Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Kita Akhiri Saja!


__ADS_3

Pagi ini, Marsha cukup beruntung karena rupanya Mama Saraswati dan Papa Wisesa menghadiri pekerjaannya di salah Hotel Berbintang di Jakarta. Sehingga tidak masalah bagi Marsha untuk melewatkan sarapan. Wanita itu memilih untuk mengurung dirinya di kamar, sama sekali tidak berniat untuk sarapan.


Badannya terasa begitu sakit, inti tubuhnya pun sama, juga hatinya yang begitu remuk rasanya. Semuanya membuat Marsha seakan tak ingin menemui siapa pun. Sementara Melvin baru saja terbangun. Pria itu melenggang ke kamar mandi begitu saja, setelahnya barulah Melvin mendekati Sara yang saat ini tengah duduk di sudut sofa di dalam kamar itu.


“Ayang,” sapanya dengan lirih.


Bukannya Melvin tidak ingat, Melvin ingat dengan semua potongan adegan yang dia alami bersama Marsha semalam. Bagaimana tangisan dan rintihan Marsha, Melvin mendengarnya. Akan tetapi, terguyur hasrat yang membuat Melvin bergerak laksana bola api yang tidak terkendalikan lagi.


Kali ini Marsha hanya diam, tidak menjawab sapaan dari suaminya itu. Hatinya masih terlampau sakit dengan peristiwa semalam. Hingga akhirnya, Melvin berlutut di hadapan Marsha yang saat itu duduk di sofa, dan berusaha menggenggam tangan istrinya.


“Ayang, maafkan aku,” ucap Melvin kali ini.


Akan tetapi, Marsha justru membuang mukanya dan begitu enggan untuk menatap wajah suaminya itu. Hatinya masih terlalu sakit, sekadar menatap wajah Melvin pun rasanya tak sudi.


“Yang, maafkan aku … semalam aku terlewat batas yah?” tanya Melvin kali ini.


Pertanyaan Melvin nyatanya seolah-olah menabur garam di luka Marsha yang berdarah dan menganga. Itu adalah sebuah pertanyaan retoris yang tidak membutuhkan jawaban. Akan tetapi, justru Melvin masih bertanya apakah dirinya kelewat batas. Rasanya Marsha ingin kabur dan tidak bertemu dengan suaminya itu.


“Apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanya Melvin kali ini.


Tidak dipungkiri Melvin pun merasa bersalah sekarang, Hasrat yang begitu gila semalam ternyata benar-benar menyakiti Marsha secara fisik dan psikis. Hasrat yang menggebu dan tidak bisa dibendung itu mengakibat istrinya yang berwajah sembab di pagi hari.


“Kita akhiri saja, Yang,” ucap Marsha dengan lirih kali ini.


Akhirnya kata-kata yang sangat dia benci untuk diucapkan dalam pernikahan itu akhirnya terucap juga. Seakan Marsha meminta kepada Melvin untuk melepaskannya.


“Apa?” tanya Melvin seakan tidak percaya.

__ADS_1


“Kita akhiri saja, semua ini … rumah tangga kita,” balas Marsha.


Memang rasanya begitu sesak di saat meminta kepada orang yang sudah berdiri di amping kita untuk mengakhiri sebuah hubungan. Pun sama halnya dengan Marsha yang merasa dadanya sangat sesak, bahkan sekarang wanita itu berlinangan air mata saat meminta kepada Melvin untuk mengakhiri pernikahannya.


Dengan cepat Melvin menggelengkan kepalanya, “Tidak! Tidak bisa, Yang … rumah tangga kita tidak akan berakhir,” balas pria itu.


“Apa alasan untuk mempertahankan semua ini?” tanya Marsha dengan menyeka air mata yang jatuh di pipinya.


Marsha merasa di titik bahwa dirinya tidak memiliki alasan lain untuk mempertahankan rumah tangganya. Selain rasa hambar yang menyelimuti, diperlakukan buruk oleh suami sendiri menjadi alasan Marsha untuk menyudahi semuanya. Mungkin memang Tuhan sudah menggariskan bahwa hubungannya dengan Melvin hanya seumur jagung saja.


“Cinta … aku masih cinta kamu, Yang,” jawab Melvin.


Saat Melvin mengatakan cinta, nyatanya justru Marsha tertawa dengan hambar. Tawa yang bercampur dengan isakan tangisnya.


“Cinta kamu bilang? Cinta yang mana? Cinta yang seperti apa?” tanya Marsha.


Hingga kini Marsha melepas paksa kemeja yang dia pakai, menunjukkan noda merah kebiruan, nyaris ungu yang bersarang di dadanya. Juga dengan gundukan buah persiknya yang membiru, pergelangan tangan yang tertancap goresan kuku.


“Cinta yang seperti ini? Ha! Jawab aku, apa seperti ini yang dinamakan cinta?” tanya Marsha kepada suaminya itu.


Melihat semua jejak yang tertinggal di tubuh Marsha membuat Melvin memejamkan matanya. Tidak mengira bahwa hasrat yang membuatnya melukai istrinya sendiri. Tangan Melvin kini bergerak dan hendak menyentuh semua luka di tubuh Marsha, tetapi dengan cepat Marsha menepis tangan itu.


“Jangan sentuh aku! Aku tidak mau lagi kamu sentuh,” teriak Marsha kali ini.


Ya, Marsha berteriak. Perasaan di hatinya terlalu sakit. Hingga Marsha meluap-luap sekarang ini. Perasaan di hatinya terlalu terluka, hingga Marsha tidak ingin lagi disentuh oleh suaminya itu.


Mendengar teriak dan tepisan kasar dari Marsha, akhirnya Melvin menarik kembali tangannya. Tangan itu luruh dengan begitu saja.

__ADS_1


“Maafkan aku, Ayang … aku kebablasan,” ucap Melvin.


“Lebih baik kita akhiri saja, pernikahan kita tidak akan pernah bahagia,” ucap Marsha lagi.


“Tidak! Aku tidak akan pernah mengakhiri rumah tangga kita. Selamanya, tidak akan berakhir. Kenapa kamu justru ingin mengakhiri semua ini?” tanya Melvin kepada Marsha.


“Aku … mencintai … pria … lain,” ucap Marsha dengan menggigit bibir bagian dalamnya.


Mungkin ini adalah momen yang bisa Marsha gunakan untuk lepas dari jerat pernikahan dengan aktor papan atas itu. Dengan mengatakan bahwa dia mencintai pria lain, mungkin saja membuat Melvin menyerah dan melepaskannya.


Akan tetapi, justru seringai senyuman terbit di sudut wajah Melvin. Ya, pria itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Tidak! Aku tidak percaya. Kamu tidak mungkin mencintai pria lain karena aku tahu bahwa kamu hanya mencintaiku,” balas Melvin.


Sebuah pengungkapan percaya diri seorang Melvin bahwa tidak mungkin Marsha mencintai pria lain. Marsha adalah wanita yang setia dan tidak mungkin bermain hati dengan pria lain manapun. Itu adalah keyakinan Melvin kepada istrinya.


“Bagaimana jika itu fakta?” tanya Marsha kemudian.


“Tidak! Aku tidak mempercayai. Lebih baik, kita ke Dokter sekarang Yang … kita berobat dan sembuhkan lukamu itu,” ucap Melvin kali ini.


“Untuk apa ke Dokter? Kamu yang membuatku kesakitan seperti ini, sekarang tidak perlu menawarkan untuk ke Dokter kepadaku,” sahut Marsha dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun rasanya.


Melvin lantas menatap istrinya itu, “Maafkan aku, Yang … semuanya murni salah. Sekarang, aku akan ke lokasi dulu, jika tidak aku akan terlambat. Sekali lagi, maafkan aku,” ucap Melvin.


Dibandingkan dirinya yang terluka dan kesakitan, rupanya Melvin memilih untuk ke lokasi syuting sekarang juga. Pria itu berlalu begitu saja, meninggalkan Marsha di dalam kamar itu, dengan air mata yang masih saja berderai di wajahnya.


“Kamu jahat, Vin … kamu yang melukaiku seperti ini, dan dengan mudahnya kamu meninggalkanku. Sungguh, ini adalah kesakitan dan penghinaan bagiku,” ucap Marsha dengan lirih.

__ADS_1


Ada rasa sakit yang teramat sangat saat Melvin berlalu begitu saja dari hadapannya. Mengapa justru Melvin tidak peka dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Untuk apa mengobati luka di fisik yang terlihat nyata, tetapi tidak ada yang mengobati luka di ahti. Untuk apa Marsha bertahan dalam pernikahan seperti ini, jika tanpa Melvin pun, Marsha bisa mengecap kebahagiaan dalam hidup. Dengan perginya Melvin justru kian memacu semangat Marsha untuk mengakhiri biduk rumah tangganya bersama dengan Melvin. Tidak masalah mengakhiri, sebelum akhirnya bertahan dalam rumah tangga suram dan tidak ada kebahagiaan.


__ADS_2