan hati. Bagi kami berdua ini adalah anugerah," balas Abraham.
Belva yang mendengarkan ucapan Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Intinya ... kalau kamu butuh apa-apa, bilang saja Bram ... jangan sungkan. Kamu, Marsha, dan Mira sudah seperti keluargaku sendiri," balas Pak Belva dengan sungguh-sungguh.
Belum Abraham merespons dengan memberikan jawaban, rupanya Bu Sara kali ini turut berbicara, "Pun, aku ... aku dan Mas Belva jika butuh pertolongan juga tidak akan segan-segan minta tolong kepada kalian. Kamu, Marsha ... sudah seperti adik buatku. Aku hanya sendiri, anak tunggal, dan kedua orang tuaku sudah tiada, jadi ya bertemu kalian, bertemu Mama Diah itu rasanya aku kembali memiliki keluarga," balas Bu Sara.
"Terima kasih Bu Sara ... saya juga merasa memiliki keluarga," balas Marsha.
"Kalau kamu, orang tua masih ada Sha?" tanya Bu Sara lagi.
Perlahan Marsha menganggukkan kepalanya, "Masih ada Bu ... tetapi Mama dan Papa sudah bercerai, dan baur-baru ini juga saya baru tahu kalau Mama dan Papa sudah menikah dengan pasangan baru mereka masing-masing," ucap Marsha dengan menghela nafas.
"Sabar ya Sha ... kamu masih memiliki orang tua, itu Mama Diah ... itu sudah seperti seorang Ibu untuk kamu," balas Bu Sara.
__ADS_1
"Benar Bu ... justru Marsha itu seperti anak kandungnya, dan saya justru anak pungutnya," balas Abraham.
Mendengar jawaban dari Abraham pun baik Marsha, Belva, dan Sara pun tertawa. Rasanya begitu lucu kala Abraham merasa bahwa anak kandungnya Mama Diah adalah Marsha, sementara dirinya adalah anak pungut.